MataKita.co, Bantaeng — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) merancang masterplan pengembangan kawasan ekowisata Air Terjun Bantimurung di Desa Bonto Salluang, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng.
Program yang dilaksanakan mahasiswa Program Studi Arsitektur Unhas, Muthmainnah Nurulhikmah Rustam, pada 2 Juli hingga 14 Agustus 2026 tersebut menghasilkan konsep site plan kawasan wisata terintegrasi dengan mengedepankan penggunaan material lokal dan pendekatan ramah lingkungan.
Air Terjun Bantimurung memiliki ketinggian sekitar 10 meter dengan debit air yang disebut tidak surut sepanjang tahun. Namun, potensi wisata tersebut belum didukung infrastruktur yang memadai. Akses menuju kawasan masih berupa jalan tanah dengan lebar sekitar 90 sentimeter dan fasilitas pendukung yang terbatas.
Berangkat dari kondisi tersebut, Muthmainnah merancang masterplan penataan kawasan, salah satunya melalui pembangunan koridor pedestrian berbahan kayu dengan lebar 180 sentimeter. Koridor dibagi menjadi jalur berjalan selebar 130 sentimeter dan area duduk selebar 50 sentimeter.
Jalur tersebut dirancang menggunakan kayu ulin serta dilengkapi sistem drainase alami melalui celah antarpapan. Pada sisi yang berbatasan dengan jurang, dirancang pagar pengaman setinggi 1,2 meter.
Masterplan juga mencakup sejumlah fasilitas publik, seperti toilet umum berkonsep tropis yang mengoptimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Selain itu, terdapat gazebo kecil berbahan kayu ulin dengan atap rumbia sebagai tempat beristirahat.
Gazebo berukuran lebih besar dengan rangka atap bambu juga masuk dalam rancangan. Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi ruang komunal sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dalam kondisi darurat.
Tidak hanya merancang kawasan, mahasiswa KKN Unhas juga menyusun buku saku panduan wisata. Buku tersebut memuat masterplan, peta akses, panduan mitigasi bencana, serta kode QR yang terhubung dengan laman wisata Desa Bonto Salluang.
Buku saku kemudian diserahkan kepada Pemerintah Desa Bonto Salluang sebagai dokumen perencanaan yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan program dan penganggaran desa.
Kepala Desa Bonto Salluang, Marsuki, mengapresiasi konsep pengembangan kawasan tersebut. Menurut dia, rancangan mahasiswa tidak hanya berorientasi pada penataan destinasi wisata, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat.
“Konsepnya luar biasa karena ada perpaduan antara UMKM dan wisata desa. Salah satu daya tarik wisata adalah adanya UMKM yang hidup di kawasan tersebut,” kata Marsuki.
Ia berharap pengembangan Air Terjun Bantimurung nantinya dapat memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.
“Di samping menjadi daya tarik bagi pengunjung dari luar, ini bisa menjadi sumber pendapatan warga Desa Bonto Salluang. Program wisata desa memang perlu dipadukan dengan pengembangan UMKM masyarakat,” ujarnya.
Program tersebut diarahkan untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, melalui perencanaan infrastruktur wisata yang berkelanjutan dan memanfaatkan material lokal.








































