Home Lensa Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Harap Antropolog Fokus Isu Lingkungan Hidup

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Harap Antropolog Fokus Isu Lingkungan Hidup

0
ADVERTISEMENT

Matakita.co, Jakarta – Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI berharap antropolog sudah saatnya advanced di dalam banyak hal, memahami banyak sekali konsep, harusnya memiliki sebuah fokus yang sangat penting, yaitu terkait dengan lingkungan hidup.

“Sudah banyak dalam pengamatan saya dan mungkin AAI juga sudah punya database Kalangan muda sekarang ini yang sangat aktif menjadikan antropologi juga sebagai kritik sosial, atau kritik kultural. Ini yang kritik yang biasanya tidak enak dibaca, karena menggugat nilai yang mapan. Dan mungkin juga unacceptable dalam beberapa hal, tapi perlu,” katanya dalam Kongres AAI yang diselenggarakan secara daring, Sabtu (10/4/2021).

Himar juga sangat berharap AAI juga bisa berkontribusi untuk membantu mensintesa berbagai macam temuan yang ada selama ini dan dari sana kemudian melahirkan agenda-agenda kebudayaan yang baru. AAI sebagai wadah dari para Antropolog terus menyinari jalan panjang Indonesia untuk memajukan kebudayaan.

Advertisemen

Menurutnya, Pandemi Covid-19 mengingatkan bahwa manusia dengan segala kehebatan dan keunggulan yang diciptakannya ternyata disposable. Ini adalah peringatan dan kritik terhadap pandangan antroposentrik yang melahirkan apa yang sekarang kita sebut anthropocene.

“Ini adalah suatu masa di mana manusia begitu besar pengaruhnya terhadap lingkungan dan oleh karena itu sangat perlu menata kembali hubungan kita, tak hanya antar manusia tetapi juga dengan alam,” katanya.

Lebih lanjut Hilmar mengatakan bahwa ilmu antropologi merupakan sentral untuk mengulas kembali konsep-konsep dasar yang menjadi landasan hidup. Peran antropolog bukan hanya sekedar sebagai penasehat, tetapi harus menjadi penjuru yang memberikan arah.

“Untuk itu yang diperlukan saat ini adalah critical engagement. Banyak dari kalangan Antropolog yang mendalami kritik Antropologi terhadap pembangunan sejak era 80-an yang abai terhadap kehidupan budaya, sehingga melahirkan penyeragaman, dan banyak sekali problem-problem yang muncul, karena tidak adanya pemahaman tentang kekhususan budaya masyarakat ketika melihat program-program pembangunan.” jelasnya.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT