Matakita.co, Gorontalo — Mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) mengedukasi warga Desa Motolohu, Kecamatan Randangan, mengenai pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos.
Program tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat mengelola sampah sejak dari rumah sekaligus mengurangi penumpukan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah desa, aparat desa, kader kesehatan, serta masyarakat.
Penyuluhan dan praktik pengolahan sampah dilakukan di lima dusun, yakni Huluwone, Singatange Utara, Singatange Selatan, Tihungo Utara, dan Tihungo Selatan.
Sebelum melakukan praktik pembuatan kompos, mahasiswa KKD UMGO bersama DLH dan aparat Desa Motolohu memberikan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta dampak membuang sampah sembarangan.
Masyarakat juga diperkenalkan pada jenis-jenis sampah, terutama perbedaan antara sampah organik dan nonorganik serta cara pengelolaannya.
Edukasi tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya membuang sampah, tetapi mulai melakukan pemilahan berdasarkan jenisnya sejak dari lingkungan rumah tangga.
Galon Bekas Jadi Wadah Kompos
Selain memberikan edukasi, mahasiswa KKD UMGO membuat sarana sederhana untuk mendukung pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Sebanyak sembilan wadah sampah organik untuk pembuatan kompos dibuat dengan memanfaatkan galon bekas. Sementara itu, tiga tempat sampah nonorganik dibuat menggunakan bambu.
Galon bekas dimodifikasi menjadi wadah yang dapat digunakan masyarakat untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
Mahasiswa juga membuat papan edukasi tiga dimensi yang memuat informasi mengenai waktu yang dibutuhkan berbagai jenis sampah untuk terurai.
Media tersebut digunakan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai dampak sampah terhadap lingkungan, khususnya sampah yang membutuhkan waktu lama untuk terurai.
Setelah sarana pengelolaan sampah dibuat, mahasiswa KKD UMGO mendapatkan pembekalan dari DLH mengenai tahapan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
Pembekalan tersebut juga melibatkan aparat desa dan kader kesehatan. Pengetahuan yang diperoleh selanjutnya diteruskan kepada masyarakat melalui penyuluhan dan praktik di masing-masing dusun.
Dalam praktiknya, warga diajarkan memanfaatkan sampah yang mudah terurai, seperti sisa makanan dan bahan organik rumah tangga lainnya, sebagai bahan pembuatan kompos.
Warga tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pengolahan, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses pembuatan kompos.
Wadah berbahan galon bekas yang telah dibuat kemudian diserahkan kepada masyarakat di masing-masing dusun untuk digunakan dalam pengolahan sampah organik secara mandiri.
Dorong Kebiasaan Memilah Sampah
Koordinator Desa KKD UMGO Desa Motolohu mengatakan, program tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan masyarakat memilah dan mengolah sampah dari rumah.
Menurut dia, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari terlaksananya penyuluhan, tetapi juga dari keberlanjutan pengelolaan sampah setelah masa KKD berakhir.
“Melalui program ini, kami berharap masyarakat tidak lagi melihat sampah rumah tangga hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah organik sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang berguna,” ujarnya.
“Karena itu, kami memberikan edukasi sekaligus sarana agar masyarakat dapat melanjutkan pengolahannya secara mandiri,” lanjutnya.
Ia mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program. Pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah dinilai dapat membantu mengurangi sampah yang menumpuk di lingkungan.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKD UMGO juga ingin memperkenalkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dengan cara sederhana dan memanfaatkan barang yang tersedia di sekitar masyarakat.
Sampah organik yang sebelumnya langsung dibuang dapat diolah menjadi kompos untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
Kolaborasi mahasiswa KKD UMGO dengan DLH, pemerintah desa, aparat desa, kader kesehatan, dan masyarakat diharapkan dapat mendorong pengelolaan sampah secara berkelanjutan sekaligus menciptakan lingkungan Desa Motolohu yang lebih bersih dan sehat.








































