MataKita.co, Sidrap – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar program GERAM atau Gerakan Petani Melawan Myalgia di Kelurahan Batu, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mencegah myalgia atau nyeri otot yang dapat muncul akibat aktivitas kerja sehari-hari.
Kegiatan GERAM dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada 22 Juli 2026 di Maccingi, Kelurahan Batu, serta 6 Agustus 2026 di Lingkungan 3 Wala, Kelurahan Batu. Sebanyak 31 petani mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Mahasiswa KKN-PK Unhas, Asgar Muntazar, mengatakan program GERAM dirancang dengan melihat aktivitas petani yang banyak melibatkan gerakan berulang, posisi tubuh tertentu dalam waktu lama, serta pekerjaan fisik yang berpotensi menimbulkan keluhan pada otot.
“Melalui GERAM, kami ingin memberikan pemahaman kepada petani bahwa keluhan nyeri otot dapat dicegah, salah satunya dengan memperhatikan posisi tubuh ketika bekerja dan melakukan latihan sederhana secara mandiri. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas pertanian sehari-hari,” kata Asgar.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai myalgia, faktor risiko yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, serta langkah pencegahannya melalui penerapan prinsip ergonomi kerja dan latihan mandiri.
Kegiatan diawali dengan pengisian pre-test untuk mengukur pengetahuan awal petani mengenai myalgia dan upaya pencegahannya. Setelah itu, peserta mendapatkan materi secara interaktif mengenai risiko keluhan nyeri otot yang dapat muncul akibat aktivitas pertanian.
Penyampaian materi dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung. Mahasiswa memberikan contoh posisi kerja yang ergonomis serta sejumlah latihan sederhana yang dapat dilakukan petani secara mandiri.
Menurut Asgar, pendekatan praktik dipilih agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan oleh peserta.
“Petani setiap hari berhadapan dengan aktivitas fisik. Karena itu, kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan posisi kerja yang lebih ergonomis dan latihan mandiri yang sederhana,” ujarnya.
Sesi edukasi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Para petani diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman maupun keluhan yang berkaitan dengan aktivitas kerja mereka.
Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan setelah memperoleh edukasi dan mengikuti praktik.
Hasil evaluasi menunjukkan, 25 dari 31 peserta atau 80,65 persen mengalami peningkatan nilai pengetahuan dibandingkan hasil pre-test. Sementara itu, enam peserta atau 19,35 persen tidak mengalami kenaikan nilai karena telah memperoleh nilai sempurna 100 sejak pre-test dan mampu mempertahankan nilai tersebut pada post-test.
Capaian tersebut melampaui indikator keberhasilan program yang ditetapkan, yakni sedikitnya 70 persen peserta mengalami peningkatan nilai pengetahuan.
“Hasil evaluasi ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman sebagian besar peserta. Kami berharap kebiasaan kerja yang lebih aman dan ergonomis dapat terus diterapkan sehingga petani tetap aktif dan produktif serta risiko keluhan nyeri otot dapat diminimalkan,” kata Asgar.
Program GERAM mengusung pesan “Kerja Ergonomis, Otot Harmonis, Petani Tetap Aktif dan Produktif.”







































