MataKita.co, Gorontalo – Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) menutup rangkaian Program Pembinaan Karakter dan Kepribadian Mahasiswa Baru (PPKKMB) Berasrama bagi mahasiswa Program Studi Kedokteran Angkatan III yang telah dijalankan selama satu tahun. Penutupan berlangsung di Masjid At-Tanwir UMGO sebagai penanda berakhirnya proses pembinaan karakter, spiritual, dan kedisiplinan yang menjadi bagian dari pendidikan calon dokter.
Pengelola Asrama UMGO, Wulandari Ney, M.Psi, menjelaskan bahwa program berasrama dirancang untuk membentuk karakter, kedisiplinan, serta kebiasaan positif mahasiswa melalui berbagai indikator pembinaan. Mahasiswa yang belum memenuhi ketentuan diberikan kesempatan untuk menyelesaikan kewajiban yang masih tertunda sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
Ia berpesan agar seluruh mahasiswa terus menjaga nilai-nilai yang telah dibangun selama mengikuti program berasrama.
“Jangan biarkan kebiasaan baik yang sudah dibentuk selama satu tahun ini berhenti setelah keluar dari asrama. Jadikan kedisiplinan, tanggung jawab, ibadah, dan akhlak sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Sementara itu, Rektor UMGO, Prof. Dr. Abd. Kadim Masaong, menegaskan bahwa program berasrama bukan sekadar aktivitas pendamping perkuliahan, tetapi merupakan momentum strategis untuk membangun pola pikir dan karakter mahasiswa sebagai bekal menjadi dokter yang profesional dan berintegritas.
Menurutnya, pembinaan karakter memiliki peran yang sama pentingnya dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Seorang dokter tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga akhlak, empati, kedisiplinan, serta kemampuan membangun hubungan baik dengan masyarakat.
“Program berasrama ini adalah momentum strategis untuk membangun growth mindset. Jangan pernah menganggap remeh program ini hanya karena berbicara tentang soft skills. Justru di sinilah karakter seorang calon dokter dibentuk,” ujar Prof. Kadim.
Ia mengungkapkan bahwa selama proses pembinaan banyak perubahan positif yang terlihat pada mahasiswa. Bahkan, ada peserta yang pada awalnya belum mampu membaca Al-Qur’an, namun mampu berkembang berkat proses pembinaan yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
“Bila seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri, maka perubahan itu pasti bisa terjadi. Program ini membuktikan bahwa karakter dan kebiasaan baik dapat dibangun melalui proses yang konsisten,” katanya.
Prof. Kadim juga mengingatkan bahwa citra seorang dokter dan nama baik institusi tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Jagalah citra diri sebagai mahasiswa Kedokteran UMGO dengan mengimplementasikan seluruh nilai yang telah diperoleh selama program berasrama. Ketika kalian menjaga akhlak, disiplin, etika, dan integritas, saat itulah kalian sedang menjaga kehormatan profesi sekaligus membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Gorontalo,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Prof. Kadim mengajak seluruh mahasiswa menjadikan program berasrama sebagai titik awal untuk terus memperbaiki diri.
“Innamal a’malu binniyat (sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat) dan man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Selamat kepada seluruh mahasiswa yang menjadikan program berasrama sebagai momentum berbenah diri. Pertahankan semangat itu dalam setiap langkah menuju masa depan,” pungkasnya.







































