Beranda Berita Gali Kearifan Lokal Sulawesi, Tim Peneliti Lintas Kampus Rumuskan Model Pencegahan Kekerasan...

Gali Kearifan Lokal Sulawesi, Tim Peneliti Lintas Kampus Rumuskan Model Pencegahan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi Keagamaan

0

Matakita.co – Kabupaten Majene, Upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi keagamaan (PTK) terus mengalami transformasi. Jika selama ini pendekatan penanganan lebih banyak bertumpu pada regulasi formal, kini nilai-nilai agama dan kearifan lokal Sulawesi mulai dirumuskan sebagai fondasi moral baru untuk memperkuat sistem perlindungan di lingkungan kampus.

Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Pencegahan Kekerasan Seksual di PTK Sulawesi Berbasis Nilai Agama dan Kearifan Lokal” yang berlangsung di Ruang Smart Laboratorium STAIN Majene, Rabu–Kamis (20–21/5/2026).

Kegiatan ini digagas oleh tim peneliti lintas perguruan tinggi sebagai bagian dari riset kolaboratif untuk merumuskan model pencegahan kekerasan seksual yang lebih kontekstual, humanis, dan sesuai dengan karakter sosial-budaya masyarakat Sulawesi.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Risnah, menegaskan bahwa riset tersebut bertujuan memetakan tantangan sekaligus menghimpun berbagai perspektif guna membangun lingkungan akademik yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.

“FGD ini tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan untuk memahami persoalan secara lebih jernih, mendalam, dan kontekstual. Kami ingin mendengarkan suara dari berbagai unsur kampus agar model pencegahan yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan realitas di perguruan tinggi keagamaan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Penelitian strategis ini melibatkan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi. Selain Dr. Risnah dari UIN Alauddin Makassar, tim peneliti juga diperkuat oleh Muhammad Irwan dari Universitas Sulawesi Barat serta Harmawati dari Universitas Muhammadiyah Makassar.

Kolaborasi antarinstitusi ini dinilai penting mengingat persoalan kekerasan seksual di kampus merupakan isu multidimensi yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan lintas perspektif.

Melalui sinergi tersebut, para peneliti berupaya menggabungkan pendekatan akademik, pengalaman kelembagaan, serta pemahaman terhadap budaya lokal untuk merumuskan model pencegahan yang aplikatif dan relevan dengan dinamika kampus keagamaan di Sulawesi.

Dalam pelaksanaannya, FGD dirancang dengan metode partisipatif dan sensitif terhadap persoalan relasi kuasa yang kerap menjadi hambatan utama dalam pengungkapan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok homogen yang terpisah, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pimpinan kampus, hingga unsur Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Pendekatan ini dilakukan untuk menciptakan ruang diskusi yang lebih aman dan terbuka.

Tak hanya mengandalkan forum diskusi konvensional, tim peneliti juga menggunakan sejumlah metode interaktif seperti case vignette, kartu respons anonim, pemetaan aktor, pemetaan relasi kuasa, gallery walk, hingga penyusunan model canvas pencegahan kekerasan seksual.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk mengidentifikasi potensi kerawanan, pola relasi kuasa, serta strategi pencegahan yang paling sesuai dengan konteks perguruan tinggi keagamaan.

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua LP2M UIN Alauddin Makassar, Dr. Rosmini, bersama Ketua P3M STAIN Majene, Dr. Muh. Ilham.

Sebanyak 15 peserta representatif dari berbagai unsur kampus, termasuk tokoh agama dan tokoh akademik, terlibat aktif dalam proses perumusan model pencegahan tersebut.

Tim peneliti menilai integrasi nilai agama dan kearifan lokal Sulawesi menjadi elemen penting dalam memperkuat sistem pencegahan dari dalam (inner value). Pendekatan berbasis budaya diyakini mampu meningkatkan kesadaran kolektif sivitas akademika sekaligus mendorong lahirnya mekanisme penanganan yang lebih responsif, adil, dan berkelanjutan.

Melalui riset dan kolaborasi ini, tim peneliti optimistis dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan, penguatan sistem edukasi, serta pembentukan budaya kampus yang aman dan inklusif bagi seluruh perguruan tinggi keagamaan di Sulawesi.***

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT