Beranda Lensa Dua Tahun Paskibra SMP Negeri 6 Parepare: Dari Lapangan Sederhana, Mereka Belajar...

Dua Tahun Paskibra SMP Negeri 6 Parepare: Dari Lapangan Sederhana, Mereka Belajar Bertahan

0
Muhammad Rahman Nur,S.S.,S.Pd.,Gr

Oleh : Muhammad Rahman Nur,S.S.,S.Pd.,Gr

Dua tahun lalu, belum ada yang tahu sejauh mana langkah itu akan membawa mereka. Pada 10 September 2024, sebanyak 31 siswa UPTD SMP Negeri 6 Parepare mengikuti latihan perdana Paskibra. Tidak ada fasilitas yang istimewa. Hanya sebuah lapangan sekolah dengan kontur bertingkat dan semangat anak-anak yang saat itu begitu antusias mencoba sesuatu yang bagi mereka masih baru.

Hari itu kemudian dikenang sebagai hari lahir Paskibra SMP Negeri 6 Parepare. Sebelumnya, telah ada pembicaraan dan persiapan antara Muhammad Rahman Nur, Andi Abdullah, dan Fadilah Rahman. Rahman ditugaskan kepala sekolah sebagai pembina, sementara Andi Abdullah dan Fadilah Rahman dipercaya sebagai pelatih. Ketiganya menjadi bagian penting dari fondasi awal berdirinya Paskibra di sekolah tersebut.

Bagi Rahman, pendirian Paskibra sejak awal tidak semata-mata tentang membentuk siswa yang mampu melakukan baris-berbaris dengan baik. Ia berharap ekstrakurikuler tersebut menjadi wadah pengembangan bakat dan minat siswa sekaligus ruang untuk membangun kembali kebiasaan-kebiasaan sederhana dalam kehidupan sekolah: menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, belajar bertanggung jawab, dan memahami arti sebuah aturan.

Harapan itu lahir dari kegelisahan yang ia lihat di lingkungan sekolah. Hal-hal sederhana dalam relasi antara junior dan senior mulai kehilangan tempat. Karena itu, Paskibra diharapkan menjadi salah satu pintu untuk membangun kembali tatanan tersebut melalui proses pembinaan yang terarah.

Di sisi lain, dukungan sekolah sejak awal menjadi modal penting. Kerja sama dengan para pelatih dibangun dan diberikan apresiasi melalui honorarium. Bagi para siswa, latihan Paskibra juga menawarkan pengalaman yang berbeda. Latihan baris-berbaris yang sebelumnya lebih sering mereka jumpai ketika mempersiapkan gerak jalan kini menjadi kegiatan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur.

Rahman mengaku sejak awal cukup optimistis organisasi ini akan mampu bertahan. Dari anggota awal, sebanyak 19 orang kemudian menjadi bagian dari generasi pertama yang dikukuhkan. Mereka dinilainya sebagai anak-anak pilihan yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan sekaligus mengembangkan roda organisasi.

Namun, perjalanan sebuah organisasi tidak pernah sepenuhnya berjalan lurus.

Memasuki kepengurusan periode kedua, Paskibra SMP Negeri 6 Parepare pernah berada pada salah satu titik paling sulit dalam perjalanannya. Sejumlah anggota mulai keluar. Semangat sebagian lainnya ikut berubah setelah menjalani proses yang cukup panjang. Dalam sebuah musyawarah besar, jumlah anggota yang tersisa bahkan hanya empat orang.

Bagi Rahman, situasi itu seperti sebuah kapal yang diguncang ombak besar. Beberapa awak memilih meninggalkan kapal, sementara mereka yang bertahan harus bekerja lebih keras agar kapal tersebut tidak tenggelam.

Untuk pertama kalinya muncul keraguan apakah organisasi yang baru berusia sekitar satu tahun itu masih mampu bertahan.

Tetapi justru fase itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Paskibra. Organisasi tidak hanya diuji ketika meraih prestasi, tetapi juga ketika harus berhadapan dengan kehilangan anggota, perubahan semangat, dan ketidakpastian tentang masa depan.

Generasi pertama sendiri telah merasakan bentuk perjuangan yang berbeda. Pada masa awal, mereka berlatih dengan fasilitas yang terbatas. Lapangan yang digunakan terkadang berlumpur dan ditumbuhi rumput liar. Ketika mengikuti perlombaan, mereka harus meminjam pakaian dan membuat sejumlah atribut dengan tangan sendiri. Keterbatasan tidak selalu dapat diselesaikan dengan fasilitas baru; sering kali mereka hanya memiliki pilihan untuk mencari cara lain agar tetap bisa berjalan.

Sementara generasi kedua menghadapi persoalan yang berbeda. Mereka harus mempertahankan organisasi ketika jumlah anggota mulai menyusut. Perjuangannya bukan lagi sekadar bagaimana memulai, melainkan bagaimana memastikan apa yang telah dimulai tidak berhenti di tengah jalan.

Di tengah situasi tersebut, sebuah pencapaian dari anggota generasi pertama kemudian menjadi pemantik baru.

Nindy, salah seorang anggota angkatan pertama yang telah lulus dari SMP Negeri 6 Parepare, berhasil terpilih sebagai Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Keberhasilan tersebut menjadi kabar yang memberi energi baru bagi mereka yang masih bertahan. Sebuah bukti bahwa perjalanan yang dimulai dari lapangan sederhana ternyata dapat membawa seseorang melangkah lebih jauh.

Kini, Paskibra SMP Negeri 6 Parepare telah memiliki tiga angkatan, sementara angkatan keempat masih berstatus calon anggota. Roda organisasi yang sempat bergoyang itu ternyata belum berhenti berputar.

Dua tahun berjalan, perubahan yang paling dirasakan Rahman justru bukan hanya pada kemampuan kepaskibraan para anggota. Ia melihat perubahan dalam cara mereka berinteraksi.

Salah satu hal sederhana yang paling membekas baginya adalah ketika para anggota mulai terbiasa bersalaman bukan hanya kepada guru, tetapi juga kepada kakak kelas mereka. Bagi orang lain, mungkin itu terlihat sebagai kebiasaan kecil. Namun bagi seorang pembina, perubahan tersebut menjadi tanda bahwa nilai-nilai yang selama ini ditanamkan mulai tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Paskibra, menurut Rahman, memang seharusnya tidak berhenti pada kemampuan baris-berbaris. Anak-anak belajar berorganisasi, belajar mematuhi aturan, belajar disiplin, belajar bertanggung jawab, dan belajar menyelesaikan sebuah pekerjaan bersama-sama dengan segala persoalan yang menyertainya.

Karena itu, pengalaman di Paskibra menurutnya berbeda dari sekadar mengikuti ekstrakurikuler biasa. Anak-anak tidak hanya berlatih dan mengikuti perlombaan. Mereka mengalami proses ketika harus menghadapi tuntutan, kekecewaan, konflik, kegagalan, dan berbagai persoalan yang membuat mereka perlahan berubah.

“Terbentur, terbentur,terbentur, terbentuk,” demikian gambaran yang ia gunakan untuk menjelaskan proses tersebut.

Menariknya, proses itu tidak hanya mengubah para anggota. Rahman sendiri mengakui bahwa dua tahun menjadi pembina telah mengubah dirinya.

Ia belajar bagaimana mengelola manusia dengan karakter yang berbeda. Ia belajar menyusun konsep kaderisasi yang cukup ketat, tetapi tetap dapat diterima oleh anak-anak usia SMP. Ia juga belajar menjadi lebih tenang ketika menghadapi persoalan dan mencoba melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang.

Namun, ada satu hal yang menurutnya jauh lebih berharga daripada semua itu: hubungan yang terbentuk setelah proses pembinaan berlangsung bertahun-tahun.

Beberapa anggota yang telah lulus masih datang dan memperlakukannya sebagai pembina yang mereka butuhkan. Bahkan, ada yang menganggapnya seperti seorang ayah. Bagi Rahman, hal itu menjadi pengingat bahwa proses mendampingi anak-anak tidak berhenti ketika mereka meninggalkan gerbang sekolah.

Momen paling emosional baginya terjadi ketika Nindy kembali ke SMP Negeri 6 Parepare setelah terpilih sebagai Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Ia datang untuk berbagi cerita dan memberikan motivasi kepada adik-adiknya.

Ketika sampai pada bagian pidatonya yang menceritakan sosok pembinanya, Nindy menangis. Rahman yang berada di hadapannya pun tidak mampu menahan air mata. Baginya, keberhasilan Nindy bukan hanya tentang sebuah posisi atau prestasi, tetapi tentang melihat seorang anak yang pernah berdiri di lapangan sekolah kini mampu melangkah lebih jauh.

Rasa bangga yang sama kembali hadir ketika Rina dan Liza melanjutkan kiprah mereka di jenjang SMA dan dipercaya menempati posisi penting dalam organisasi sekolahnya, termasuk sebagai ketua ambalan dan ketua umum Paskibra tingkat SMA.

Bagi Rahman, semua itu menjadi semacam jawaban bahwa proses yang mereka jalani berada di jalur yang benar.

Tetapi lebih dari prestasi, ada satu hal yang paling ingin ia pertahankan: rasa memiliki.

Ia ingin Paskibra tetap menjadi rumah bagi para anggotanya. Bukan sekadar organisasi yang diikuti selama masih mengenakan seragam SMP, lalu ditinggalkan ketika mereka lulus. Ia ingin suatu hari nanti, sejauh apa pun mereka pergi, selalu ada perasaan bahwa tempat ini adalah bagian dari perjalanan hidup mereka.

Sebab pada akhirnya, yang mungkin paling dirindukan dari Paskibra bukanlah latihan atau perlombaan. Melainkan kebersamaan dan kekeluargaan.

Dan bagi seorang pembina, yang akan dirindukan bukan hanya langkah kaki yang seragam di lapangan, tetapi juga canda, tawa, air mata, serta nilai-nilai perjuangan yang pernah mereka torehkan bersama

Hari ini, 10 September 2026, Paskibra SMP Negeri 6 Parepare genap berusia dua tahun. Dua tahun mungkin belum menjadi waktu yang panjang bagi sebuah organisasi. Tetapi dalam rentang itu, mereka telah mengalami cukup banyak hal untuk memahami bahwa mempertahankan sebuah organisasi membutuhkan lebih dari sekadar semangat ketika semuanya baru dimulai.

Ada masa ketika mereka berjalan dengan fasilitas terbatas. Ada masa ketika jumlah anggota menyusut. Ada masa ketika masa depan organisasi terasa tidak pasti. Tetapi ada pula masa ketika seorang alumni kembali membawa kabar tentang keberhasilannya, ketika anggota mulai dipercaya memimpin organisasi di sekolah baru, dan ketika para anggota menyadari bahwa Paskibra bukan sekadar kegiatan tambahan di sekolah.

Memasuki tahun ketiga, Rahman berharap kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat untuk terus berkembang tetap menjadi bagian yang tidak hilang dari organisasi ini. Ia berharap generasi berikutnya mampu memperbaiki kekurangan dan menjadikan kekalahan di masa lalu sebagai bahan untuk mengejar prestasi yang lebih gemilang.

Pesannya kepada anggota yang kini memegang estafet pun sederhana: tetap semangat, belajar, dan terus berjuang. Masalah yang muncul jangan dijadikan alasan untuk meredup, tetapi dipandang sebagai tantangan yang harus diselesaikan.

Sebab tidak ada proses yang benar-benar sia-sia ketika dijalani dengan ikhlas.

Lima tahun dari sekarang, ia ingin melihat Paskibra SMP Negeri 6 Parepare memiliki prestasi yang gemilang, semangat organisasi yang kuat, dan kembali menjadi salah satu ekstrakurikuler yang diminati siswa.

Dan jika suatu hari nanti organisasi ini mencapai usia sepuluh tahun, ia tidak berharap generasi pertama dikenang karena siapa yang paling hebat atau siapa yang paling banyak membawa pulang penghargaan.

Ia hanya ingin ada satu kalimat yang tertinggal untuk mereka yang pernah memulai semuanya dari lapangan sederhana itu.

“Terima kasih, Nak. Karena kalian, SMP Negeri 6 Parepare kembali mengenakan mahkota kehormatannya.”

Dua tahun telah berlalu sejak 31 siswa mengikuti latihan pertama.

Sebagian dari mereka mungkin telah pergi jauh. Sebagian masih berada di sekolah. Sebagian lainnya mungkin kelak akan kembali setelah bertahun-tahun meninggalkan tempat ini.

Namun selama masih ada yang bersedia melanjutkan langkah, cerita itu belum selesai. 10 September 2024 — 10 September 2026. Dua tahun perjalanan. Dua tahun belajar bertahan. Dan sebuah rumah yang masih menunggu generasi berikutnya untuk terus menjaganya.

Facebook Comments Box