Home Berdikari Ekonomi Diskusi Jurnal Warung Kopi ; Palestina-Israel Masih Jauh dari Kata Damai

Diskusi Jurnal Warung Kopi ; Palestina-Israel Masih Jauh dari Kata Damai

0
ADVERTISEMENT

Matakita.co, Makassar – Jerusalem, Kota suci bagi tiga agama di dunia, merupakan salah satu sumber utama pertikaian Israel-Palestina selama ini. Baik Israel-Palestina sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka.

Saat ini pula status Yerusalem tetap menjadi salah satu isu pokok dalam Konflik Israel dan Palestina.

Isu ini menjadi tema diskusi seri ke – 2 Jurnal Warung Kopi. Dengan mengangkat tema, “Jerussalem: Kesucian, Konflik dan Keadilan.”

Jurnal Warung Kopi menghadirkan sebagai pembicara,  Dr. Maskun, Agussalim Burhanuddin,  SIP., MIRAP., Akademisi Hubungan Internasional Unhas dan Maskun, SH., LL.M., Akademisi Hukum Internasional Unhas.

Dari diskusi kali ini terkuak, Palestina pada intinya sulit memperoleh keadilan karena  Palestina sebagai satu ‘state’ belum diakui sebagai negara yang berdaulat penuh.

Advertisement

Belum lagi, dukungan dari 149 negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia, belum kuat untuk mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Agussalim Burhanuddin,  mengemukakan bahwa terdapat beberapa alasan utama sehingga Palestina belum memperoleh kemerdekaan secara penuh. Antara lain, masih tingginya konflik internal antar faksi-faksi di dalam Palestina sendiri. Di saat yang sama, dukungan negera-negara yang mendukung negara Palestina, tidak sekuat dari hak veto oleh Dewan Keamanan PBB.

Dipandang oleh Akademisi Unhas yang juga mengkaji resolusi konflik, Dewan Keamanan PBB masih memihak pada Israel. Sementara negara-neagar Arab termasuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) belum menyatu dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina.

Dukungan masyarakat internasional dari berbagai negera menurut Agus, penting untuk terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Tidak hanya dari Umat Islam tapi masyarakat internasional secara umum. Karena persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan.

“Tidak harus menjadi muslim untuk mendukung kemanusiaan di Palestina. Slogan ini terungkap dan menjadi salah satu barisan kalimat mendukung, demi penghentian kekerasan di Palestina.

Sementara itu, Dr. Maskun, melihat dari sisi Hukum Internasional. Aspek krusial yang menjadi dasar pengakuan atas suatu negara.
“Hukum internasional belum kuat mendukung Palestina merdeka,” paparnya.

Lebih jauh Dr. Maskun mengurai, “Setiap entitas yang ada di Palestina, mereka harus bersepakat, Palestina ini sebenarnya mau merdeka atau tidak ?” Karena menurutnya, Sesuai Bab-Bab konvensi yang sudah ada, mereka yang ada di Palestina harus mengangkat atribut yang sama.

Jebolan Ilmu Hukum Unhas ini juga melihat beberapa kecenderungan peristiwa, seolah-olah yang berkonflik hanya Hamas dan Israel. Atau antara, Fatah dan Israel. Bagi Dr. Maskun, Kecenderungan bisa merugikan Palestina untuk menuju sebagai satu State.

Pengajar Kelas Internasional Fakultas Hukum ini mematok solusi atas konflik Israel –  Palestina. Kata kunci menurut pandangannya, “internal faksi-faksi di Palestina, seperti Hamas, Fatah, PLO, PA dan lainnya, harus bersatu terlebih dahulu.  Barulah kemudian Palestina kuat untuk menyuarakan kemerdekaannya.”

Diskusi Jurnal Warung Kopi sesi ke – 2 berlangsung dari siang hingga sore yang berlangsung di hari Jum’at (11/6/2021). Dengan mengambil tempat deskopidi, salah satu kedai di Bukit Baruga. Di hadiri dari berbagai kalangan, yaitu akademisi, mahasiswa, aktifis media dan aktifis pemberdayaan masyarakat.

Seri Diskusi Jurnal Warung Kopi ini dengan peserta terbatas dan tetap mengikuti anjuran protokol kesehatan. Diskusi kali diharapkan terus berlanjut. “Setidaknya, kita bisa adakan dua seri diskusi dalam sebulan,” kunci Wahyuddin Junus, Founder Jurnal Warung Kopi.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT