MataKita.co, Gorontalo – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Wisuda XXIII Program Sarjana, Profesi, dan Magister Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Selasa (14/7/2026), ketika Noer Mayang Kaluku, S.Kom., lulusan Program Studi Ilmu Komputer, berjalan perlahan menuju panggung wisuda didampingi sang ayah.
Dengan toga yang dikenakan dan senyum penuh syukur, Noer Mayang melangkah pasti untuk menerima gelar sarjana. Di sampingnya, sang ayah setia menemani setiap langkah. Pemandangan sederhana itu menyimpan kisah perjuangan panjang yang mengundang tepuk tangan sekaligus haru dari para tamu undangan.
Lulusan dengan IPK 3,43 dan predikat Sangat Memuaskan tersebut menjadi salah satu potret bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Kehadirannya juga mempertegas komitmen Universitas Muhammadiyah Gorontalo sebagai kampus yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Usai prosesi wisuda, Noer Mayang mengungkapkan rasa syukur karena berhasil menyelesaikan pendidikannya di UMGO. Ia mengaku selama menempuh studi selalu mendapatkan dukungan dari dosen maupun teman-teman yang tidak pernah membedakan dirinya.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan Program Sarjana, Profesi, dan Magister UMGO. Selama kuliah semuanya berjalan dengan baik. Mungkin saya tidak selesai tepat waktu, tetapi Alhamdulillah akhirnya bisa menyelesaikannya. Fasilitas kampus baik, dosen-dosen selalu merangkul saya, dan teman-teman selalu menjaga serta membantu saya dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Menurutnya, suasana kampus yang penuh kepedulian membuat dirinya mampu melewati berbagai tantangan selama menjalani perkuliahan.
“Terima kasih kepada UMGO yang telah memberikan saya kesempatan untuk kuliah di sini. Terima kasih karena sudah menerima dan ramah kepada saya. Semua dukungan yang saya dapatkan menjadi kekuatan untuk terus bertahan hingga hari ini,” katanya.
Di penghujung wawancara, Noer Mayang menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di telepon genggamnya. Foto itu adalah almarhumah ibunya. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia mengatakan bahwa gelar sarjana yang diraihnya dipersembahkan untuk sang ayah yang tak pernah berhenti mendampingi, kakak-kakaknya yang selalu memberi semangat, dan ibunya yang telah lebih dulu berpulang.
Meski sang ibu tak sempat menyaksikan dirinya mengenakan toga, Noer Mayang percaya setiap doa dan kasih sayang yang pernah diberikan menjadi kekuatan yang mengantarkannya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.
Kepada mahasiswa dan generasi muda, ia menitipkan pesan agar tidak pernah menyerah pada keadaan.
“Jangan pernah lelah untuk belajar. Apa pun keterbatasan yang kita miliki, jangan jadikan itu alasan untuk berhenti. Ketika rasa ingin menyerah datang, jadikan itu sebagai semangat untuk bangkit, terus melangkah, dan membuktikan bahwa kita juga bisa.”
Kisah Noer Mayang menjadi bukti bahwa mimpi tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari keberanian untuk terus berjuang. Langkah yang diantarkan sang ayah menuju panggung wisuda bukan sekadar perjalanan beberapa meter, tetapi simbol kasih sayang, keteguhan, dan harapan yang akhirnya berbuah gelar sarjana. Di Universitas Muhammadiyah Gorontalo, setiap mahasiswa diberi ruang yang sama untuk tumbuh, berprestasi, dan mewujudkan cita-citanya tanpa dibatasi oleh keadaan.







































