Catatan sederhana seorang warga yang mencoba memahami panjangnya antrean BBM di Makassar.
Oleh : Muhammad Suardi Husain
Beberapa hari terakhir, media sosial kita ramai dengan foto dan video antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Makassar. Antreannya panjang, bahkan ada yang mengular ke jalan. Ada masyarakat yang mengaku harus datang sejak pagi dan menunggu cukup lama hanya untuk mendapatkan BBM.
Melihat situasi seperti ini, sebagai masyarakat biasa saya tentu bertanya: sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah BBM memang sedang bermasalah, atau masyarakat sedang panik karena takut tidak kebagian?
Kalau stok aman, mengapa antre?
Pertamina menyampaikan bahwa stok BBM di Sulawesi masih tersedia dan pasokan terus dilakukan. Bahkan penyaluran disebut telah ditambah sekitar 10–15 persen di wilayah yang membutuhkan. Tetapi di lapangan, kita juga melihat ada SPBU yang kehabisan BBM dan harus menunggu pasokan berikutnya.
Di sinilah masyarakat mungkin merasa bingung. Kalau stok dikatakan aman, mengapa masih ada SPBU yang kehabisan dan kendaraan harus mengantre berjam-jam? Saya tentu tidak punya kapasitas untuk menjelaskan persoalan distribusi BBM. Tetapi sebagai warga, pertanyaan itu rasanya sangat wajar.
Apakah ini karena panic buying?
Kemungkinan itu ada. Pertamina sendiri menyebut meningkatnya permintaan sebagai salah satu penyebab antrean. Ketika orang mendengar kabar BBM sulit didapat, melihat antrean di SPBU lain, atau membaca berbagai informasi di media sosial, muncul kekhawatiran: “Jangan-jangan nanti saya tidak kebagian.”
Akhirnya orang memilih mengisi BBM lebih cepat dari biasanya. Yang biasanya mengisi ketika tangki hampir kosong, sekarang mungkin memilih mengisi ketika masih setengah. Ketika banyak orang melakukan hal yang sama, antrean semakin panjang. Orang yang melihat antrean pun ikut khawatir.
Antrean menimbulkan kecemasan. Kecemasan melahirkan antrean baru.
Tetapi jangan semuanya disebut kepanikan
Menurut saya, kita juga tidak bisa berhenti pada kesimpulan bahwa masalah ini hanya disebabkan oleh masyarakat yang panik. Ada fakta lain yang diberitakan: beberapa SPBU memang sempat kehabisan BBM dan menunggu pasokan. Ada pula laporan mengenai kendaraan yang mengantre solar dengan membawa drum atau tangki tambahan berkapasitas besar.
Pertamina juga menyebut telah memberikan sanksi kepada sejumlah SPBU dan memblokir ribuan nomor kendaraan yang dianggap memiliki anomali dalam penggunaan barcode. Saya tidak tahu apa yang terjadi dalam setiap kasus dan tentu tidak ingin ikut menuduh. Tetapi fakta-fakta itu menunjukkan bahwa persoalannya mungkin lebih luas daripada sekadar masyarakat yang panik.
Lalu, kita sebagai masyarakat harus bagaimana?
Mungkin ini bagian yang paling sederhana.
Kalau kendaraan memang sudah membutuhkan BBM, tentu kita harus mengisi. Tetapi kalau tangki masih cukup untuk beberapa hari, apakah kita perlu ikut-ikutan mengantre hanya karena melihat orang lain mengantre?
Menurut saya, tidak harus.
Kalau memang tidak terlalu mendesak bepergian, mungkin kita bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk sementara. Kalau harus bepergian, menggunakan taksi online atau transportasi lain juga bisa menjadi pilihan.
Bukan karena kita tidak peduli.
Justru karena kita tidak ingin ikut memperbesar kepanikan.
Kita membutuhkan kepastian
Saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan apakah BBM aman atau tidak secara keseluruhan. Saya hanya melihat dua kenyataan sederhana: Pertamina mengatakan stok tersedia, sementara masyarakat di lapangan masih menghadapi antrean panjang dan ada SPBU yang menunggu pasokan.
Mungkin keduanya memang bisa terjadi bersamaan. Stok secara keseluruhan tersedia, tetapi pada waktu dan tempat tertentu pasokannya belum cukup memenuhi kebutuhan. Di saat yang sama, kekhawatiran masyarakat ikut memperbesar permintaan.
Karena itu, saya kira kita tidak perlu buru-buru mencari siapa yang salah.
Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian.
Kepastian bahwa BBM tersedia. Kepastian bahwa distribusinya berjalan. Dan kepastian bahwa BBM subsidi tepat sasaran.
Sementara sebagai masyarakat, mungkin kita juga bisa mengambil bagian kecil:
Tidak ikut panik. Tidak membeli karena takut kehabisan. Dan tidak ikut memperpanjang antrean kalau memang belum membutuhkannya.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan sederhananya tetap sama:
Kalau BBM memang aman, mengapa kita harus antre?








































