Home Mimbar Ide Prostitusi : Budaya Patriarki dan Eksploitasi Perempuan

Prostitusi : Budaya Patriarki dan Eksploitasi Perempuan

230
0
Ilustrasi

Oleh : Arifudin*

Pada hari senin tanggal 7 januari 2019 jam 7 pagi, saya mengambil gadget dan membuka sosial media facebook. Seperti biasa saya sangat senang ketika klik menu history, yah sekedar melihat apa yang sedang dan telah viral. Kebetulan saya tidak begitu mengamati dan menjadi “nitizen” yang baik untuk sekedar mencari tahu apa yang sedang viral.

Dan tidak perlu waktu lama saya menemukan sesuatu yang cukup tranding. Kebetulan muncul di beberapa akun-akun media berita online dan akun-akun tranding (sulit saya mendefinisikan akun-akun ini). Disini saya membaca sesuatu yang viral bertopik_kan prostitusi dan melibatkan dua orang beda jenis kelamin.

Hanya saja dua orang beda jenis kelamin ini, bukan masyarakat biasa. Salah satu dari mereka yang berjenis kelamin perempuan adalah dari kalangan (public figure). Dia berinisial VS, perempuan cantik, manis berambut Panjang dan berhidung mancung. Perempuan kelahiran Jakarta, 21 Desember 1991 ini dapat dikatakan menjadi objek visualisasi yang baik untuk sebagian lelaki.

VS adalah aktris, model dan penyanyi dan di tahun 2008 menjadi awal karirnya sebagai pekerja seni peran. Tak cukup waktu lama untuk VS tampil sebagai sosok yang selalu hadir di layar TV melalui acara FTV. Dan bagi saya waktu itu yang masih duduk di bangku SMA VS ada sosok perempuan yang cukup indah secara visual.

Namun, seketika imaji saya tentang VS buyar karena kasus dialaminya saat ini. Dan kekecewaan saya ini bukan apa yang dia lakukan dan dianggaap sebagai perilaku melangga hukum. Melainkan kerena perlakuan yang dia terima secara hukum dan pemberitaan media (elektronik, cetak dan online).

Dan disini aparat hukum juga mengambil peran cukup penting. Tepat hari minggu 6 januari 2019 di POLDA jatim VS melakukan permintaan meminta maaf di depan media. “saya menyadari bahwa kesalahan dan kekhilafan yang saya lakukan telah merugikan banyak orang”.

Dari apa yang dilakukan VS di depan media adalah eksploitasi nyata terjadi. Bagaimana tidak, kasus prostitusi yang menjerat dirinya terjadi melibatkan orang kedua. Adanya aktivitas transaksi, kecocokan dan melakukan hubungan sex, sederhanya seperti itu.

Orang kedua ini, tentunya adalah laki-laki. Laki-laki dengan peran sebagai pihak yang memastikan aktivitas prostitusi ini terjadi. Dan sosok laki-laki malah luput dari sorotan media dan lingkaran hukum. Ada apa dan mengapa actor penting (laki-laki) ini cukup tenang dan posisinya? Apakah karena dia memiliki kuasa lebih sebagai lelaki? Atau kerena dia ada sosok yang tidak biasa?

Entah seperti apa dia dengan latar belakangnya. Namun, yang cukup menarik bagi saya dalam kasus ini adalah adanya relasi budaya Patriarki. Walby mendefinisikan “patriarki sebagai sistem struktur sosial dan praktek-praktek di mana laki-laki mendominasi, menindas dan mengeksploitasi perempuan”.

Dia menambahkan, jika patriarki sebagai sistem karena hal ini membantu kita untuk menolak gagasan determinisme biologis (yang mengatakan bahwa pria dan wanita secara alami berbeda berdasarkan biologi atau tubuh dan, oleh karena itu ditetapkan peran yang berbeda) atau “gagasan bahwa setiap individu manusia adalah selalu di posisi dominan dan setiap wanita di salah satu bawahan”.

Disini, VS selain hadir sebagai posisi yang didominasi dan juga dieksploitasi dalam bentuk menempatkan dia sebagai sosok yang dipersalahkan atas kasus prostitusi. Dia tidak hanya dipersalahkan dimata hukum, tetapi juga dipemberitaan media dengan menggiring opini public bahwa hanya VS adalah pelaku yang terlibat dalam kasus ini.

Eksploitasi VS tidak  berhenti sampai disitu saja. Dia diekspose baik media elektronik, cetak maupun media online. Media ramai-ramai memberitakan kasus yang dialaminya. Mulai dari menceritakan kronologi kejadian sampai dia terciduk oleh aparat hukum.

Bahkan kehidupan pribadi sampai menarik hingga perjalanan hidup VS pun tak luput dari pewancanaan media. Dengan begini memungkinkan lahir sebuah stigma public terhadap VS sebagai perempuan tidak biasa lagi.

Dan yang sangat mengganggu saya, mengapa harus VS meminta maaf di depan media?? Apakah dia salah atas kasus prostitusi?? Dimana sosok laki-laki yang pastinya terlibat?? Dan peran-peran tangan-tangan tak terlihat lainnya??

Dengan begini, VS tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. VS menjadi sosok yang dipandang tidak penting dan pantas untuk terus dieksploitasi atau biasa disebut perempuan subordinasi. Sultana (2011) menjelaskan “subordinasi berarti memiliki lebih sedikit kekuasaan atau otoritas daripada orang lain dalam kelompok atau organisasi”.

Sultana (2011) menambahkan perempuan subordinasi mengacu pada posisi yang lebih rendah perempuan, kurangnya akses ke sumber daya dan pengambilan keputusan. Dan tentunya dominasi patriarki yang dikenakan perempuan pada sebagian besar masyarakat. Dengan demikian menjadikan perempuan pada posisi yang lebih rendah terhadap laki-laki.

Perasaan ketidakberdayaan, diskriminasi dan pengalaman terbatas harga diri dan kepercayaan diri bersama-sama memberikan kontribusi untuk penghinaan terhadap perempuan. Jadi, perempuan adalah situasi, di mana ada hubungan kekuasaan dan laki-laki mendominasi perempuan. Penghinaan terhadap perempuan adalah fitur utama struktur dominasi interpersonal.Subordinasi yang terjadi pada kehidupan sehari-hari terjadi pada berbagai bentuk-diskriminasi. Seperti  mengabaikan penghinaan, kontrol, eksploitasi, penindasan, kekerasan-dalam keluarga, di tempat kerja, dalam masyarakat.

Subordinasi dalam bentuk yang paling nyata saat ini adalah apa yang dialami oleh VS. Melanggengkan praktek budaya patriarki berarti kita melanggengkan praktek subordinasi pada perempuan mana saja, maka dosa ini tidak berekesudahan.

Mataram, 10/01/19

*) Penulis adalah Mahasiswa PPKN Universitas Muhammadiyah Mataram

Facebook Comments