Beranda Mimbar Ide Menghidupi Sompeq

Menghidupi Sompeq

0
Achmad Dg Sere, Anggota Komisi I DPR-RI Fraksi Partai Nasdem (Kiri) & Andi Fauzan Mattalitti, Mahasiswa Magister Prodi Damai dan Resolusi Konflik UNHAN RI (Kanan)

Oleh : Andi Fauzan Mattalitti*

Ada satu laman yang saya refresh berkali-kali hingga asam lambung naik karena menunggu, sampai akhirnya satu kabar muncul dan membuat saya berhenti lama menatapnya: pengumuman kelulusan sebagai mahasiswa Magister Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan. Kabar itu menyusul dalam rangkaian orientasi Bela Negara dan upacara pembukaan pendidikan beberapa hari kemudian, pengingat kecil bahwa proses ini sungguh sedang berjalan, bukan lagi sekadar rencana di atas kertas.

Saya menyebutnya hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya terima, bukan karena gelar atau status, melainkan karena apa yang harus saya relakan untuk sampai ke titik ini.

Sebab keputusan ini bukan sekadar pindah kota. Ia berarti meninggalkan Makassar, tempat saya dibesarkan, dikenal, dan merasa cukup. Kenyamanan, jaringan bertahun-tahun, kepastian yang selama ini jadi tumpuan, semuanya saya tinggalkan untuk sesuatu yang jauh lebih tidak pasti. Saya termasuk yang cukup lama ragu apakah ini keputusan tepat, atau sekadar keberanian sesaat yang akan disesali kemudian.

Syahrir pernah menuliskan gagasan bahwa hidup yang tidak diperjuangkan tidak pantas dimenangkan. Kalimat itu terus terngiang, bukan sebagai semboyan gagah-gagahan, melainkan teguran pelan setiap kali saya ragu.

Pertentangan batin semacam ini pola lama yang berulang pada siapa pun yang pernah memilih pergi. Sesuatu yang mapan (thesa) berhadapan dengan sesuatu yang menggugatnya (antithesa), sebelum keduanya, kalau dijalani sungguh-sungguh, melebur jadi pemahaman baru yang lebih utuh (sintesa) (Hegel, 1977). Saya tidak sedang membaca kerangka ini dari buku, saya sedang menjalaninya, dan orang Bugis rupanya sudah lama punya jawabannya sendiri, jauh sebelum Hegel menuliskannya di Eropa sana.

Orang Bugis-Makassar menyebut perjalanan semacam ini sompeq, merantau dengan niat dan kesungguhan, bukan sekadar berpindah tempat mencari nasib. Migrasi ini telah berlangsung sejak lama seiring interaksi masyarakat Bugis dengan laut, dan sompeq dijadikan cara menempa diri (Wekke, 2013). Leluhur kami berlayar bukan karena lari dari kampung halaman, melainkan karena percaya ada sesuatu yang harus dituntaskan di luar sana, sebelum layak pulang dengan kepala tegak.

Yang membuat saya lebih tenang menjalani keberangkatan ini bukan sekadar keberanian pribadi, melainkan pesan lama yang dititipkan orang tua saya, tentang bagaimana seorang parenta (perantau) hidup di tanah orang.

Setidaknya ada empat nilai yang dipesankan oleh orang tua saya, yang ternyata menjadi bekal utama para perantau Bugis-Makassar sukses dan bertahan di mana pun mereka berlabuh.

Pertama, soal kesungguhan, sebuah pappaseng (petuah leluhur) berbunyi “resopa temmangingi, namalomo naletei pammase dewata, hanya dengan kerja keras pantang menyerah, rezeki dan berkah Tuhan akan mudah didapat. Orang tua saya tidak pernah mengizinkan saya mengeluh soal beratnya jalan yang dipilih, sebab keluhan hanya pantas selesai di dalam hati, bukan alasan berhenti di tengah jalan.

Kedua, soal harga diri dan solidaritas, sebuah pesan dalam filosofi “siri’ na pacce.” Siri’ mengajarkan saya untuk tidak pulang membawa malu, sebab nama keluarga dan kampung ikut dipertaruhkan setiap kali seorang anak Bugis melangkah ke tanah rantau. Pacce mengajarkan sebaliknya, bahwa seorang parenta tidak boleh lupa menolong sesama perantau yang kesulitan.

Ketiga, soal kebersamaan yang saling menopang, sebuah pesan dalam filosofi “padaidi padaelo, sipatuo sipatokkong,” sama rendah dan sama tinggi kedudukannya, saling menghidupkan dan menegakkan. Kesuksesan seorang perantau Bugis, kata orang tua saya, tidak pernah benar-benar milik sendiri, selalu berutang pada tangan-tangan yang menopang sepanjang jalan.

Filosofi itu tidak berhenti sebagai nasihat, ia benar-benar terjadi sejak menjejakkan kaki di tanah rantau. Perjumpaan dengan Ayahanda Achmad Daeng Se’re terjadi begitu saja tanpa direncanakan, namun berujung silaturahmi yang terasa seperti dipertemukan oleh spirit pappaseng yang sama. Kakanda Arvindo Noviar hadir sebagai mentor baru yang justru saya temukan karena kesamaan visi. Mas Hishom dan Bang Rio menjelma kakak-kakak baru di perantauan, ditambah rekan-rekan lain yang perlahan ikut menukar perspektif dan pembelajaran. Saya jadi semakin yakin, sipatuo sipatokkong terus bekerja diam-diam, menghadirkan orang yang tepat di waktu tepat, sepanjang kita bersedia membuka diri untuk ditopang sekaligus menopang balik.

Keempat, dan ini yang paling saya renungkan, soal keteguhan tanpa jalan mundur, sebuah pesan dalam ungkapan “pura babbara’ sompeq ku,” layar sudah terlanjur dikembangkan. Disambung “pura tangkisi’ guliqku,” kemudi pun sudah terpasang, hingga penegasan pamungkas, “ulebbirenni tellenge na toalie,” lebih baik tenggelam daripada berbalik arah.

Sebuah ikrar lama para pelaut Bugis, bahwa begitu layar dikembangkan, tidak ada lagi ruang berbalik arah karena ombak mulai terasa. Kalaupun harus karam, karam dalam keadaan tetap melaju jauh lebih terhormat ketimbang selamat karena memilih surut. Saya meresapi ikrar itu lagi saat memandangi lukisan Sultan Hasanuddin di ruang makan kampus baru saya ini, pengingat bahwa keraguan boleh singgah sesekali, tetapi bukan alasan menoleh ke belakang.

Saya menuliskan ini bukan untuk mengesankan diri sebagai pemberani. Sejujurnya saya masih sering ragu, masih sesekali merindukan kepastian yang saya tinggalkan. Namun begitulah caranya sintesa bekerja, tidak datang mantap sejak awal, melainkan lewat proses yang terus dipertanyakan sampai benar-benar dijalani.

Kegelisahan yang saya bawa dari Makassar mungkin belum sepenuhnya reda. Tetapi saya percaya perjalanan inilah yang akan menuntaskannya, perlahan, satu waktu ke waktu berikutnya, ditopang pesan yang saya bawa dari rumah. Jika kelak saya pulang, saya hanya berharap bukan sekadar membawa gelar, melainkan bukti kecil bahwa pappaseng leluhur saya masih relevan dihidupi di zaman ini, dan semoga niat baik ini dimudahkan jalannya.

Selamat mengembangkan layar, bagi siapa pun yang sedang memulai pelayarannya sendiri. Ewako!

*) Penulis merupakan Mahasiswa Magister Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Kader IMM Korkom UNHAS, Pegiat di Kampus Gagasan dan co-founder gerakan literasi digital @publicchoice_id

Facebook Comments Box