MataKita.co, Makassar — Sebanyak 46 perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia menghadiri Forum Wakil Rektor Bidang Akademik Perguruan Tinggi se-Indonesia 2026 yang diselenggarakan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Ballroom Unhas Hotel, Makassar, Kamis (17/9/2026).
Forum yang berlangsung hingga Sabtu (19/9/2026) ini membahas transformasi tata kelola akademik, mulai dari keberhasilan studi mahasiswa, sistem penerimaan mahasiswa baru, kompetensi lulusan, hingga pencegahan kecurangan dalam proses seleksi.
Mengusung tema “Transformasi Tata Kelola Akademik Perguruan Tinggi: Penguatan Student Success, Tata Kelola Penerimaan Mahasiswa, Kompetensi Lulusan, dan Integritas Seleksi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi pimpinan perguruan tinggi untuk bertukar pengalaman sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan akademik.
Ketua Panitia sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof Muhammad Ruslin, mengatakan forum tersebut dirancang untuk memperkuat komunikasi dan konsolidasi antarpimpinan perguruan tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan akademik.
“Forum ini kita rancang untuk memperkuat komunikasi dan konsolidasi antarpimpinan perguruan tinggi, khususnya dalam merespons dinamika pengelolaan akademik. Berbagai isu yang dibahas diharapkan dapat memperkaya perspektif masing-masing perguruan tinggi dalam menyusun dan mengembangkan kebijakan akademik,” ujar Ruslin.
Menurut dia, sebanyak 75 perguruan tinggi sebelumnya telah mendaftar sebagai peserta. Dari jumlah tersebut, 46 perguruan tinggi tercatat hadir mengikuti forum.
Perguruan tinggi yang hadir antara lain Universitas Indonesia, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Makassar, Universitas Udayana, hingga Universitas Musamus Merauke.
Peserta juga berasal dari sejumlah perguruan tinggi di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
### Dorong Kebijakan Akademik Berbasis Data
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam merumuskan kebijakan akademik di tengah transisi demografi dan kelembagaan perguruan tinggi.
Menurut dia, pengelolaan pendidikan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada jumlah mahasiswa yang diterima, tetapi juga harus memperhatikan proses pembelajaran, capaian akademik, hasil riset, dan kualitas lulusan.
“Di tengah transisi demografi dan kelembagaan ini, perguruan tinggi dituntut merumuskan kebijakan yang berbasis data (data-driven) dan berorientasi hasil (outcome-oriented). Forum ini harus menjadi ruang kalibrasi kebijakan untuk mengevaluasi empat kerangka fundamental, yakni input PMB, proses akademik, luaran riset, dan kualitas lulusan,” ujar Jamaluddin.
Rektor yang akrab disapa Prof JJ itu berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan rumusan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti.
Ia mendorong peserta menyusun policy brief dan rekomendasi analitis yang konkret untuk disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam mengembangkan kebijakan dan regulasi teknis pengelolaan akademik perguruan tinggi.
### Empat Isu Strategis Jadi Pembahasan
Forum ini memusatkan pembahasan pada empat isu utama yang dinilai berkaitan dengan transformasi tata kelola akademik perguruan tinggi.
Isu pertama menyangkut Angka Efisiensi Edukasi (AEE) dan student success, terutama bagaimana perguruan tinggi meningkatkan keberhasilan studi mahasiswa melalui pengelolaan proses akademik yang lebih efektif.
Isu kedua berkaitan dengan proporsi daya tampung mahasiswa melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan seleksi mandiri.
Pembahasan ini diarahkan untuk mempertemukan pengalaman perguruan tinggi dalam mengelola penerimaan mahasiswa baru sekaligus mengevaluasi kebijakan daya tampung.
Isu ketiga mencakup bobot penilaian dan standar kompetensi lulusan. Forum membahas pentingnya penyelarasan proses pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Penyelarasan tersebut mencakup upaya mengurangi kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja, termasuk melalui pengembangan kurikulum bersama industri.
Adapun isu keempat berfokus pada pencegahan dan mitigasi kecurangan dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Pembahasan ini diarahkan untuk memperkuat integritas seleksi sekaligus mengidentifikasi praktik pengelolaan penerimaan mahasiswa yang dapat diterapkan oleh perguruan tinggi.
### Siapkan Rekomendasi Nasional
Setelah pembukaan, rangkaian kegiatan hari pertama dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) yang membahas keempat isu strategis tersebut.
Pada Jumat (18/9/2026), peserta dijadwalkan memaparkan hasil diskusi mengenai AEE dan keberhasilan studi mahasiswa, proporsi daya tampung, kompetensi lulusan, serta integritas seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Hasil pembahasan selanjutnya akan dirumuskan menjadi rekomendasi nasional untuk penguatan tata kelola akademik perguruan tinggi.
Melalui forum yang berlangsung selama tiga hari ini, para pimpinan perguruan tinggi diharapkan dapat membangun kesepahaman mengenai arah transformasi akademik, memperluas pertukaran praktik baik, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah.
Forum tersebut sekaligus menjadi wadah konsolidasi perguruan tinggi dalam memperkuat keberhasilan studi mahasiswa, meningkatkan relevansi kompetensi lulusan, dan menjaga integritas sistem penerimaan mahasiswa baru.








































