Matakita.co, Gorontalo — Kabar duka menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah Gorontalo. Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Gorontalo, Dr. Wawan K. Tolinggi, S.P., M.Si., dikabarkan meninggal dunia pada Senin (10/8/2026).
Kabar berpulangnya Wawan beredar di sejumlah grup Majelis dan Lembaga PWM Gorontalo sekitar pukul 17.58 WITA. Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus sejumlah gagasan terkait gerakan lingkungan yang sempat dirancang bersama unsur Muhammadiyah di Gorontalo.
Salah satu kenangan mengenai Wawan disampaikan Badan Pengurus Lazismu Wilayah Gorontalo, Abd. Mujahid Ngou, SH. Ia mengenang pertemuan dengan Wawan pada 9 Maret 2026 atau 20 Ramadhan 1447 Hijriah di Daqam Cafe Masjid Darul Arqam Gorontalo.
Pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 22.38 WITA itu dihadiri unsur Lazismu Gorontalo, Sekretaris PWM Gorontalo, Sekretaris Aisyiyah, serta Wawan selaku Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Gorontalo.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membicarakan gagasan GSS atau Gerakan Sedekah Sampah, sebuah gerakan yang dirancang untuk menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan semangat filantropi.
Gerakan tersebut direncanakan dimulai dari sejumlah masjid unggulan di Gorontalo. Melalui gagasan itu, sampah tidak hanya dipandang sebagai barang yang harus dibuang, tetapi dapat dikelola sehingga memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial yang kemudian diarahkan menjadi sedekah.
Mujahid mengatakan, Wawan menunjukkan antusiasme besar saat membicarakan rencana tersebut. Bahkan, tak lama setelah pertemuan malam itu, Wawan mengajaknya menemui salah satu pengurus masjid untuk membicarakan langkah awal pelaksanaan program.
“Begitu antusias. Begitu hidup. Begitu yakin bahwa gagasan itu harus segera diwujudkan. Bahkan belum sempat sehari berlalu, keesokan subuhnya beliau langsung mengajak saya bertemu dengan salah satu takmir masjid,” kenang Mujahid.
Menurut Mujahid, pertemuan tersebut kini memiliki makna berbeda setelah Wawan berpulang. Rencana yang semula dibicarakan sebagai sebuah program kini menjadi amanah untuk dilanjutkan.
“Saya pikir, kami sedang memulai sebuah program. Ternyata, Allah sedang menuliskan sebuah kenangan,” ujarnya.
Ia berharap Gerakan Sedekah Sampah yang pernah dirancang bersama Wawan tetap dapat diwujudkan. Keberlanjutan gagasan tersebut sekaligus diharapkan menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap kontribusi Wawan dalam mendorong kepedulian lingkungan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Mungkin Allah tidak menakdirkan beliau untuk melihat Gerakan Sedekah Sampah itu tumbuh dan berjalan. Tetapi insyaAllah, setiap langkah yang kelak lahir dari gagasan yang pernah beliau perjuangkan akan menjadi bagian dari amal jariyahnya,” kata Mujahid.
Bagi Mujahid, Wawan tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi orang-orang yang mengenalnya, tetapi juga gagasan dan keteladanan yang dapat diteruskan.
“Ada manusia yang kepergiannya meninggalkan kesedihan. Namun, ada pula manusia yang kepergiannya meninggalkan gagasan, keteladanan, dan pekerjaan baik yang harus diteruskan,” tuturnya.
Mujahid pun menyampaikan belasungkawa dan doa atas kepergian Wawan.
“Selamat jalan, Pak Doktor Wawan. Terima kasih atas waktu, semangat, gagasan, dan ketulusan yang pernah engkau titipkan kepada kami. InsyaAllah, gagasan baik itu tidak akan kami biarkan berhenti bersama kepergianmu,” ujarnya.
Ia mendoakan agar almarhum mendapat ampunan, diterima seluruh amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun. Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu,” kata Mujahid.







































