Beranda Mimbar Ide Memilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil untuk Masa Depan Makassar

Memilah Sampah dari Rumah, Langkah Kecil untuk Masa Depan Makassar

0
Afrilia Eka Ananda

Oleh : Afrilia Eka Ananda

(Wakil Rektor Komunitas Kampus Gagasan)

Setiap hari kita menghasilkan sampah, baik dari sisa makanan, kemasan plastik, botol minuman, hingga berbagai barang yang sudah tidak digunakan. Sayangnya, sebagian besar dari kita masih menganggap bahwa tugas mengelola sampah selesai ketika kantong sampah diletakkan di depan rumah atau dibuang ke tempat pembuangan sementara. Padahal, persoalan sampah tidak sesederhana itu. Sampah yang kita hasilkan akan terus menumpuk apabila tidak dikelola dengan baik, dan dampaknya akan kembali kepada kita dalam bentuk lingkungan yang kotor, banjir, pencemaran, bahkan gangguan kesehatan.

Sebagai warga Kota Makassar, saya melihat persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Pemerintah telah berupaya menghadirkan berbagai program untuk meningkatkan pengelolaan sampah, mulai dari penyediaan Bank Sampah, pembangunan TPS3R, hingga sosialisasi mengenai pentingnya pemilahan sampah. Namun, berbagai upaya tersebut akan sulit mencapai hasil maksimal apabila masyarakat masih memiliki kebiasaan mencampur seluruh jenis sampah dalam satu tempat.

Menurut saya, inti dari pengelolaan sampah bukan terletak pada seberapa banyak armada pengangkut yang dimiliki pemerintah, melainkan pada kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah. Kebiasaan sederhana ini sering dianggap sepele, padahal memiliki dampak yang sangat besar. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam masih memiliki nilai ekonomi apabila dikumpulkan dan didaur ulang. Sebaliknya, ketika semua sampah bercampur, hampir seluruhnya akan berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa memberikan manfaat apa pun.

Kondisi yang masih sering ditemui di Makassar menunjukkan bahwa budaya memilah sampah belum menjadi kebiasaan masyarakat. Di banyak lingkungan permukiman, sampah rumah tangga masih dibuang dalam keadaan tercampur. Akibatnya, petugas kebersihan harus menangani volume sampah yang semakin besar setiap hari, sementara kapasitas tempat pembuangan tentu memiliki keterbatasan. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin persoalan sampah akan menjadi semakin kompleks pada masa mendatang.

Saya percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan yang besar. Justru perubahan akan lebih mudah terwujud apabila dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Memisahkan sampah organik dan anorganik hanya membutuhkan waktu beberapa menit setiap hari, tetapi manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, kebiasaan tersebut juga membantu proses daur ulang dan mengurangi jumlah sampah yang harus ditimbun di tempat pembuangan akhir.

Sebagai generasi yang hidup di tengah berbagai persoalan lingkungan, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kota ini tetap bersih dan nyaman. Kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab setiap warga. Lingkungan yang bersih akan menciptakan kualitas hidup yang lebih baik sekaligus menjadi warisan yang layak bagi generasi berikutnya.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan semata-mata tentang limbah yang dibuang setiap hari, tetapi tentang bagaimana cara kita memandang lingkungan tempat kita hidup. Jika setiap orang mulai memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan lebih peduli terhadap kebersihan sekitar, saya yakin Kota Makassar dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan langkah kecil itu dapat dimulai dari diri kita sendiri.

Facebook Comments Box