Matakita.co, Jakarta- Jika orang bijak selalu berpandangan, bahwa tidak semua itu harus di hanguskan, tetapi cari akar masalahnya ataupun kerusakannya.” Hal ini disampaikan Sam Sangadji di dalam siaran tertulis di Kantor BP BUMN Jakarta Pusat. (17/06/2026)
“Seharusnya itulah analogi yang harus di gunakan untuk program MBG maupun KDMP, yang marak mendapatkan protes dari kawan-kawan mahasiswa untuk di stop”.
Sam menjelaskan, sebagai mantan aktivis yang cukup sering berorasi di depan publik bahwa analogi stop program MBG maupun KDKMP, itu hal kurang etis di jaman saat ini, yang memang notabenenya bahwa program kerakyatan itulah sebagai upaya dalam fundamental Indonesia.
“Jika program-program itu di stop, lalu fundamental kita ingin seperti apa. Memberikan bantuan sosial atau membiarkan rakyat kelaparan atau harga-harga tidak terjangkau untuk di beli. Konyol itu namanya!” tegas Sam
Lebih lanjut Sam menjelaskan Jika kawan-kawan mahasiswa atau pengkritik mempunyai program yang ingin di tawarkan ke pemerintah, ‘yah’ ajukan saja, makro dan mikro sedang di upayakan dari kenaikan dollar maupun fundamental dengan program-program strategis Presiden.
Kemudian kata Sam, Jika tidak berjalan baik oleh oknum, masa harus program di stop maupun ganti Presiden. Sedangkan biaya dari demokrasi itu sangat mahal, jadi saya meminta kepada kawan-kawan mahasiswa untuk berpikir realistislah.
Dewam Pembina Prabowo Institut inipun berpesan kepada badan atau lembaga, yang telah diberikan amanat oleh Presiden, melalui Peraturan Presiden maupun instruksi Presiden, untuk menjalankan program dengan baik.
Boleh saja membesarkan badan ataupun institusi yang ada, dengan manajemen ataupun teknsi kerja lainnya, tetapi jika halnya menyampingkan amanat Presiden untuk fundamental itu sendiri, ‘yah’ seperti bayi prematur, yang dipaksakan lahir atau halnya cacat. papar Sam (**)







































