Oleh : Sitti Nurliani Khanazahrah, M. Ag.
Pagi ini hujan masih mengguyur, setelah semalaman suntuk tidak juga berhenti. Cuaca terasa begitu dingin. Secangkir teh hangat menemani saya membaca rentetan berita di layar ponsel.
Saya lalu membaca berita itu perlahan. Tidak sekaligus. Ada bagian-bagian yang membuat saya berjeda. Seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur ditemukan meninggal dengan cara menggantung diri. Kalimat yang singkat, tetapi beratnya tidak selesai di satu baris. Ia menetap. Ia tinggal.
Usia anak itu terlalu muda untuk menanggung kata-kata seperti keputusan dan keputusasaan, ataupun pilihan hidup. Di umur itu, dunia semestinya masih terbuka. Hari-hari seharusnya diisi oleh hal-hal sederhana seperti berangkat sekolah, bercanda dengan teman, lalu pulang dengan lelah yang wajar. Tetapi kenyataan berbicara lain. Dunia telah lebih dulu menjadi sempit baginya.
Berita-berita kemudian menyusul. Disebutkan bahwa ia tidak mampu membeli buku dan pena. Disebutkan pula bahwa keluarganya tidak pernah menerima bantuan sosial. Lalu ada seorang pejabat yang berbicara tentang kesehatan mental anak. Semuanya terdengar rasional. Semuanya terdengar seperti upaya memahami. Tetapi justru di situ saya merasa ada sesuatu yang luput kita sadari. Kita terlalu cepat menjelaskan, seolah tragedi ini harus segera memiliki sebab yang apik.
Coba kita bayangkan hari-hari anak itu. Bukan untuk menambah dramatisasi, tetapi lebih untuk mengingat bahwa ia adalah manusia. Ia bangun pagi. Ia bersiap ke sekolah. Ia tahu apa yang tidak ia miliki. Dan mungkin secara perlahan, ia telah belajar satu pengalaman paling sunyi yaitu merasa tidak setara.
Pada titik ini, gagasan Axel Honneth (1949) tentang pengakuan menjadi sangat relevan. Honneth menekankan bahwa manusia tidak hanya hidup dari pemenuhan kebutuhan material, tetapi dari pengalaman diakui sebagai subjek yang bermartabat. Pengakuan adalah syarat dasar bagi seseorang untuk merasa dirinya layak berada di dunia.
Bagi anak-anak dari keluarga miskin, kegagalan pengakuan sering kali terjadi secara halus. Mereka hadir di ruang yang sama, tetapi tidak sepenuhnya dilihat. Mereka duduk di kelas yang sama, tetapi membawa beban yang berbeda. Dan ketika dunia tidak memberi tanda bahwa keberadaan mereka dihargai, maka rasa percaya diri mulai terkikis bahkan sebelum mereka sempat bertumbuh.
Ketika seorang anak tidak memiliki buku atau pena, yang hilang bukan hanya alat belajar. Yang hilang adalah rasa setara. Ia menyadari adanya standar yang harus dipenuhi, sementara ia tidak memiliki sarana untuk mencapainya. Dalam bahasa Honneth, ini adalah bentuk pengingkaran pengakuan yang bekerja sangat sunyi. Memang tidak ada hinaan secara terbuka, tetapi ada luka yang menetap.
Anak-anak belum memiliki jarak batin untuk memahami bahwa kemiskinan bukan kesalahan pribadi. Mereka menyerap pesan dunia secara langsung. Tubuh dan perasaan mereka merekamnya tanpa filter. Dan pesan itu sederhana serta kejam, bahwa ada yang kurang pada dirimu.
Sekolah sering kali kita bayangkan sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Tetapi ternyata sekolah juga bisa menjadi ruang tekanan ketika ia bergerak dengan logika yang terlalu seragam. Target harus dicapai. Penilaian harus dilakukan. Lalu dalam situasi seperti ini, perbedaan kondisi hidup murid-murid sering kali tidak terbaca. Anak itu mungkin tidak merasa bodoh, tetapi ia bisa merasa sangat sendirian.
Dalam hal ini, konsep Pierre Bourdieu (1930-2002) tentang kekerasan simbolik membantu kita memahami kedalaman masalah ini. Kekerasan simbolik adalah bentuk kekerasan yang tidak memukul tubuh, tetapi membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia bekerja melalui norma dan standar, serta ekspektasi yang tampak wajar, tetapi sesungguhnya sangat timpang.
Dalam konteks pendidikan, kekerasan simbolik hadir ketika semua anak diukur dengan alat yang sama, tanpa mempertimbangkan titik berangkat yang berbeda. Anak-anak dari keluarga miskin mesti belajar menyesuaikan diri. Mereka mesti belajar menahan rasa malu. Serta mereka mesti belajar menerima posisi bawah sebagai sesuatu yang wajar. Inilah situasi ruang pendidikan kita.
Kekerasan ini sangat jarang disadari sebagai kekerasan, justru karena ia tampak normal. Karena ia dibungkus oleh bahasa prestasi dan disiplin, serta keberhasilan. Anak-anak menyerapnya secara perlahan, lalu menjadikannya bagian dari cara mereka memahami diri sendiri.
Berita lalu bergerak cepat. Kronologi disusun. Pernyataan dikutip. Dan kita sebagai pembaca ikut bersedih. Kita menggelengkan kepala. Lalu secara perlahan hidup kembali berjalan normal. Tetapi justru di situlah kegelisahan muncul. Kita terlalu pandai melanjutkan hidup, seolah kesedihan bisa diselesaikan dengan empati sesaat.
Ketika istilah kesehatan mental anak disebut, saya pribadi merasa perlu sejenak untuk merenung. Istilah ini memang penting, tetapi ia sering kali digunakan terlalu longgar. Seolah-olah persoalan ini berdiri sendiri di dalam diri anak. Padahal, ketika kita membaca melalui kacamata pengakuan dan kekerasan simbolik, terlihat jelas bahwa luka ini bersifat sosial.
Negara kemudian disebut. Kebijakan dipertanyakan. Bantuan sosial dipersoalkan. Semua itu sah. Tetapi sekali lagi, tragedi ini tidak berdiri di satu titik kegagalan. Ia adalah hasil dari banyak lapisan yang saling berkelindan. Keluarga, sekolah, masyarakat, serta negara membentuk satu jaringan makna yang menentukan apakah seorang anak merasa layak untuk bertahan hidup.
Saya tidak ingin tergesa untuk menunjuk siapa yang paling bersalah. Dalam tragedi seperti ini, penunjukan sering kali justru menjadi cara untuk menjaga jarak. Yang lebih penting adalah mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam cara kita hidup bersama. Bahwa dunia yang kita bangun belum cukup ramah bagi mereka yang paling rentan.
Kata memilih, terasa terlalu berat untuk dilekatkan pada seorang anak. Tetapi bahasa kita miskin alternatif. Yang jelas, ia tidak melihat jalan lain. Dunia tidak menawarkan cukup alasan untuk bertahan baginya. Dan kenyataan ini seharusnya mengguncang kita lebih dalam daripada sekadar rasa sedih.
Tragedi ini memaksa kita bertanya ulang tentang makna tanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab hukum atau administratif, tetapi lebih tentang tanggung jawab moral yang paling dasar. Yaitu tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang merasa hidupnya terlalu berat untuk dijalani.
Sering kali kita berkata bahwa anak-anak adalah masa depan. Tetapi ungkapan itu terdengar kosong ketika masa kini bagi mereka justru penuh tekanan. Masa depan tidak pernah lahir dari kekosongan. Ia dibentuk oleh pengalaman sehari-hari. Oleh rasa diakui atau diabaikan. Dan oleh rasa setara atau tersisih.
Anak itu kini telah pergi. Ia tidak lagi membutuhkan buku. Juga tidak lagi membutuhkan pena. Tetapi kita yang ditinggalkan memikul pertanyaan yang jauh lebih berat. Tentang cara kita memahami kemiskinan. Tentang cara kita memaknai pendidikan. Dan tentang sejauh mana kita benar-benar peduli pada yang paling lemah.
Anak itu pergi dengan cara yang paling sunyi. Tetapi kesunyiannya tidak kosong. Ia penuh dengan pertanyaan yang seharusnya terus kita dengar. Tentang keadilan. Tentang pengakuan. Dan tentang dunia seperti apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak.
Kegelisahan yang tersisa setelah itu mungkin tidak perlu segera ditenangkan. Selama kesunyian itu belum sepenuhnya jinak, maka tragedi ini belum benar-benar pergi. Ia tidak berlalu begitu saja. Ia tidak tinggal sebagai berita usang, tetapi lebih sebagai cermin yang perlahan memantulkan wajah kita sendiri.






































