Oleh: Muhammad Agus
(Direktur PT Gema Simpul Rakyat Nusantara)
Kini bukan hanya BBM yang sulit didapat di SPBU. Di sejumlah tempat di Sulawesi Selatan, warga juga kesulitan memperoleh LPG 3 Kg di tempat penyedia. Masyarakat sangat membutuhkan keduanya untuk menunjang kehidupan sehari hari. Ada yang antre sejak pagi di SPBU namun pulang tanpa mendapatkan bahan bakar. Ada pula yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sekadar mencari LPG 3 Kg untuk kebutuhan memasak keluarga.
Dua kebutuhan paling mendasar ini justru menjadi hal yang paling sulit dipenuhi. BBM di SPBU menggerakkan perjalanan warga, LPG 3 Kg di penyedia menunjang kebutuhan rumah tangga. Keduanya bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang seharusnya dapat diakses oleh setiap warga dengan mudah.
Di tengah kesulitan ini, masih terdengar pernyataan bahwa stok tersedia dalam jumlah aman. Jika memang tersedia, wajar jika muncul pertanyaan mengapa keduanya sulit didapat di lapangan. Ke mana perginya pasokan tersebut sebelum sampai ke tangan warga? Apakah ada kendala dalam penyaluran, atau ada hal lain yang belum teridentifikasi?
Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan jika kebutuhan dasar warga tidak menjadi prioritas utama. Kelangkaan yang berlangsung terus menerus patut dicari penyelesaiannya secara sungguh sungguh. Hal yang seharusnya terjamin tidak boleh dibiarkan menjadi beban tambahan bagi masyarakat.
BBM dan LPG 3 Kg bersubsidi disiapkan untuk seluruh rakyat. Sudah sepantasnya keduanya sampai kepada yang membutuhkan. Jika ditemukan ketidakteraturan dalam penyaluran, maka hal itu harus diluruskan. Jika ada pihak yang memanfaatkan keadaan untuk keuntungan pribadi, maka itu perlu ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah serta pihak terkait wajib memeriksa jalur penyaluran BBM di SPBU maupun LPG 3 Kg di tempat penyedia. Jika ada kendala, segera atasi. Jika kuota belum mencukupi kebutuhan, jelaskan secara terbuka dan cari solusi bersama. Masyarakat tidak membutuhkan banyak penjelasan, mereka membutuhkan ketersediaan yang nyata di lapangan.
Masyarakat tidak menuntut hal yang berlebihan. Mereka hanya berharap BBM tersedia di SPBU, LPG 3 Kg tersedia di tempat penyedia, dengan harga yang sesuai, dan dapat diperoleh oleh siapa saja yang membutuhkannya.
Kesabaran warga memang patut dihargai. Namun kesabaran itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda perbaikan. Jika masyarakat terus diminta mengerti dan menunggu, sementara ketersediaan belum membaik, maka pertanyaan itu harus disampaikan kepada pihak yang diberi amanah untuk mengurusnya. Sampai kapan kebutuhan dasar ini harus ditunda?







































