Beranda Cerpen Reinkarnasi

Reinkarnasi

0
Ilustrasi

Oleh : Muhammad Lutfi*

Kayangan sedang bersuka ria. Para Dewa sedang berpesta menyambut para Pandawa di Kayangan. Begawan Indra memimpin jalannya pesta itu. Begawan Bayu, Begawan Narada, serta Dewa Ismoyo turut hadir menyambut para Pandawa masuk ke Kayangan. Mereka siapkan madu-madu Kayangan dan persik Kayangan. Para Dewi sudah siap menari dan menyanyi menyambut para Pandawa.

Pandawa masuk ke kayangan di pimpin Puntadewa di barisan terdepan. Disusul Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Para Dewi mengkalungkan rangkaian bunga dan mengucapkan selamat pada mereka ber-lima. Puntadewa seperti kebingungan. Dia menoleh ke kanan-kiri mencari sesuatu di kayangan.

“Raden Puntadewa, kenapa seperti orang kebingungan?”
“Saya sedang mencari sesuatu.”
“Sesuatu apa yang Raden cari?”
“Aku mencari istriku, Begawan.”
“Maksud Raden, Nyai Drupadi?”
“Di mana dia, Begawan?”
“Nyai Drupadi berada di bilik kamar bersama Dewi-Dewi. Nanti, Raden Puntadewa bisa bertemu dengannya.”

Raden Puntadewa ternyata sedang kebingungan mencari sosok istrinya. Begawan Indra sebagai Dewa, mestinya tahu kebingungan hati pemimpin Pandawa itu. Begawan Indra memberitahukan kepada Raden Puntadewa bahwa istrinya sedang berada di kamar Dewi-Dewi.

Para Pandawa dipersilakan duduk oleh Begawan Indra. Begawan Narada memulai menabuh gendang Dewa-nya. Dia mainkan lagu-lagu kedamaian menentramkan kayangan. Para Dewi mulai menari dengan tarian selendang-selendang mereka yang berwarna pelangi itu.

Raden Bima berdiri, dia angkat kakinya di kursi sambil meminta Begawan Narada mengehntikan musiknya. Dia tanyakan perihal keberadaan istrinya: Nyai Arimbi.
“Berhenti, Narada!”
“Ada apa Raden Bima?”
“Di mana istriku Nyai Arimbi, di mana dia?”
“Sabar Raden! Dia masih di bumi mengajarkan kebajikan kepada pasukannya.”
“Wah… tidak bisa begitu! Drupadi saja sudah di Kayangan. Nyai Arimbi tidak kamu bawa kemari juga. Mau aku guncangkan tiang-tiang Kayangan?”
“Sabar Raden! Bukankah di kayangan ini sudah ada Dewi-Dewi yang lebih cantik dari Nyai Arimbi?”
“Kamu meledek Istriku, Narada!?”
“Tidak Raden…”
“Mau tidak mau… Arimbi harus bersamaku. Kalau tidak ada Arimbi, Gatotkaca tidak terlahir ke dunia. Dia berjasa besar bagi bumi dan Kayangan. Dia pernah membantu kalian memerangi angkara murka. Dia pernah menjadi pahlawan melawan Karna yang sakti mandraguna itu.”
“Sabar Raden, sekali lagi saya mohon Raden Bima sabar!”
Begawan Narada menghentikan tabuhan gendang Dewa-nya. Bima benar-benar marah dan mengancam akan memporak-porandakan Kayangan jika Arimbi tidak dibawa bersamanya. Begawan Bayu segera bertindak. Dia tenangkan anaknya yang memang suka marah-marah.
“Tenang, Anakku!”
“Saya, Bopo!”
“Sebagai Ksatriya, tidak seharusnya kamu itu bertindak suka marah-marah. Marah-marah telah menjadi kebiasaanmu. Kamu memang Ksatria pilih tanding. Kamu memang Kstaria yang telah lolos uji coba. Tapi watak marah-marahmu itu tidak kunjung hilang-hilang!?”
“Saya, Bopo!”

Begitu Begawan Bayu menenangkan kemarahan Bima, Kstaria pemberani dari Pandawa itu duduk kembali di kursinya. Keadaan menjadi tenang kembali. Bima menahan kemarahan dengan wajahnya yang musam. Dia tak suka dihentikan, tetapi yang bertindak adalah ayahnya: Begawan Bayu. Terpaksa, Raden Bima duduk kembali di kursinya.

Alunan irama Begawan Narada kembali menggema. Dia nyanyikan kidung kemenangan sebagai tanda kemenangan yang telah diraih para Pandawa. Arjuna melihat keresahan dari kakaknya: Raden Bima. Arjuna tahu, kalau hari ini mungkin Bima bisa dihentikan. Tetapi, ketika Begawan Bayu sedang tidak ada di Kayangan, mungkin Raden Bima akan marah-marah lagi. Siapa juga yang berani dengan Ksatriya bertubuh tinggi dan besar, berotot kekar dan perkasa itu. Siapa pun yang berurusan dengannya, pasti akan berpikir dua kali. Karena pukulan dari tangan Bima itu memang benar-benar menyakitkan. Bisa membuat orang terkapar tak sadarkan diri jika terkena pukulannya.

Arjuna tengak-tengok seluruh isi Kayangan. Dia masih menyimpan kangen untuk Ulupi. Seorang wanita yang cantik dan mengajarkannya berbagai macam pengobatan dan kesaktian. Arjuna teringat istrinya: Nyai Ulupi. Dia bimbang ketika harus menahan rasa kangen pada istrinya itu. Bagi Arjuna, Ulupi adalah wanita cantik tiada banding. Arjuna berbisik kepada raden bima, mengenai masalah isi hatinya itu. Dia katakan merasa tidak betah di Kayangan. Dia ingin bertemu Nyai Ulupi. Bima yang berwatak terus terang itu mengatakan isi hati adiknya pada Begawan Indra.
“Begawan, adikku ingin menyampaikan isi hatinya melalui aku!”
“Sampaikanlah!”
“Begini Begawan, Permadi kangen.”
“Kangen…?”
“Kangen pada Ulupi, Begawan.”
Semua penghuni Kayangan terkekeh. Termasuk para Pandawa dan Begawan Narada. Permadi sendiri tersipu malu. Dia diketawai oleh seluruh penghuni Kayangan. Ksatria penengah Pandawa yang bernama Arjuna atau Permadi ini  menutup mukanya dengan selendang Kayangan.
“Jangan malu, adikku, Raden Permadi!”
Bima semakin  berbicara meledek adiknya itu. Raden Bima tahu watak Raden Permadi. Jika sedang kasmaran dan kangen pada wanita, perasaannya itu tak bisa ditahan. Permadi pasti akan nekat melakukan sesuatu untuk bisa bertemu Ulupi. Permadi makin tersipu malu. Permadi bisik-bisik pada saudara kembarnya: Nakula dan Sadewa.
“Adikku terkasih, aku rasanya ingin minggat dari Kayangan!”
“Jangan, Kangmas!”
“Aku tak tahan ingin bertemu Ulupi. Wajahnya membayangi pikiranku terus.”
“Kalau Kangmas pergi, Kangmas Puntadewa pasti akan bersedih jika Kangmas tidak ada di sisinya!”
“Kangmas Puntadewa sudah berada di Kayangan. Lagian, Istrinya juga berada di Kayangan. Lha aku… Ulupi masih di bumi. Aku harus bertemu dengan Ulupi.”
Permadi benar-benar tidak bisa menahan rasa kangen bertemu istrinya itu. Ulupi sudah membayang-bayangi Raden Permadi. Permadi tak ada pilihan lagi, dia benar-benar ingin minggat dari Kayangan.
“Kangmas…”
“Ada apa cah bagus, Permadi?”
“Aku akan minggat dari Kayangan.”
“Bertemu Ulupi?”
“Bener Kangmas.”
“Bukankah Dewi-Dewi di sini lebih cantik dari Ulupi!?”
“Ini soal rasa…, Kangmas!”
“Ati-ati cah bagus, Permadi! Kalau sampai ke bumi, kabarkan salamku pada Nyai Arimbi.”
“Laksanakan, Kangmas!”
Permadi sudah meminta restu Raden Bima. Raden Bima sudah mengijinkannya pergi menemui Nyai Ulupi. Dia benar-benar nekat akan melakukan itu. Permadi berjalan ke luar Kayangan. Dia paksa prajurit Kayangan membuka gerbang.
“Buka gerbangnya!”
“Mau apa Raden Permadi?”
“Aku akan turun kembali ke bumi!”
“Di sini lebih nikmat, Raden!”
“Kebanyakan bicara, minggir!”

Permadi terlibat perkelahian dengan prajurit Kayangan, karena prajurit Kayangan tidak mau membuka pintu untuk Raden Permadi. Prajurit Kayangan terpaksa meladeni Raden Permadi yang sudah dianggap sebagai anak angkat Begawan Indra. Permadi mengeluarkan ketangkasannya. Dia panggil senjata pamungkas: Pasopati, untuk mengalahkan prajurit kayangan. Kedua prajurit itu tahu, jika harus berhadapan dengan Pasopati, maka mereka tidak akan bertahan. Kedua prajurit itu terpaksa mundur dan mengalah. Mereka lari dan melaporkannya pada Begawan Indra. Raden Permadi menghancurkan gerbang Kayangan dengan Pasopati. Gerbang Kayangan hancur seketika. Membuat hawa sejuk dari Kayangan turun tertumpah ke bumi.
“Begawan, lapor Begawan.”
“Aku suruh kalian jaga gerbang Kayangan, malah lari-lari ke sini. Jika ada musuh masuk Kayangan, kalian yang nantinya aku hukum!”
“Raden Permadi…”
“Ada apa dengan Permadi?”
“Dia turun kembali ke bumi, Begawan!”
“Kurang ajar! Kurang enak apa coba, di Kayangan? Aku perintahkan kalian semua prajurit Kayangan, kejar Permadi dan bawa kembali ke Kayangan! Segera!”
“Siap, Begawan!”
Permadi turun ke bumi. Dia kendarai kuda milik Begawan Indra untuk turun ke bumi. Semua prajurit Kayangan mengejar Permadi ke dunia. Mereka akan menangkap Permadi agar kembali ke Kayangan.

***

Permadi turun di pertapaan Yasarata: tempat tinggal Ulupi berada. Dia suruh kuda putih Kayangan itu untuk kembali ke Kayangan. Dia ingin bertemu dengan istrinya yang sangat dia rindukan. Ketika Permadi masuk ke Yasarata, Begawan Jayawilapa menghadangnya.
“Kamu kelewat nekat, cah bagus Permadi!”
“Saya ingin bertemu dengan Istri terkasihku, Begawan!”
“Kamu memang kelewat nekat!”
“Saya sudah rindu padanya.”
“Begawan Indra sudah memberi tahukan padaku kalau kamu lari dari Kayangan. Kamu lari hanya karena kangen pada anakku!?”
“Saya ingin tinggal bersamanya saja di bumi.”
“Prajurit Kayangan sekarang mengejar kamu di bumi!”
“Saya akan hadapi mereka dengan Pasopati!”
“aku tidak akan ikut campur masalah kayangan.”
Begawan Jayawilapa membuka jalan bagi Permadi. Tetapi, Begawan Jayawilapa tidak akan ikut campur masalah Permadi dengan Kayangan. Permadi berlari menuju Pesanggrahan istrinya. Dia membuka pintu kamar Ulupi. Ulupi sedang berbaring tidur.
“Istriku…”
“Kangmas…?”
“Aku kangen kepadamu, Ulupi.”
“Bukankah kangmas sudah naik ke Kayangan?”
“Aku kebayang-bayang wajahmu!”
Ulupi menyambut kedatangan suaminya. Dia berlari di pelukan Permadi. Permadi merasakan kehangatan mendesir di tubuhnya. Ulupi telah memberikannya kehangatan dan cinta. Ulupi adalah wajah terkasih yang selalu dirindukan Permadi.
Ketika mereka sedang menikmati pelukan rindu itu, parjurit Kayangan sudah mengepung mereka. Mereka meminta Raden Permadi untuk kembali ke Kayangan. Permadi enggan menerima ajakan itu. Dia hanya ingin Ulupi.
“Prajurit Kayangan, jangan ganggu ketentramanku!”
“Begawan Indra meminta Raden untuk kembali ke Kayangan!”
“Aku menolak! Aku hanya ingin bersama Ulupi.”
“Kami terpaksa melakukan perlawanan!”
“Lakukan!”

Permadi melepaskan pelukan. Dia meloncat di kerumunan prajurit Kayangan. Sekali lagi, Permadi menggunakan Pasopati. Cahaya biru mengkilat itu mengguncang bumi. Prajurit Kayangan bergerak mundur. Jika mereka nekat melawan Pasopati, maka mereka akan menjadi debu. Mereka kembali ke Kayangan.

Permadi kembali ke pelukan Nyai Ulupi. Dia ciumi istrinya yang sangat dia sayangi itu. Dia merindukan istrinya, nyai Ulupi. Ulupi membawa suaminya masuk. Permadi menutup pintu. Segera Permadi merebahkan tubuhnya ke pembaringan. Tiba-tiba, terbayang wajah Raden Bima yang garang berbicara pada Permadi tentang Nyai Arimbi. Raden Permadi sudah berjanji untuk menyampaikan pesan Raden Bima ketika sudah turun ke bumi kepada Nyai Arimbi. Dia berlari kembali teringat pesan Raden Bima.

“Mau ke mana Kangmas? Tunggu!”
“Aku pergi sebentar, Nyai Ulupi! Aku hanya ingin menyampaikan pesan Raden Bima pada Nyai Arimbi. Sebentar!”
“Kangmas…..” Nyai Ulupi terduduk lemas di depan pintu yang terbuka.

Pati, 2020

*) Penulis lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Seorang penyair dan sastrawan. Penulis bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, JATENG. Penulis dapat dihubungi melalui; email: wijayajaya15@yahoo.com,

Facebook Comments
ADVERTISEMENT