Beranda Kampus Konferensi Internasional di Unhas Bahas Transformasi Humaniora Indonesia-Tiongkok pada Era Society 5.0

Konferensi Internasional di Unhas Bahas Transformasi Humaniora Indonesia-Tiongkok pada Era Society 5.0

0

MataKita.co, Makassar — Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (APSMI) ke-8 yang membahas transformasi humaniora Indonesia dan Tiongkok di tengah perkembangan teknologi pada era Society 5.0.

Konferensi yang digelar Program Studi S1 Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Fakultas Ilmu Budaya Unhas, tersebut berlangsung di Unhas Hotel and Convention, Makassar, Rabu (16/9/2026).

Mengusung tema “Transformasi Humaniora di Tiongkok dan Indonesia pada Era Society 5.0: Bahasa, Sastra, Budaya, Sejarah dan Pendidikan”, konferensi ini mempertemukan akademisi, pengajar, dan pemerhati bahasa Mandarin dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta sejumlah institusi luar negeri.

Ketua APSMI, Dr Elly Romy, mengatakan konferensi tersebut menjadi wadah untuk memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat kerja sama dalam pengembangan pendidikan bahasa Mandarin.

“Melalui berbagai kerja sama, kita dapat membangun kekuatan yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan bahasa Mandarin,” ujarnya.

Konferensi ini menghadirkan delapan narasumber dari berbagai perguruan tinggi dan institusi internasional.

Mereka adalah Dr Carmelea Ang See dari De La Salle University, Filipina; Dr Chan Ying Kit dari National University of Singapore, Singapura; Prof Akin Duli dari Unhas; dan Prof R Tuty Nur Mutia dari Universitas Indonesia.

Selain itu, hadir Dr Xi Lei dari Nanchang University, Tiongkok; Chen Yan dari Confucius Institute of Poitiers, Prancis; Assoc Prof Herman dari Universitas Universal; serta Dr Soen Ai Ling dari Universitas Darma Persada.

Penanggung Jawab Confucius Institute Unhas, Prof Wu Xiao Ling, mengatakan konferensi tersebut juga diikuti Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing secara daring.

Sementara itu, peserta yang hadir secara langsung meliputi perwakilan Dinas Pendidikan Kota Makassar, sinolog dari Singapura dan Filipina, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Konferensi ini juga dihadiri ketua dan perwakilan dosen program studi bahasa Tiongkok dari lebih dari 30 perguruan tinggi.

Wu turut menyambut kehadiran tiga akademisi dari Nanchang University, Jiangxi, Tiongkok, yakni Prof Wang Shujun dari Fakultas Ilmu Budaya, Dr Xi Lei, dan Dr Zhang Lingmei dari Fakultas Pendidikan Internasional.

Kehadiran para akademisi tersebut diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan dan memperkuat jejaring pendidikan bahasa Mandarin serta kajian humaniora antarlembaga.

### Rektor Unhas Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Tiongkok

Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa mendorong penguatan kerja sama akademik antara Indonesia dan Tiongkok melalui kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam bidang bahasa, sejarah, dan kebudayaan.

Menurut Jamaluddin, hubungan akademik kedua negara tidak cukup hanya dikembangkan melalui pembelajaran bahasa, tetapi juga perlu mencakup pemahaman terhadap sejarah dan peradaban.

Ia menilai sejarah memiliki peran penting dalam memberikan pelajaran bagi generasi saat ini untuk memahami perkembangan suatu bangsa.

“Dengan belajar sejarah, kita dapat mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi,” ujar Jamaluddin.

Rektor yang akrab disapa Prof JJ itu juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Mandarin sebagai sarana memperluas komunikasi dan membuka peluang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok.

Menurut dia, jejaring yang telah dibangun Unhas dengan berbagai institusi di Tiongkok perlu terus dikembangkan melalui kegiatan akademik dan kolaborasi antarlembaga.

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Lestari Puspitaningsih, menyoroti pentingnya menjaga peran humaniora di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Ia menilai kemajuan teknologi dan kebudayaan perlu berjalan beriringan agar perkembangan masyarakat tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks Society 5.0, humaniora memiliki peran untuk memastikan bahwa manusia tetap menjadi pusat perkembangan teknologi dan kehidupan sosial.

Konferensi internasional tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian kerja sama antarlembaga.

Penandatanganan kerja sama itu menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan dan memperluas kolaborasi akademik dalam pengembangan bahasa, pendidikan, serta kebudayaan.

Melalui konferensi ini, Unhas dan APSMI berupaya memperluas jejaring akademik Indonesia-Tiongkok sekaligus mendorong pengembangan kajian humaniora yang relevan dengan perubahan masyarakat pada era digital.

Facebook Comments Box