GOWA,Matakita.co – Dalam rangka merealisasikan hilirisasi ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi tepat guna secara langsung di tengah masyarakat, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Jurusan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) sukses menyelenggarakan program pemberdayaan komprehensif bagi Kelompok Operator Perahu Penyeberangan. Kegiatan yang mengusung misi keselamatan transportasi perairan dan kemandirian ekonomi lokal ini dipusatkan secara intensif di Dusun Taeng, Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Fokus utama dari program ini adalah pelaksanaan alih teknologi melalui pelatihan teknis perawatan berkala serta taktik perbaikan kerusakan (troubleshooting) mandiri pada mesin bensin penggerak tipe OverHead Valve (OHV) berkapasitas 5,5–12HP. Kegiatan yang berpusat di bantaran Sungai Jeneberang ini diikuti oleh 12 orang operator perahu penyeberangan.
Program PkM ini dipimpin oleh Zulhaji selaku Ketua Tim Pengabdi, didampingi oleh jajaran dosen pakar otomotif sebagai anggota tim pelaksana, yaitu Ahmad Kurniawan, Muhammad Fadil Syafiuddin, dan Darmawang. Sinergi akademik ini juga diperkuat oleh keterlibatan aktif mahasiswa lintas generasi Jurusan Teknik Otomotif FT UNM angkatan 2024, yakni Glenn Kevin dan Muhammad Aedin, sebagai instruktur pendamping lapangan yang sekaligus mengimplementasikan skema rekognisi SKS dalam program Merdeka Belajar.
Ketua Tim, Zulhaji, menjelaskan bahwa mesin katinting adalah urat nadi transportasi di Sungai Jeneberang. Kerusakan di tengah sungai sering terjadi akibat minimnya perawatan.
“Kami melihat persoalan riil di lapangan. Operator sering panik saat mesin brebet di tengah sungai. Padahal 90 persen kerusakannya hanya karburator kotor, busi mati, atau oli telat ganti. Melalui pelatihan ini, kami ingin operator mandiri, bisa servis sendiri, hemat biaya, dan keselamatan penumpang terjamin,” ujar Zulhaji (2/9/26)
Transportasi perahu katinting harian di wilayah aliran Sungai Jeneberang yang menjembatani Desa Taeng dengan Kelurahan Parangtambung memiliki peran yang sangat krusial. Moda transportasi air ini menjadi urat nadi utama yang menghubungkan wilayah permukiman antardesa, menggerakkan roda ekonomi pasar tradisional, menjamin kelancaran jalur distribusi barang, serta memfasilitasi akses anak-anak sekolah menuju lembaga pendidikan. Kendati memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi mobilitas publik, keberlanjutan layanan transportasi ini terus dibayangi oleh berbagai kendala teknis. Berdasarkan analisis situasi yang mendalam, mayoritas operator perahu katinting mengoperasikan armada mereka tanpa dibekali pemahaman dasar di bidang teknik mesin atau otomotif.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan geografis, di mana bengkel spesialis yang memiliki kompetensi memperbaiki mesin bensin tipe OHV penggerak perahu sangat jarang ditemukan di lingkar wilayah Kecamatan Pallangga. Untuk membawa mesin yang rusak ke pusat servis perkotaan, para operator harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan biaya logistik yang tidak sedikit. Alhasil, para operator perahu kerap terpaksa melakukan pembongkaran komponen secara otodidak berdasarkan tebakan semata. Praktik penanganan yang tidak standar ini sering kali berujung fatal, seperti rusaknya ulir baut, penyetelan komponen yang tidak presisi, hingga mempercepat penurunan performa mesin yang berakibat pada pembengkakan biaya belanja suku cadang operasional bulanan harian. Bahkan, risiko paling tinggi adalah terjadinya kegagalan mesin (engine failure) mendadak saat perahu sedang membawa muatan penumpang penuh di tengah derasnya arus Sungai Jeneberang.
Merespons urgensi permasalahan tersebut, Ketua Tim Pelaksana PkM FT-UNM, Zulhaji, menjelaskan bahwa program pengabdian masyarakat ini dirancang secara berjenjang dari hulu hingga hilir untuk mengintervensi masalah kompetensi mitra. “Pendekatan kami tidak lagi sekadar memberikan ceramah teoretis di dalam ruangan, melainkan menitikberatkan pada metode pendampingan partisipatif aktif. Kami bersama tim dosen dan mahasiswa melatih aspek motorik para operator perahu di Desa Taeng agar akrab dengan prosedur baku manufaktur dan mampu menggunakan peralatan mekanik khusus yang presisi (Special Service Tools / SST). Kemandirian ini adalah kunci utama keselamatan pelayaran sungai,” jelasnya di sela-sela penutupan kegiatan.
Materi yang diberikan sangat praktis: pengenalan mesin GX160/GX200, perawatan harian, mingguan, bulanan, cara membersihkan karburator, ganti busi, ganti oli, hingga atasi as panjang bergetar dan baling-baling terlilit sampah.
Struktur pelaksanaan program PkM ini berjalan sukses melalui lima tahapan metodologi yang terukur. Dimulai dari tahap sosialisasi wilayah dan rembug mitra guna memetakan jenis kerusakan mesin yang paling dominan, dilanjutkan dengan pembekalan teori dasar siklus pembakaran mesin empat langkah. Tahap krusial terletak pada lokakarya (workshop) praktik langsung (hands-on) berskala kelompok kecil. Dalam sesi praktik ini, setiap operator dibimbing secara intensif oleh para dosen dan mahasiswa Teknik Otomotif UNM untuk melakukan pembongkaran blok mesin, melakukan kalibrasi celah katup masuk (intake) dan katup buang (exhaust) menggunakan instrumen alat ukur feeler gauge sesuai standar spesifikasi pabrikan (0.15 mm ± 0.02 mm), membersihkan kerak karbon sistem pengapian busi, hingga membongkar dan membersihkan komponen halus saluran stasioner (main jet dan slow jet) pada sistem bahan bakar karburator.
Salah satu operator mengatakan, “Sebelumnya kalau mesin mati, kami langsung panggil bengkel, bisa 2 jam baru datang. Sekarang Alhamdulillah sudah paham, bisa bersihkan sendiri karbunya.”
Lebih lanjut, tim pengabdi bersama mahasiswa juga menginisiasi pembentukan Posko Servis Desa swadaya di area dermaga penyeberangan Desa Taeng sebagai wadah penerapan teknologi tepat guna berkelanjutan. Melalui metode pengujian berbasis pre-test dan posttest mekanis yang ketat, program ini menorehkan hasil yang sangat signifikan. Data evaluasi akhir mencatat bahwa 85% peserta pelatihan kini telah dinyatakan lulus kompeten dan mahir dalam mengeksekusi Standard Operating Procedure (SOP) pemeliharaan preventif secara berkala. Selain itu, 75% dari total peserta terbukti sukses menguasai teknik mitigasi kegagalan mesin taktis (troubleshooting), di mana mereka mampu mendiagnosis dan menghidupkan kembali mesin yang sengaja dimanipulasi mati oleh tim dalam simulasi keadaan darurat di atas air.
Sebagai tonggak keberlanjutan pasca program, Tim PkM melaksanakan penyerahan aset hibah berupa Paket Peralatan Mekanik Mandiri lengkap beserta Buku Modul Praktis Servis Mesin Katinting secara legal melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST). Serah terima fisik ini disaksikan langsung secara formal oleh jajaran perangkat pemerintah Desa Taeng, Kecamatan Pallangga. Buku panduan teknik saku tersebut dirancang secara visual dengan ilustrasi berwarna yang informatif, menggunakan bahasa universal yang ringkas, serta dicetak di atas material khusus yang tahan terhadap percikan air agar awet disimpan di dalam kompartemen perahu katinting sebagai buku saku navigasi mekanis darurat sehari-hari.

Kepala Desa Taeng memberikan apresiasi dan respons positif atas dedikasi nyata yang ditunjukkan oleh civitas akademika Jurusan Teknik Otomotif Universitas Negeri Makassar. Pihak pemerintah desa mengakui bahwa program intervensi teknologi ini memberikan dampak nyata pada stabilitas transportasi dan keselamatan warga Desa Taeng yang beraktivitas menyeberangi sungai setiap hari.
Daeng Pari, selaku Ketua Kelompok Operator Perahu Katinting wilayah Sungai Jeneberang Desa Taeng, menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya atas ilmu bermanfaat yang telah dialihkan kepada kelompoknya. “Selama puluhan tahun kami bekerja di air, baru kali ini kami mendapatkan pelatihan teknik sedetail dan sejelas ini. Dulu, kalau mesin tiba-tiba mati di tengah sungai, kami hanya bisa panik dan mendayung perahu manual ke pinggir sambil menunggu bantuan, yang mana itu sangat berbahaya kalau arus sungai sedang deras. Sekarang, dengan adanya modal ilmu mekanik dari dosen-dosen UNM, peralatan SST yang dihibahkan, serta buku modul panduan air ini, kami merasa jauh lebih tenang dan percaya diri. Kami sudah bisa mendeteksi kerusakan sendiri, menyetel mesin sendiri langsung di atas perahu, dan menghemat biaya servis jutaan rupiah yang biasanya harus kami keluarkan di kota,” tuturnya penuh antusias.
Melalui sinergitas nyata dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi ini, program PkM Jurusan Teknik Otomotif FT-UNM ini diharapkan tidak hanya mampu menjaga konsistensi keandalan performa armada penyeberangan di wilayah Sungai Jeneberang secara berkala, melainkan juga menekan indeks pengeluaran operasional para pelaku transportasi air, meningkatkan keselamatan publik, serta menjamin kokohnya konektivitas ekonomi sosial antarwilayah pedesaan di Kabupaten Gowa secara jangka panjang. Kegiatan ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi UNM dalam mendukung kemandirian teknologi masyarakat pesisir sungai.








































