Beranda Lensa Kawula17 Goes to School Dorong Pelajar Makassar Jadi Penggerak Isu Lingkungan

Kawula17 Goes to School Dorong Pelajar Makassar Jadi Penggerak Isu Lingkungan

0

Matakita.co, Makassar – Kolaborasi antara komunitas, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah menjadi fondasi pelaksanaan Kawula17 Goes to School (KGTS) 2026 di Makassar. Program yang diinisiasi Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) bersama AIESEC in Universitas Hasanuddin ini menghadirkan ruang belajar kolaboratif bagi pelajar untuk meningkatkan literasi lingkungan sekaligus mendorong partisipasi generasi muda dalam mencari solusi atas berbagai persoalan ekologis.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Kamis (9/7/2026), diikuti pelajar dari MAN 2 Kota Makassar, SMA Negeri 1, 2, 3, 4, 11, 16, 17, 22, dan 23 Makassar, SMK Negeri 9 Makassar, SMK SMAK Makassar, SMAS Zion Makassar, SMAS Metro School Makassar, SMA Negeri 5 Maros, SMA Negeri 1 Pinrang, SMA Negeri 1 Barru, serta perwakilan Forum Anak Sulawesi Selatan dan Forum Pemuda Beraksi Sulawesi Selatan (ForPras).

Selama sehari penuh, peserta mengikuti pembelajaran berbasis Design Thinking. Mereka diajak mengidentifikasi persoalan lingkungan di sekitar, menelusuri akar masalah melalui metode 5 Whys, memetakan pemangku kepentingan (stakeholder mapping), berdialog dengan komunitas lingkungan, hingga merancang solusi yang dipresentasikan pada akhir kegiatan.

Untuk memperkaya perspektif peserta, sejumlah organisasi lingkungan turut berbagi pengalaman, di antaranya Satya Bumi, Blue Forests, WALHI Sulawesi Selatan, Green Generation Sulawesi Selatan, dan LaporIklim. Kehadiran berbagai komunitas tersebut memberikan gambaran mengenai beragam tantangan lingkungan sekaligus praktik baik yang telah dilakukan di lapangan.

Research Fellow Kawula17 Goes to School, Hendra, mengatakan isu lingkungan dipilih karena merupakan persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar. Menurut dia, pendekatan tersebut juga menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan sistematis.

“Kami ingin pelajar tidak hanya menyadari adanya persoalan lingkungan di kota mereka, tetapi juga memahami bahwa mereka memiliki hak sebagai warga negara untuk memperoleh lingkungan yang layak,” ujarnya.

Hendra menambahkan, antusiasme peserta tetap tinggi sepanjang kegiatan meskipun berlangsung pada masa libur sekolah. Ia berharap gagasan dan aspirasi yang dirumuskan peserta dapat menjadi pemantik perubahan di lingkungan sekitar sekaligus menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan generasi muda.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, S.STP., M.M., menilai keterlibatan komunitas dan organisasi kepemudaan merupakan bagian penting dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

“Makassar saat ini menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari perubahan iklim hingga meningkatnya produksi sampah. Karena itu, kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan komunitas dan organisasi kepemudaan untuk mewujudkan Makassar yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” katanya.

Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas mencatat, berdasarkan evaluasi pelaksanaan Kawula17 Goes to School di berbagai kota pada tahun sebelumnya, program ini mampu mendorong peningkatan partisipasi pelajar, dari sekadar menjadi pengamat (spectator) menjadi pelaku utama (frontliner) yang aktif mengawal isu sosial dan lingkungan di daerahnya.

Melalui penyelenggaraan Kawula17 Goes to School 2026, PP17 bersama para mitra berharap semakin banyak generasi muda di Makassar yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus terdorong mengambil peran nyata dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.

Facebook Comments Box