Beranda Lensa Bahas Difabel Perempuan, Women’s Inspire #6 LSKP Hadirkan Nabila May Sweetha

Bahas Difabel Perempuan, Women’s Inspire #6 LSKP Hadirkan Nabila May Sweetha

0

Matakita.co, Makassar – Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) didukung oleh  Women’s Democracy Network dan International Republican Institute dan kerjasama dengan Kaukus Perempuan Sulawesi Selatan serta Kaukus Perempuan Politik Sulawesi Selatan melaksanakan Women’s Inspire.  (6/7/2021)

Women’s Inspire Edisi #6 ini dipandu oleh Reviva Fachrunnisa sebagai host dan menghadirkan narasumber yakni Nabila May Sweetha selaku Pengurus Divisi Produksi Pengetahuan Publikasi Informasi dan Komunikasi Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan Sulawesi Selatan yang akrab disapa Lala.

Women’s Inspire Edisi #6 mengangkat tema “Ada Apa dengan Difabel Perempuan?”, dengan narasumber yang inspiratif dan aktif dalam menulis menyuarakan hak-hak perempuan terkhususnya difabel dibeberapa media. Women’s Inspire dilaksanakan secara virtual melalui live streaming di instagram @lskp.id dan @perdikofficial. Peserta diskusi yang akrab disebut Sahabat Publik Yang Kritis sangat antusias dalam mengikuti women’s Inspire Edisi #6.

Reviva Fachrunnisa selaku host membuka bahasan dialog dengan perkenalan Kegiatan Women’s Inspire, pemaparan profil narasumber dan dialog interaktif bersama narasumber. 

Lala rutin menulis selama mengisi kekosongan waktu disela menunggu masuknya pendaftaran mahasiswa baru. Kebutaan yang dialaminya bukan bawaan dari lahir. Tetapi, penyakit yang mengakibatkan matanya perlahan kehilangan penglihatan. Saat itu, Lala sempat merasa depresi akan masalah yang menghadapinya seakan-akan hidup tidak berguna di dunia ini.

Lala kemudian mengikuti social justice youth camp dimana pada saat itu dia tak menduga memenangkan essai terbaik. Hal itu mengantar dia menyadari kemampuannya dalam menulis dan terus mengembangkannya. Lewat menulis membuat lala bisa menunjukkan kepada dunia bahwa difabel juga punya kesempatan yang sama.

Tergabung dengan PerDik membuat Lala melihat dunia dengan secercah harapan dan membawa ia sampai pada titik sekarang. Menjadi difabel tidak membuat dia untuk berhenti terhadap mimpi-mimpinya. 

Lala berbagi pengalaman terkait diskriminasi di bidang pendidikan terhadap kaum difabel. Diskriminasi tidak bisa untuk dihentikan. Tetapi, kita dapat dapat mengontrol bagaimana menanggapi hal itu dan menjadikannya sebagai penguat dalam diri. Upaya dalam mencegah diskriminasi sudah sejak dulu dilakukan oleh pemerintah, tapi hal itu kembali kepada diri kita untuk melawan diskriminasi itu. 

Dengan berpendidikan menjadikan hidup lebih maju dan keluar dari hegemoni cacat bahwa difabel juga bisa melakukan sesuatu.” Jelas Lala.

Lala juga sempat ditolak di salah satu SMA di Makassar yang letaknya tidak jauh dari tempat dia tinggal. Hal ini dikarenakan tidak adanya tenaga pendidik yang bisa mengajar tunanetra di sekolah tersebut, namun Lala tetap memperjuangkan haknya untuk tetap bersekolah disana. Meskipun mengalami berbagai masalah. 

“pintar itu bukan hanya tentang melukis, pintar itu bukan tentang membaca dengan lisan” jelasnya optikmiş. 

Lala sempat mengalami kendala dalam berteman, tetapi dengan terus bersifat positif dan hanya fokus pada teman-teman yang memberi semangat membangun, Lala juga bercerita bahwa dibesarkan dari keluarga yang berpisah, mengharuskan Lala untuk lebih kuat, tetapi Lala tetap membangun hubungan baik dengan kedua orang tuanya. 

Saat ini, Lala telah dinyata lulus dalam ujian SBMPTN masuk perguruan tinggi negeri dan berstatus Mahasiswa Prodi Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin. Lala memilih jurusan politik karena terinspirasi dari sosok seorang Ayahnya yang juga terjun di bidang politik. Lala menyadari bahwa kemandirian sangat diperlukan seorang difabel untuk tidak bergantung kepada orang tua dan lebih memikirkan kedepannya. 

Lala juga menyampaikan pandangannya mengenai kebijakan yang hadir saat ini sudah mulai membuka ruang bagi disabilitas. Hal tersebut menunjukkan pemerintah sekarang sudah lebih paham terkait masalah difabel di Indonesia hingga gencar bekerjasama dengan komunitas yang aktif membantu kaum difabel. 

Akhir sesi, Lala berharap untuk bisa tetap kuat dan terus berkarya. PerDIK akan tetap menjadi supporting system dan selalu jadi rumah untuk tempatnya pulang, sarana publik juga bisa lebih diakses untuk kaum difabel. 

“lakukan apapun itu entah sekecil apapun. sebagaimanpun kecilnya akan berdampak pada lingkungan kita. Kita harus percaya bahwa Kita semua dapat bahagia dan mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang yang berjalan dengan kakinya dengan orang-orang yang berbicara dengan mulutnya” tutupnya.

 

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT