Beranda Mimbar Ide Brainrot, Daya Nalar, dan Masa Depan Nasionalisme yang Sedang Terkikis

Brainrot, Daya Nalar, dan Masa Depan Nasionalisme yang Sedang Terkikis

0

Oleh : Andi Fauzan Mattalitti*

(Mahasiswa Magister Prodi Damai dan Resolusi Konflik UNHAN RI)

Pernah membaca headline lalu dalam hitungan detik sudah punya kesimpulan?

Atau menonton film dua jam di Netflix tapi sepertiganya dihabiskan sambil scroll, sampai lupa sendiri sedang menonton apa? Alih-alih menikmati secara utuh, kita justru terdistraksi oleh hal lain yang sama-sama tidak selesai kita konsumsi.

Bagaimana dengan membaca buku? Itu sudah lebih dulu kita tinggalkan.

Bukan karena tulisannya buruk. Bukan karena kita kurang cerdas untuk melanjutkan. Ada sesuatu dalam diri kita yang sudah terlatih untuk tidak singgah terlalu lama di bagian tengah.

Kita baca A, langsung lompat ke Z, dan merasa sudah cukup.

Yang jarang kita sadari adalah bahwa kemampuan melewati B hingga Y dengan sabar, kemampuan menahan diri dari kesimpulan sebelum waktunya adalah persis kapasitas yang paling dibutuhkan untuk membaca situasi nasional secara utuh. Dan kapasitas itu, secara diam-diam sedang kita kikis setiap hari, bukan melalui paksaan, melainkan melalui kebiasaan yang terasa menyenangkan.

Oxford University Press memberi nama pada kondisi itu di penghujung 2024. “Brain rot” dinobatkan sebagai Word of the Year, dipahami sebagai kemunduran kondisi mental dan intelektual akibat konsumsi konten daring yang berlebihan dan bernilai rendah. Bukan diagnosis klinis. Lebih seperti pengakuan kolektif bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, dan kita sudah cukup lama memilih untuk tidak menamainya.

Johan Galtung (1990) memetakan kondisi seperti ini dalam satu kerangka yang ia sebut cultural violence, sebuah bentuk kekerasan yang tidak memerlukan pelaku tunggal dan tidak meninggalkan luka yang bisa difoto. Ia bekerja melalui hal-hal yang terasa normal, melalui sistem yang terasa netral, melalui pilihan yang terasa bebas, sehingga kerusakannya tidak pernah terasa seperti kekerasan sampai sudah terlambat untuk disadari.

Brainrot bekerja persis dengan cara itu.

Tidak ada yang memaksa kita untuk scroll. Tapi ketika desain algoritmik mengoptimalkan waktu layar di atas kapasitas reflektif, dan ketika ekosistem itu beroperasi pada 180 juta pengguna aktif setiap hari di Indonesia, yang sedang terjadi bukan sekadar tren konsumsi.

Yousef et al. (2025) memetakan akibatnya yaitu penurunan rentang perhatian dan erosi kapasitas memproses informasi yang kompleks. Jiang & Ma (2024) mengidentifikasi lebih spesifik bahwa penggunaan platform video pendek secara aktif menghambat kemampuan berpikir analitik.

PISA 2022 mencatat skor membaca Indonesia di angka 359, turun 12 poin dari siklus sebelumnya, berjarak 117 poin di bawah rata-rata OECD. Angka itu bukan sekadar statistik pendidikan. Ia adalah jejak dari cultural violence yang sedang bekerja.

Mencermati fenomena ini, ada tiga hal yang perlu kita urai dan jujurkan bersama.

Pertama, brainrot bukan kegagalan moral generasi muda. Terlalu mudah membaca fenomena ini sebagai kelemahan karakter, padahal yang sedang kita bicarakan adalah kegagalan desain sistem. Platform tidak jahat secara moral. Tapi logikanya, dibiarkan bekerja tanpa kompensasi, menghasilkan kondisi yang Galtung gambarkan sebagai legitimasi kerusakan melalui tatanan yang dinormalisasi. Tidak ada yang bertanggung jawab, tidak ada yang merasa bersalah, sehingga tidak ada yang bergerak untuk mengintervensinya.

Kedua, apa yang konkret sedang kita pertaruhkan. Galtung (1969) memetakan positive peace bukan sebagai ketiadaan konflik terbuka semata melainkan sebagai kapasitas kolektif untuk mengelola perbedaan secara konstruktif. Kapasitas itulah yang sedang digerus. Conflict literacy tidak bisa tumbuh dari sistem kognisi yang terbiasa dikonsumsi dalam format tujuh detik. Dan ketika warga tidak lagi mampu membaca konflik secara utuh, positive peace tidak punya tanah untuk berpijak.

Ketiga, mengapa ini relevan sebagai isu keamanan nasional alih-alih sekadar isu pendidikan. Kita cenderung mengenali ancaman terhadap stabilitas dalam bentuk yang dramatis dan mudah diberi nama yaitu provokasi, hoaks, agitasi.

Yang lebih sulit kita kenali adalah ancaman yang datang dalam bentuk yang terasa biasa saja, bahkan menyenangkan.

Daya nalar yang terkikis perlahan tidak meledak dengan bunyi yang keras. Ia menghilang dengan senyap, satu scroll pada satu waktu, sampai yang tersisa adalah warga yang masih bisa berteriak tentang isu nasional tapi tidak lagi bisa membaca konflik yang sesungguhnya bergerak di bawah permukaan.

Nasionalisme yang sehat tidak bisa hidup tanpa warga yang mampu menimbang, mampu singgah di bagian tengah, mampu membedakan antara reaksi emosional dan respons yang konstruktif.

Galtung tidak menulis tentang algoritma. Tapi ia menulis tentang kondisi yang membuat kerusakan terasa wajar sampai tidak ada yang mau menyebutnya kerusakan.

Brainrot adalah kondisi itu. Dan kita, tanpa banyak yang menyadarinya, sedang membiarkannya bekerja lebih dalam dari seharusnya.

*) Penulis merupakan Mahasiswa Magister Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Kader IMM Korkom UNHAS, Pegiat di Kampus Gagasan dan co-founder gerakan literasi digital @publicchoice_id

Facebook Comments Box