MatakIta.co, Maros – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dengan memanfaatkan limbah air cucian beras kepada masyarakat Desa Minasa Upa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Minasa Upa tersebut dilaksanakan oleh Husnul Nadiya, mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unhas.
Pelatihan diikuti ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), anggota Majelis Dzikir Minasa Upa, serta warga setempat. Kegiatan ini memperkenalkan pemanfaatan air bekas cucian beras yang biasanya dibuang sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair untuk tanaman.
Husnul menjelaskan, kegiatan tersebut berangkat dari upaya memanfaatkan limbah rumah tangga sederhana agar memiliki nilai guna sekaligus mendorong penerapan praktik yang lebih ramah lingkungan di tingkat rumah tangga.
“Air cucian beras sering kali langsung dibuang setelah digunakan. Padahal, bahan tersebut dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi pupuk organik cair untuk tanaman. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa limbah rumah tangga yang sederhana pun masih bisa memiliki manfaat,” kata Husnul.
Dari Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk
Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai pemanfaatan air cucian beras sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair. Peserta mendapat penjelasan mengenai bahan yang diperlukan, tahapan pengolahan, proses fermentasi, hingga cara pemanfaatannya pada tanaman.
Setelah penyampaian materi, Husnul mempraktikkan secara langsung proses pembuatan POC berbahan air cucian beras di hadapan peserta. Praktik tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memahami tahapan pembuatannya sehingga dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Menurut Husnul, pemanfaatan air cucian beras juga dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenalkan pengelolaan limbah rumah tangga berbasis pemanfaatan kembali.
“Harapannya, setelah pelatihan ini masyarakat tidak langsung membuang air cucian beras, tetapi dapat melihatnya sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Cara pembuatannya juga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga,” ujarnya.
Untuk membantu peserta mengingat tahapan pembuatan, mahasiswa KKN Unhas turut membagikan brosur berisi panduan pembuatan pupuk organik cair dari air cucian beras.
Kegiatan tersebut mendapat antusiasme dari peserta, terutama ibu rumah tangga yang sebelumnya belum mengetahui bahwa air bekas cucian beras dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi tanaman.
Pada akhir kegiatan, POC yang sebelumnya telah melalui proses fermentasi dibagikan kepada sejumlah peserta. Pupuk tersebut dapat digunakan sebagai contoh sekaligus mendorong warga untuk mencoba pemanfaatannya pada tanaman di lingkungan rumah masing-masing.
Husnul berharap pelatihan tersebut dapat mendorong masyarakat Desa Minasa Upa untuk lebih bijak melihat limbah rumah tangga dan mulai memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar mereka.
Melalui pemanfaatan air cucian beras menjadi pupuk organik cair, masyarakat juga diharapkan dapat menerapkan langkah sederhana dalam mengurangi limbah sekaligus mendukung perawatan tanaman yang lebih ramah lingkungan.







































