Otokritik terhadap Industri Ekspedisi, Regulasi Negara, dan Perilaku Konsumen dalam Ekonomi Kecepatan
Oleh : Adam Malik*
(peneliti profetik institute dan pengurus MAPPS-Online)
Dari Pengemudi Penumpang ke Kurir Paket
Setelah berdiskusi dan mencermati tanggapan serta saran dari Kak Rizal Pauzi, akademisi Universitas Hasanuddin sekaligus inisiator Masyarakat Pemerhati dan Pengguna Transportasi Online (MAPPS), saya tertarik memperluas pembicaraan tentang nasib pengemudi transportasi daring. Diskusi sebelumnya banyak menyinggung persoalan perlindungan pengemudi, keadilan kemitraan, pendapatan, serta peran pemerintah dalam mengatur industri transportasi berbasis aplikasi.
Kali ini, saya mencoba mengalihkan perhatian ke sektor lain yang tidak kalah penting, yaitu kurir ekspedisi paket daring yang setiap hari mengantarkan barang dari gudang menuju rumah pelanggan. Mereka bukan pengangkut penumpang, tetapi beban kerjanya dalam sejumlah aspek dapat lebih berat, terutama ketika jumlah paket, jarak pengiriman, target penyelesaian, dan risiko fisik bertumpuk dalam satu hari kerja.
Saya sendiri bekerja di sektor ekspedisi elektronik, di lingkungan kerja yang berhubungan dengan pengiriman barang elektronik. Setiap hari saya melihat kurir datang membawa paket di pos security dengan sepeda motor yang bagian belakangnya penuh barang, sementara bagian depan pun terkadang dipenuhi kiriman. Setelah mengambil atau menyerahkan barang, mereka kembali bergerak untuk menyelesaikan pengiriman berikutnya, seolah-olah waktu selalu menjadi sesuatu yang harus dikejar.
Dari pengamatan sederhana itu, muncul pertanyaan yang bagi saya semakin penting: ketika bisnis ekspedisi berlomba menjanjikan pengiriman cepat, apakah perusahaan, pemerintah, dan pelanggan benar-benar memikirkan manusia yang berada di balik setiap paket?
Kita terbiasa membicarakan industri ekspedisi melalui angka transaksi, jumlah paket, kecepatan pengiriman, dan kepuasan pelanggan. Kita jarang membicarakan berapa banyak tenaga yang dikeluarkan kurir untuk mencapai angka-angka tersebut, berapa lama mereka bekerja, atau berapa besar pendapatan bersih yang benar-benar mereka bawa pulang.
Padahal, setiap paket yang tiba di depan rumah merupakan hasil dari rangkaian kerja fisik, keputusan mental, dan risiko yang tidak selalu terlihat oleh penerimanya. Barangkali persoalan terbesar industri ini justru terletak pada kenyataan bahwa barang dapat dilacak dengan teknologi, sementara kondisi manusia yang mengantarkannya sering kali luput dari perhatian.
Manusia di Bawah Logika Kecepatan
Industri pengiriman tumbuh bersama kebiasaan masyarakat yang ingin segala sesuatu menjadi lebih cepat dan mudah. Kita dapat membeli barang hanya dengan beberapa sentuhan layar, membayar secara digital, lalu menunggu pesanan tiba tanpa perlu meninggalkan rumah.
Kemudahan ini tentu memiliki manfaat ekonomi, tetapi kemudahan bagi pelanggan tidak muncul dengan sendirinya karena ada pekerja yang menjalankan seluruh proses di belakang layar. Persoalannya muncul ketika kecepatan yang dinikmati konsumen berubah menjadi tekanan yang harus ditanggung kurir.
Kurir paket dapat menghadapi puluhan, bahkan ratusan pengiriman dalam satu hari, bergantung pada wilayah, sistem distribusi, dan jenis pekerjaannya. Mereka harus memperhitungkan jarak, kondisi jalan, cuaca, alamat yang sulit ditemukan, berat barang, serta pelanggan yang mungkin tidak berada di rumah ketika paket tiba.
Jika pekerjaan itu berlangsung sejak pagi hingga malam, pertanyaan mengenai waktu istirahat, keamanan berkendara, dan pendapatan bersih menjadi semakin mendesak. Kita tidak seharusnya menganggap semua kurir mengalami kondisi yang sama, tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan risiko yang muncul ketika beban kerja tinggi menjadi hal yang dianggap biasa.
Di sinilah kita perlu mempertanyakan makna produktivitas yang digunakan industri ekspedisi. Jika produktivitas hanya dihitung berdasarkan jumlah paket yang berhasil diselesaikan, pekerja yang memaksakan diri mungkin terlihat lebih unggul daripada pekerja yang memilih berhenti sejenak demi keselamatan.
Sistem seperti itu berisiko memberi penghargaan pada kecepatan tanpa cukup memperhitungkan cara kecepatan tersebut dicapai. Perusahaan akhirnya bisa terlihat efisien dalam laporan, sementara biaya kelelahan, risiko kecelakaan, dan kerusakan kesehatan justru ditanggung oleh pekerja.
Williamson et al. (2011) menunjukkan bahwa kelelahan memiliki keterkaitan penting dengan keselamatan, termasuk melalui gangguan kewaspadaan dan kemampuan menjalankan pekerjaan secara aman. Temuan ini memberikan alasan ilmiah untuk mempertanyakan sistem produktivitas yang mengabaikan batas kemampuan fisik dan psikologis pekerja.
Membaca Kurir melalui Karl Marx
Karl Marx membantu kita memahami bahwa pekerjaan bukan sekadar kegiatan seseorang untuk mendapatkan uang, melainkan juga hubungan sosial antara pekerja, pemilik modal, dan proses produksi. Dalam Capital, Marx (1867/1976) menguraikan hubungan antara tenaga kerja, produksi nilai, dan akumulasi modal.
Dalam industri ekspedisi, perusahaan menyediakan jaringan distribusi, gudang, teknologi, dan sistem operasional, sedangkan kurir menyumbangkan tenaga, waktu, keterampilan, kendaraan, atau sumber daya lain sesuai bentuk hubungan kerjanya.
Nilai ekonomi dari layanan pengiriman tercipta melalui gabungan seluruh unsur tersebut, tetapi pembagian manfaat dan risiko di antara para pihak belum tentu berlangsung secara seimbang. Karena itu, pertanyaan kritisnya bukan hanya apakah perusahaan memperoleh keuntungan, melainkan bagaimana keuntungan tersebut dihasilkan dan siapa yang menanggung biaya operasional maupun risiko manusianya.
Marx (1867/1976) juga membahas eksploitasi dalam hubungan produksi, terutama melalui konsep nilai lebih (surplus value), yakni nilai yang dihasilkan tenaga kerja melampaui nilai tenaga kerja yang dibayarkan dalam hubungan produksi kapitalis.
Konsep ini tidak berarti setiap perusahaan ekspedisi otomatis melakukan pelanggaran, sebab penilaiannya memerlukan informasi tentang sistem upah, biaya, kontrak, dan hubungan kerja yang sebenarnya.
Namun, kerangka tersebut mengajak kita memeriksa apakah keuntungan industri bertumpu pada pembagian risiko yang timpang, misalnya ketika perusahaan menikmati pertumbuhan transaksi sementara pekerja harus menanggung biaya kendaraan, bahan bakar, perawatan, dan kelelahan tanpa kompensasi yang sepadan.
Jika penghematan perusahaan justru bergantung pada pengorbanan yang tidak terlihat dari pekerja, efisiensi itu patut dipertanyakan secara serius.
Ada pula konsep alienasi atau keterasingan dalam pemikiran Marx yang relevan untuk membaca kehidupan kurir. Dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, Marx (1844/1959) menguraikan keterasingan pekerja dari hasil, proses, dan makna pekerjaannya.
Seorang kurir mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar target pengiriman, tetapi tidak memiliki kendali yang cukup atas jumlah paket, pembagian rute, tarif, atau aturan yang menentukan penghasilannya.
Ia bergerak dari satu alamat ke alamat lain, tetapi keputusan penting tentang pekerjaannya bisa berada di tangan pihak lain atau sistem yang tidak dapat ia pengaruhi secara langsung. Dalam keadaan seperti itu, pekerjaan berisiko terasa bukan sebagai kegiatan yang sepenuhnya dikuasai pekerja, melainkan sebagai rangkaian tuntutan yang harus dipenuhi agar ia tetap memperoleh penghasilan.
Teknologi digital membuat persoalan ini semakin menarik. Sistem pelacakan, pemindaian paket, pembagian rute, dan penilaian kinerja dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga dapat memperluas pengawasan terhadap pekerja apabila setiap gerakannya dinilai berdasarkan waktu dan hasil.
Ketika teknologi hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan tanpa memperhitungkan kondisi lapangan, manusia dapat diperlakukan seolah-olah sekadar perpanjangan tangan dari sistem. Teknologi seharusnya membantu manusia mengelola pekerjaan, bukan menjadikan manusia sebagai komponen yang harus terus menyesuaikan diri dengan mesin.
Psikologi Kerja: Ketika Tuntutan Melampaui Sumber Daya
Dalam psikologi industri dan organisasi, model Job Demands–Resources menjelaskan bahwa pekerjaan memiliki tuntutan dan sumber daya yang memengaruhi kesehatan serta motivasi pekerja (Demerouti et al., 2001; Bakker & Demerouti, 2007).
Tuntutan kurir mencakup jumlah paket, tekanan waktu, risiko lalu lintas, beban fisik, serta konflik dengan pelanggan, sedangkan sumber daya meliputi pendapatan yang layak, waktu istirahat, perlengkapan keselamatan, dukungan atasan, dan target yang realistis.
Demerouti et al. (2001) menjelaskan bahwa tingginya tuntutan pekerjaan berkaitan dengan kelelahan, sementara keterbatasan sumber daya pekerjaan dapat berkontribusi terhadap pelepasan keterikatan psikologis pekerja dari pekerjaannya.
Artinya, persoalan kurir bukan semata-mata soal kuat atau lemahnya mental seseorang, melainkan juga tentang bagaimana pekerjaan itu dirancang.
Kita juga dapat menggunakan teori Effort–Reward Imbalance dari Johannes Siegrist untuk melihat hubungan antara usaha dan imbalan.
Siegrist (1996) menjelaskan bahwa ketidakseimbangan antara besarnya usaha yang dikeluarkan dan rendahnya imbalan yang diterima dapat menjadi sumber tekanan psikososial yang merugikan kesehatan pekerja.
Seorang kurir mungkin bekerja lebih lama, membawa lebih banyak paket, mengeluarkan biaya kendaraan, dan menghadapi risiko di jalan, tetapi pendapatan bersihnya belum tentu meningkat secara sebanding.
Jika pengorbanan terus bertambah sementara penghargaan yang diterima terasa tidak adil, pekerja dapat mengalami tekanan dan ketidakpuasan yang berkepanjangan.
Karena itu, perusahaan seharusnya tidak hanya mengumumkan besarnya penghasilan kotor, tetapi juga memastikan bahwa struktur kompensasi mempertimbangkan waktu kerja, beban pengiriman, biaya operasional, dan risiko pekerjaan.
Teori psikologi juga membantu kita memahami mengapa kelelahan bukan sekadar perasaan mengantuk. Kurang istirahat dan tekanan berkepanjangan dapat mengganggu perhatian, pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan waktu reaksi ketika berkendara.
Williamson et al. (2011) menguraikan hubungan antara kelelahan, penurunan kemampuan menjalankan tugas, dan risiko keselamatan. Dalam pekerjaan yang berlangsung di jalan raya, persoalan ini menjadi penting karena penurunan konsentrasi dapat membahayakan kurir sekaligus pengguna jalan lainnya.
Maka, target pengiriman yang tidak realistis bukan hanya persoalan manajemen sumber daya manusia, tetapi juga persoalan keselamatan publik.
Kita perlu menghindari kebiasaan menyalahkan individu setiap kali pekerja mengalami kesulitan. Jika kurir terlambat, kehilangan konsentrasi, atau terlihat mudah tersinggung, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ia malas atau tidak profesional.
Perilaku manusia selalu dipengaruhi oleh keadaan, termasuk beban kerja, waktu istirahat, dukungan sosial, dan tekanan ekonomi.
Pendekatan psikologi yang kritis seharusnya tidak hanya bertanya bagaimana pekerja mengelola stres, tetapi juga mengapa sistem kerja terus-menerus menghasilkan kondisi yang membuat stres semakin sulit dihindari.
Kritik kepada Perusahaan Ekspedisi
Perusahaan ekspedisi tentu memiliki kepentingan untuk menjaga biaya operasional, mempercepat pengiriman, dan mempertahankan pelanggan. Namun, kepentingan bisnis tidak dapat dijadikan alasan untuk memperlakukan keselamatan pekerja sebagai urusan pribadi masing-masing kurir.
Perusahaan perlu menilai beban kerja berdasarkan jumlah dan berat paket, jarak rute, kondisi wilayah, serta waktu yang benar-benar diperlukan untuk menyelesaikan pengiriman secara aman. Target yang sama tidak otomatis adil apabila tingkat kesulitan pekerjaan berbeda.
Dalam perspektif Job Demands–Resources, organisasi perlu memperhatikan keseimbangan antara tuntutan kerja dan dukungan sumber daya agar produktivitas tidak dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja (Bakker & Demerouti, 2007).
Sistem insentif juga perlu diperiksa secara kritis. Jika pendapatan sangat bergantung pada jumlah paket yang berhasil diantar, sementara pekerja harus menanggung sendiri sebagian besar biaya dan risiko, sistem itu dapat mendorong mereka mengambil keputusan yang tidak aman demi mempertahankan penghasilan.
Ini bukan berarti semua kurir pasti akan berkendara secara berbahaya, tetapi rancangan insentif yang buruk dapat menciptakan tekanan yang membuat keselamatan terasa seperti penghambat produktivitas.
Perusahaan seharusnya memastikan bahwa pekerja tidak harus memilih antara menyelesaikan target dan menjaga keselamatan dirinya.
Kritik lain menyangkut transparansi pendapatan. Kurir perlu mengetahui bagaimana tarif, komisi, potongan, bonus, dan biaya operasional memengaruhi penghasilan bersih mereka.
Jika perusahaan mengklaim sistemnya memberikan peluang penghasilan yang menarik, klaim itu seharusnya dapat diuji melalui perhitungan yang jelas, bukan hanya melalui angka pendapatan tertinggi yang berhasil dicapai segelintir pekerja.
Keadilan tidak dapat dinilai dari satu contoh keberhasilan, melainkan dari kondisi yang dialami pekerja secara lebih luas.
Perusahaan juga perlu membangun mekanisme pelaporan kelelahan, keluhan mengenai target, dan insiden keselamatan tanpa membuat pekerja takut kehilangan pekerjaan atau pendapatan.
Jika seorang kurir merasa tidak aman untuk berhenti sejenak atau melaporkan beban kerja yang berlebihan, perusahaan perlu mengevaluasi budaya dan sistem pengawasannya.
Keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak paket yang sampai tepat waktu, tetapi juga dari seberapa aman dan layak pekerjaan itu dilakukan.
Perusahaan yang benar-benar modern semestinya mampu menggabungkan efisiensi dengan perlindungan manusia, bukan meminta pekerja menebus kekurangan sistem melalui tenaga mereka sendiri.
Kritik kepada Pemerintah: Regulasi Tidak Boleh Menjadi Formalitas
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perkembangan industri digital dan logistik tidak berjalan di luar prinsip perlindungan pekerja.
Indonesia telah memiliki peraturan mengenai waktu kerja, waktu istirahat, dan kerja lembur bagi pekerja yang tercakup di dalamnya, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021.
Peraturan tersebut mengatur sejumlah aspek hubungan kerja, termasuk waktu kerja dan istirahat serta ketentuan kerja lembur dalam cakupan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan (Pemerintah Republik Indonesia, 2021).
Namun, penerapan aturan harus dinilai berdasarkan status hubungan kerja, kondisi faktual, serta ketentuan yang berlaku, bukan semata-mata berdasarkan sebutan yang digunakan perusahaan untuk menyebut pekerjanya.
Karena itu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap kurir yang bekerja lebih dari delapan jam pasti mengalami pelanggaran, tetapi jam kerja panjang tetap layak diperiksa secara serius.
Masalahnya, pertumbuhan model bisnis sering berlangsung lebih cepat daripada kemampuan regulasi dan pengawasan untuk menjangkaunya.
Kurir dapat bekerja melalui perusahaan ekspedisi, pihak ketiga, atau bentuk kemitraan tertentu, dan setiap hubungan tersebut bisa memiliki karakteristik serta konsekuensi hukum yang berbeda.
Pemerintah perlu memastikan bahwa status kerja tidak digunakan sekadar sebagai label untuk menghindari tanggung jawab yang sebenarnya timbul dari hubungan kerja tersebut.
Yang harus diperiksa adalah kenyataan hubungan antara pekerja dan perusahaan, termasuk siapa yang mengendalikan pekerjaan, bagaimana penghasilan ditentukan, dan siapa yang menanggung risiko.
Pemerintah juga tidak cukup hanya menerbitkan aturan lalu menganggap persoalan telah selesai.
Pengawasan perlu memeriksa praktik jam kerja, pembayaran lembur ketika diwajibkan, keselamatan berkendara, perlindungan sosial, serta mekanisme pengaduan yang dapat diakses pekerja.
Jika pengawasan tidak menjangkau praktik sehari-hari, regulasi berisiko menjadi dokumen yang terlihat tegas tetapi tidak terasa dalam kehidupan pekerja.
Negara harus hadir bukan hanya ketika industri tumbuh dan transaksi meningkat, tetapi juga ketika pekerja membutuhkan perlindungan dari risiko yang tidak mampu mereka tanggung sendiri.
Kritik terhadap pemerintah juga perlu diarahkan pada proses penyusunan kebijakan. Regulasi yang baik harus mempertimbangkan suara kurir, perusahaan, pelanggan, ahli keselamatan kerja, dan kelompok masyarakat yang memahami kondisi lapangan.
Jika kebijakan dibuat tanpa data mengenai waktu kerja, penghasilan bersih, kecelakaan, dan beban pengiriman, pemerintah berisiko menyusun aturan berdasarkan gambaran industri yang terlalu sederhana.
Negara tidak boleh hanya menjadi fasilitator pertumbuhan bisnis, tetapi harus memastikan bahwa pertumbuhan itu berlangsung dengan pembagian manfaat dan risiko yang lebih adil.
Kritik kepada Pelanggan: Jangan Hanya Melihat Paket yang Terlambat
Kita sebagai pelanggan juga perlu melakukan otokritik. Ketika paket belum tiba sesuai perkiraan, kita sering langsung merasa dirugikan, menghubungi kurir berulang kali, atau bahkan melampiaskan kemarahan kepada orang yang mengantarkan barang.
Padahal, kurir belum tentu memiliki kendali atas proses penyortiran, pembagian rute, jumlah paket yang harus dibawa, atau perubahan jadwal di gudang.
Kita melihat paket yang terlambat, tetapi tidak selalu melihat rangkaian pekerjaan yang harus dilalui sebelum paket itu sampai ke rumah.
Dalam psikologi sosial, terdapat konsep fundamental attribution error, yaitu kecenderungan menilai perilaku orang lain berdasarkan karakteristik pribadinya sambil kurang mempertimbangkan pengaruh situasi.
Ross (1977) membahas bagaimana manusia dapat melakukan kekeliruan atribusi ketika menjelaskan perilaku orang lain, termasuk dengan memberikan penekanan berlebihan pada faktor disposisional dibandingkan keadaan yang memengaruhi perilaku tersebut.
Ketika kurir terlambat, kita mungkin langsung menganggapnya malas, tidak disiplin, atau tidak becus, padahal ia bisa menghadapi kemacetan, cuaca buruk, alamat yang tidak jelas, atau beban pengiriman yang terlalu besar.
Kita menilai orang yang terlihat di depan mata, tetapi tidak mengetahui sistem yang membentuk situasinya.
Cara berpikir seperti ini membuat kemarahan mudah diarahkan kepada pekerja yang memiliki kendali terbatas atas masalah tersebut.
Tentu saja, pelanggan berhak memperoleh layanan yang baik dan menyampaikan keluhan ketika terjadi keterlambatan atau kesalahan pengiriman.
Namun, hak tersebut tidak memberikan alasan untuk menghina atau memperlakukan kurir secara tidak manusiawi.
Jika masalahnya berkaitan dengan sistem, pelanggan sebaiknya menggunakan saluran pengaduan perusahaan dan meminta penyelesaian yang jelas.
Menuntut hak dan menghormati pekerja bukanlah dua hal yang bertentangan.
Ada ironi dalam kebiasaan belanja daring kita. Kita menginginkan barang tiba secepat mungkin, biaya pengiriman tetap murah, layanan mudah digunakan, dan semua proses berlangsung tanpa hambatan, tetapi jarang memikirkan siapa yang menanggung biaya dari seluruh kenyamanan tersebut.
Kita menghendaki kecepatan sebagai konsumen, sementara manusia yang menyediakan kecepatan itu sering tidak kita anggap sebagai bagian penting dari pengalaman belanja.
Dalam keadaan seperti ini, kemanusiaan perlahan terkikis bukan hanya oleh keputusan perusahaan, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat yang menganggap layanan cepat sebagai sesuatu yang harus tersedia tanpa memedulikan proses di baliknya.
Bagaimana Kurir Mempertahankan Kestabilan Diri?
Kurir perlu menjaga keselamatan dan kestabilan psikologisnya, tetapi tanggung jawab tersebut tidak boleh digunakan untuk memindahkan seluruh persoalan sistem kerja kepada individu.
Pekerja dapat berusaha mengatur istirahat, mencatat waktu kerja dan pengeluaran, membangun komunikasi dengan rekan kerja, serta melaporkan kondisi yang membahayakan keselamatan.
Namun, upaya pribadi tidak akan cukup jika target tidak realistis, pendapatan tidak sebanding dengan beban, atau pekerja tidak memiliki ruang untuk menyampaikan keberatan.
Dalam kerangka Job Demands–Resources, dukungan organisasi dan ketersediaan sumber daya kerja merupakan bagian penting dalam mengelola dampak tuntutan pekerjaan (Bakker & Demerouti, 2007).
Karena itu, kesehatan pekerja harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama bagi pihak yang merancang dan mengendalikan sistem kerja.
Keselamatan di jalan harus menjadi prioritas, bahkan ketika target belum selesai.
Kelelahan berat dapat mengganggu konsentrasi dan waktu reaksi, sehingga berhenti di tempat aman dan melaporkan kendala kerja lebih masuk akal daripada memaksakan diri berkendara dalam kondisi berbahaya.
Kurir juga perlu memahami bahwa keberanian bukan berarti mengabaikan risiko, dan profesionalisme bukan berarti selalu berkata sanggup terhadap setiap tuntutan.
Pekerja berhak menjaga dirinya agar tetap dapat bekerja dan menjalani kehidupan di luar pekerjaannya.
Secara psikologis, pekerja juga membutuhkan ruang untuk memulihkan diri, dukungan sosial, dan kesempatan membicarakan tekanan yang dialami.
Jika tekanan kerja terus mengganggu tidur, konsentrasi, emosi, atau kehidupan sehari-hari, mencari bantuan dari orang tepercaya maupun tenaga profesional merupakan langkah yang wajar.
Akan tetapi, perusahaan harus ikut menyediakan kondisi yang memungkinkan pemulihan tersebut, termasuk waktu istirahat yang memadai dan prosedur kerja yang tidak mendorong pengorbanan keselamatan.
Tidak adil jika pekerja diminta terus memperkuat mentalnya sementara sumber tekanan dibiarkan berjalan tanpa evaluasi.
Kita juga perlu mengubah pandangan bahwa kelelahan adalah bukti utama kerja keras.
Orang yang bekerja sampai larut malam mungkin memang menunjukkan dedikasi, tetapi itu tidak otomatis berarti sistem yang membuatnya bekerja demikian sudah adil atau sehat.
Tubuh manusia bukan mesin yang dapat terus dipaksa beroperasi tanpa konsekuensi, dan istirahat bukan hadiah yang hanya pantas diterima setelah semua target tercapai.
Pekerja yang menjaga batas keselamatannya bukan pekerja yang malas, melainkan manusia yang memahami bahwa hidupnya lebih luas daripada daftar pengiriman.
Kemanusiaan yang Terkikis oleh Sistem
Pada akhirnya, persoalan kurir paket membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar mengenai arti kemajuan ekonomi.
Kita dapat membanggakan teknologi pelacakan, gudang yang semakin terorganisasi, dan layanan yang mampu mengantarkan barang dalam waktu singkat, tetapi semua itu belum cukup untuk disebut kemajuan apabila kondisi manusia yang menjalankannya diabaikan.
Keberhasilan industri seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah transaksi dan kecepatan pengiriman, tetapi juga dari kualitas pekerjaan, keselamatan, keadilan pendapatan, dan ruang hidup yang dimiliki pekerjanya.
Tanpa ukuran tersebut, efisiensi hanya menjadi istilah yang indah untuk menggambarkan bagaimana lebih banyak pekerjaan dapat diselesaikan dengan mengorbankan tenaga manusia.
Kritik Karl Marx mengingatkan kita agar tidak hanya melihat barang dan keuntungan, tetapi juga hubungan sosial yang memungkinkan keduanya tercipta.
Psikologi kerja melalui Demerouti et al. (2001), Bakker dan Demerouti (2007), serta Siegrist (1996) membantu kita memahami bahwa tuntutan yang tinggi tanpa sumber daya dan imbalan yang memadai dapat menggerus kesejahteraan pekerja.
Sementara itu, psikologi sosial melalui Ross (1977) mengingatkan pelanggan agar tidak buru-buru menyalahkan individu tanpa memahami situasinya.
Ketiga pendekatan ini membawa kita pada satu kesimpulan: penderitaan pekerja tidak selalu lahir dari kelemahan pribadi, tetapi dapat muncul dari sistem yang menempatkan tuntutan bisnis di atas kemampuan manusia.
Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup berupa nasihat agar kurir lebih sabar, lebih kuat, atau lebih pandai mengelola stres.
Perusahaan ekspedisi perlu mengevaluasi target, sistem insentif, pendapatan bersih, dan perlindungan keselamatan.
Pemerintah harus memastikan regulasi dapat diterapkan, pengawasan berjalan, serta kebijakan disusun dengan mendengar pengalaman pekerja yang menjalankan pekerjaan di lapangan.
Pelanggan pun perlu belajar bahwa keterlambatan sebuah paket tidak otomatis membenarkan kemarahan terhadap kurir yang membawanya.
Sementara itu, para kurir berhak memperoleh dukungan agar dapat bekerja dengan aman tanpa harus menganggap pengorbanan kesehatan sebagai syarat untuk bertahan hidup.
Saya melihat para kurir datang dengan sepeda motor yang dipenuhi paket, lalu kembali bergerak mengejar pengiriman berikutnya.
Di mata sebagian orang, mereka mungkin hanya bagian kecil dari layanan yang membuat belanja daring terasa mudah, tetapi sesungguhnya mereka adalah manusia yang menopang salah satu mata rantai penting ekonomi modern.
Setiap paket memiliki alamat tujuan, nomor resi, dan perkiraan waktu tiba, sedangkan pekerja yang mengantarkannya memiliki tubuh yang bisa lelah, pikiran yang bisa tertekan, dan kehidupan yang membutuhkan waktu di luar pekerjaan.
Jika industri mampu memastikan paket sampai ke tujuan, sudah semestinya perusahaan, pemerintah, dan masyarakat juga memikirkan bagaimana manusia yang mengantarkannya dapat pulang dengan selamat.
Sebab, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa cepat barang berpindah dari gudang ke rumah pelanggan.
Ukuran kemajuan juga terletak pada apakah orang yang mengantarkan barang itu tetap memiliki kesehatan, martabat, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang layak.
Jika kecepatan pengiriman dibayar dengan kelelahan yang terus-menerus, risiko keselamatan yang berlebihan, dan ketidakadilan yang dibiarkan, maka ada sesuatu yang keliru dalam cara kita membangun industri ini.
Paket boleh dituntut tiba tepat waktu, tetapi kemanusiaan tidak boleh menjadi korban yang dianggap wajar dari sebuah target.








































