Oleh : Elviana*
Perbincangan mengenai mindfulness dan stoikisme kembali mendapat perhatian setelah seorang publik figur membuat konten pada kanal youtube yang diberi judul “Mindfulness in the Age of Bad News” menuai kritik di ruang publik. Gagasan yang disampaikan pada dasarnya berbicara tentang bagaimana seseorang menghadapi derasnya berita buruk tanpa membiarkan seluruh keadaan mengambil alih kesehatan mentalnya.
Secara filosofis, gagasan tersebut bukan sesuatu yang keliru. Stoikisme, khusunya pemikiran Epictetus mengenalkan konsep dichotomy of control: membedakan apa yang berada dalam kendali diri dan apa yang berada di luar kendali diri. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan, tetapi dapat mengendalikan bagaimana kita menilai dan meresponnya. Nasihat untuk membatasi konsumsi berita, mengambil jarak dari informasi yang membuat cemas, serta memusatkan perhatian pada hal hal yang masih dapat dikendalikan terdengar masuk akal jika ditempatkan dalam kontes kesehatan mental. Namun, persoalannya muncul ketika prinsip tersebut diterapkan pada masyarakat yang bukan sekedar membaca tentang “bad news”, tetapi justru sedang hidup di dalam “bad news” tersebut
Ada perbedaan besar antara seseorang yang melihat krisis sebagai sebuah berita dan seseorang yang hidup di dalam krisis tersebut. Bagi sebagian orang, berita buruk mungkin cukup dihadapi dengan mematikan layar, mengambil jeda, mengurangi konsumsi informasi, lalu melakukan mindfulness. Mereka memiliki ruang untuk mengambil jarak dari persoalan. Namun, bagi masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan mahalnya kebutuhan hidup, sulitnya akses terhadap energi, terganggunya pelayanan pubik, ketidakpastian pekerjaan, atau persoalan lainnya, krisis bukanlah sesuatu yang dapat dijeda. Mereka tidak sedang melihat penderitaan melalui layar tetapi sedang menjalani penderitaan tersebut. Karena itu, kemampuan untuk mengatakan “saya akan berhenti memikirkan berita buruk” juga merupakan bentuk pilihan yang tidak selalu tersedia bagi semua orang.
Kritik terhadap nasihat mindfulness bukan berarti menolak pentingnya kesehatan mental. Persoalannya adalah ketika mindfulness berubah dari instrumen untuk menjaga kejernihan diri menjadi jawaban tunggal atas persoalan yang sebenarnya bersifat struktural. Ronald E Purser menyebut kecenderungan ini dengan istilah McMindfulness yaitu ketika mindfulness direduksi menjadi teknik untuk mengelola stress individu, sementara kondisi yang menghasilkan stress itu sendiri tidak dipersoalkan. Kritik ini tidak berarti bahwa mindfulness tidak berguna, masalahnya adalah ketika masyarakat yang mengalami tekanan struktur justru diberi pesan “yang perlu diperbaiki adalah cara kamu merespon”.
Kritik ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan pemikiran Byung Chul Han dalam Bukunya The Burnout Society. Han menggambarkan pergeseran dari disciplinary society menuju achievement society, di mana manusia tidak lagi terutama dikendalikan melalui larangan dan paksaan eksternal, tetapi melalui dorongan untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan, menjadi produktif dan mencapai lebih banyak. Tekanan tersebut perlahan masuk ke dalam diri dan berubah menjadi tuntutan pribadi. Kita mulai merasa harus terus memperbaiki diri agar mampu bertahan dan memenuhi tuntutan yang ada. Akibatnya, Individu akhirnya menjadi subjek yang mengeksploitasi dirinya sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia tidak hanya diminta menghadapi tekanan, tetapi juga diminta memperbaiki dirinya agar mampu terus hidup di bawah tekanan tersebut. Kita bukan lagi bertanya mengapa sistem membuat manusia kelelahan, tetapi bagaimana manusia dapat tetap tenang di dalam sistem yang melelahkan itu. Bukan lagi bagaimana keadaan harus diperbaiki, tetapi bagaimana individu harus memperbaiki dirinya agar mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Seolah-olah yang bermasalah adalah manusia yang dianggap tidak cukup kuat, bukan keadaan yang terus menekan.
Pada titik inilah mindfulness berisiko kehilangan fungsi kritisnya. Ia tidak lagi membantu manusia melihat keadaan dengan lebih jernih, tetapi justru dapat membuat manusia lebih nyaman berada di dalam keadaan yang sebenarnya sedang menekan mereka. Sistem tetap berjalan seperti biasa, tekanan tetap diproduksi, tetapi individu yang dituntut untuk terus beradaptasi. Disinilah kritik Purser dan pemikiran Han bertemu, jangan sampai kita membuat individu semakin pandai beradaptasi dengan keadaan, sementara keadaan yang membuat mereka tertekan tidak pernah benar benar dipertanyakan. Ketidakmampuan mengendalikan sesuatu tidak otomatis berarti harus melepaskan pertanyaan tentang siapa yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengubahnya. Karena itu, di samping dichotomy of control, kita perlu memahami tentang dichotomy of responsibility: membedakan antara tanggung jawab personal dan tanggung jawab struktural. Individu bertanggung jawab atas cara ia merespon suatu keadaan, tetapi institusi dan pemegang kewenangan tetap harus dimintai pertanggungjawaban atas keputusan, kebijakan, dan struktur yang berada dalam kewenangan mereka. Sesuatu yang berada di luar kendali individu tidak otomatis berada di luar tanggung jawab institusi.
Manusia memang perlu belajar mengendalikan dirinya. Tetapi masyarakat juga harus belajar mempertanyakan struktur yang mengendalikan hidupnya.
*) Penulis adalah Pegiat Literasi Komunitas Kampus Gagasan, Ketua Pikom IMM Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Makassar, Wisudawawan Berprestasi Universitas Muhamaddiyah Makassar








































