MataKita.co, Makassar — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan website profil Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Program ini bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap informasi desa sekaligus mendukung keterbukaan informasi publik.
Website tersebut dikembangkan oleh Azizah Awaliyah, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Unhas, sebagai salah satu program kerja individu selama pelaksanaan KKN-T.
Pengembangan website berangkat dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa WhatsApp masih menjadi media utama penyebaran informasi di Desa Kurusumange. Sementara itu, berbagai informasi mengenai desa belum terhimpun dalam satu platform digital yang mudah diakses dan terdokumentasi.
Melalui program ini, Azizah merancang website yang memuat berbagai informasi, mulai dari profil desa, struktur pemerintahan, profil dusun, potensi desa, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), berita, kegiatan, layanan, galeri, hingga informasi publik.
Kehadiran website tersebut diharapkan dapat melengkapi penggunaan WhatsApp dan Instagram yang selama ini dimanfaatkan pemerintah desa dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Sekretaris Desa Kurusumange mengatakan, WhatsApp menjadi salah satu media komunikasi yang efektif karena telah akrab digunakan masyarakat. Namun, keberadaan website dinilai dapat memberikan alternatif akses informasi yang lebih terstruktur.
“Selama ini penyebaran informasi kepada masyarakat memang lebih banyak melalui WhatsApp karena masyarakat sudah terbiasa menggunakannya. Dengan adanya website dan media informasi lainnya, kami berharap informasi desa dapat tersampaikan dengan lebih teratur dan masyarakat memiliki alternatif untuk mendapatkan informasi,” ujarnya.
### Dorong Pengelolaan Mandiri
Selain mengembangkan website, Azizah menyusun buku panduan penggunaan sebagai pedoman bagi perangkat desa dalam mengelola dan memperbarui informasi secara mandiri.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan website tetap dapat dimanfaatkan setelah masa pengabdian mahasiswa KKN-T berakhir.
“Bagi saya, membuat website saja belum cukup. Website harus bisa terus digunakan setelah KKN selesai. Karena itu, buku panduan ini dibuat agar perangkat desa memiliki acuan untuk mengelola konten dan memperbarui informasi secara mandiri,” kata Azizah.
Ia berharap perangkat desa dapat melanjutkan pengelolaan website secara berkelanjutan sehingga informasi yang tersedia tetap relevan dan dapat diakses masyarakat.
Pengembangan website ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem informasi digital desa dengan mengintegrasikan fungsi sejumlah media. Website menjadi pusat informasi, Instagram dimanfaatkan sebagai sarana publikasi dan promosi, sedangkan WhatsApp tetap digunakan sebagai media penyebaran informasi yang telah dikenal masyarakat.
Program tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-16, yakni perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, khususnya dalam mendorong transparansi, akuntabilitas, serta akses masyarakat terhadap informasi publik.
Melalui pengembangan website dan penyusunan panduan pengelolaan, Pemerintah Desa Kurusumange diharapkan mampu mengelola informasi digital secara mandiri sekaligus memastikan keberlanjutan program setelah pelaksanaan KKN-T Unhas berakhir.








































