Beranda Lensa 100 Tahun Jam Gadang: Kehadiran Wakajati Sulut Ferry Tass dan Keluarga Bung...

100 Tahun Jam Gadang: Kehadiran Wakajati Sulut Ferry Tass dan Keluarga Bung Hatta Rajut Memori Pengabdian dan Kebangsaan

0

Matakita.co, BUKITTINGGI (20/06) – Di bawah benderang cahaya yang memayungi Kota Bukittinggi pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, perhelatan akbar peringatan 100 Tahun Jam Gadang mencapai titik kulminasi yang penuh haru dan keagungan. Malam puncak ini bukan sekadar perayaan waktu, melainkan sebuah persimpangan takdir di mana sejarah, memori, dan penghormatan bertemu dalam satu ruang sakral.

 

Di tengah gemerlap atmosfer perayaan, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, H. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, hadir sebagai figur yang merekatkan jalinan sejarah. Momentum ini kian bermakna dengan kehadiran putri-putri terkasih sang Proklamator, Bung Hatta, yakni Ibu Meutia Hatta dan Ibu Kemala Hatta, serta jajaran pejabat teras Pemerintah Kota Bukittinggi. Pertemuan lintas generasi ini menjadi oase emosional yang kental dengan napas perjuangan, mempertemukan para pewaris marwah bangsa dengan sosok pengabdi negara yang berakar kuat pada tanah kelahiran.

Dalam pidato yang disampaikan dengan penuh kharisma, Penjabat Wali Kota Bukittinggi H. Muhammad Ramlan Nurmatias, SH., Dt. Nan Basa memberikan penghormatan khusus kepada Ferrytass, Dt. Toembidjo. Dalam deretan apresiasi yang dilayangkan di hadapan publik, posisi beliau disejajarkan dengan para menteri dan tokoh-tokoh nasional yang hadir. Hal ini menjadi sebuah pengakuan lugas atas kontribusi serta integritas beliau sebagai putra daerah yang konsisten menjunjung martabat adat di tengah pengabdiannya sebagai aparat penegak hukum negara.

Menanggapi apresiasi dan suasana sakral di tanah kelahiran, Ferrytass, Dt. Toembidjo, menitipkan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat pulang dan pengabdian:

“Menjejakkan kaki di tanah kelahiran saat Jam Gadang berdetak genap seratus tahun, bukan sekadar soal merayakan waktu, melainkan tentang meneguhkan kembali kompas hati. Bahwa sejauh apa pun raga melangkah dalam pengabdian di tanah rantau, nurani akan selalu menemukan jalan pulang ke hulu, sebab di sanalah akar budaya dan marwah bangsa bersemayam abadi sebagai lentera kehidupan.”

Kehadiran beliau di malam puncak ini merupakan manifestasi dari benang merah yang tak terputus antara pengabdian hukum dan akar kebudayaan. Bagi Dt. Toembidjo, penghormatan yang diterimanya adalah cerminan dari filosofi alam takambang jadi guru; bahwa martabat dan nama baik tetap menjadi kompas yang menuntun setiap langkah pengabdian.

Perayaan 100 Tahun Jam Gadang ini bukan sekadar catatan sejarah dalam lembar kalender, melainkan estafet memori yang abadi. Semangat yang terpancar malam ini akan terus berkobar dalam nadi generasi mendatang, memastikan bahwa nilai-nilai luhur dari masa lalu akan selalu menemukan rumahnya di masa kini dan masa depan.

Facebook Comments Box