MataKita.co, Luwu Timur — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan pelatihan pemanfaatan teknologi pemetaan digital berbasis Web Geographic Information System (WebGIS) kepada masyarakat di Kawasan Transmigrasi Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mulai Minggu (25/10/2026).
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi, mengelola, dan menyajikan informasi potensi wilayah secara digital sebagai dasar perencanaan pembangunan dan pengembangan ekonomi kawasan.
Kegiatan ini melibatkan kepala desa dan perwakilan masyarakat dari empat desa, yakni Libukan Mandiri, Kalosi, Buangin, dan Mahalona. Para peserta diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi geospasial untuk mendukung pemetaan sumber daya dan potensi ekonomi lokal.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot Mahalona, Regita Faridatunisa Wijayanti, mengatakan, penggunaan WebGIS diharapkan dapat memperluas akses informasi mengenai kondisi dan potensi Kawasan Transmigrasi Mahalona.
Melalui sistem tersebut, pemerintah, calon investor, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memperoleh gambaran mengenai karakteristik wilayah tanpa harus melakukan kunjungan langsung pada tahap awal.
“Melalui sistem WebGIS ini, kami berharap investor, pemerintah, maupun para pemangku kepentingan dapat melihat dan mengakses informasi mengenai Kawasan Transmigrasi Mahalona secara lebih mudah tanpa harus datang langsung ke kawasan. Dengan begitu, potensi dan peluang pengembangan yang ada di Mahalona dapat diketahui secara lebih luas,” ujar Regita.
WebGIS memungkinkan berbagai informasi wilayah disajikan melalui peta digital yang dapat diakses secara daring. Data tersebut antara lain mencakup sebaran lahan pertanian, komoditas unggulan, akses transportasi, serta infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Informasi yang terintegrasi diharapkan dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengidentifikasi potensi pengembangan agribisnis, menentukan prioritas pembangunan, serta memperkenalkan peluang investasi di kawasan transmigrasi.
Menurut Regita, pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengelola informasi wilayah secara mandiri dan berkelanjutan.
“Pelatihan WebGIS ini merupakan langkah positif untuk membantu masyarakat mengenali dan menyajikan potensi wilayah secara lebih sistematis. Kami berharap pengetahuan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, ketersediaan informasi yang akurat dan mudah diakses dapat mendukung pengambilan keputusan dalam pembangunan wilayah, khususnya pengembangan sektor pertanian dan peluang kerja sama ekonomi.
Salah seorang perwakilan masyarakat Mahalona, Syarifuddin, menyambut positif pelatihan tersebut. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan kawasan.
“Harapannya, ilmu yang telah diberikan kepada masyarakat Mahalona, seperti pelatihan WebGIS ini, bisa kami implementasikan dan kembangkan ke depannya. Dengan begitu, pengetahuan yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Mahalona,” ujar Syarifuddin.
Pemanfaatan WebGIS secara berkelanjutan membutuhkan dukungan pengelolaan data yang konsisten, termasuk pembaruan informasi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia di tingkat desa.
Karena itu, keterlibatan pemerintah desa, masyarakat, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi penting agar sistem pemetaan digital tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.
Melalui kegiatan ini, Tim Ekspedisi Patriot Unhas berupaya mendorong pemanfaatan teknologi geospasial sebagai instrumen pendukung perencanaan pembangunan berbasis data sekaligus memperluas akses informasi mengenai potensi ekonomi Kawasan Transmigrasi Mahalona.








































