Oleh : Adam Malik
(Peneliti Profetik Institute)
Ada sesuatu yang menarik dari kasus Julia Prastini, atau yang lebih dikenal sebagai Jule. Bukan semata-mata soal vape yang mengandung etomidate, bukan pula soal seorang selebgram yang kemudian berhadapan dengan aparat hukum. Yang menarik justru sebuah pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi mungkin lebih mengganggu: mengapa seseorang bisa mengetahui sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita mengetahui bahwa Jule disebut menghabiskan masa pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di lingkungan pesantren. Tentu saja, fakta bahwa seseorang pernah lama belajar di pesantren tidak otomatis menjelaskan perilakunya di kemudian hari. Akan sangat gegabah jika kita mengatakan bahwa pesantren gagal mendidik Jule, dan lebih tidak masuk akal lagi jika satu kasus digunakan untuk menghakimi seluruh pendidikan agama.
Tetapi justru di situlah letak persoalannya. Kasus semacam ini memberi kita kesempatan untuk melihat kembali satu persoalan yang lebih besar: apakah pengetahuan agama selalu menghasilkan perilaku agama? Apakah apa yang kita ketahui tentang kebaikan otomatis membuat kita mampu melakukan kebaikan? Jawabannya, kalau kita mau jujur, tidak selalu.
Kita semua sebenarnya punya banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Orang tahu berbohong itu buruk, tetapi masih berbohong; tahu marah berlebihan dapat merusak hubungan, tetapi tetap marah. Tahu merokok tidak baik bagi kesehatan, tetapi masih merokok, dan tahu membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi tangannya tetap ringan melempar bungkus makanan dari atas kendaraan.
Pengetahuan ternyata tidak otomatis menjadi perilaku. Kita bisa mengetahui sesuatu secara sangat baik, tetapi tetap gagal menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pengetahuan saja sudah cukup untuk mengubah manusia, mungkin dunia tidak akan seramai ini dengan nasihat, seminar, buku motivasi, dan orang yang tetap mengulangi kesalahan yang sama.
Lalu bagaimana dengan agama? Seseorang bisa mengetahui banyak ayat, hadis, hukum halal dan haram, tata cara ibadah, bahkan mampu menjelaskan agama kepada orang lain. Tetapi semua pengetahuan itu masih berada di wilayah kognitif, berada di kepala, sementara perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui kepala.
Manusia juga memiliki emosi, dorongan, kebiasaan, tekanan, lingkungan sosial, kebutuhan akan penerimaan, dan keinginan untuk mendapatkan rasa nyaman. Semua unsur itu ikut bekerja ketika seseorang mengambil keputusan. Karena itu, jarak antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan sebenarnya merupakan bagian dari persoalan manusia yang jauh lebih kompleks.
Di sinilah psikologi menjadi penting. Dalam psikologi dikenal konsep self-regulation, yaitu kemampuan seseorang mengatur dorongan, emosi, dan perilakunya agar tetap sesuai dengan tujuan atau nilai yang diyakini. Persoalannya, kemampuan ini tidak otomatis lahir hanya karena seseorang mengetahui apa yang benar.
Kita mungkin tahu bahwa tidur terlalu malam tidak baik. Tetapi ketika sebuah film tinggal sepuluh menit menuju akhir, manusia tiba-tiba menemukan alasan filosofis bahwa tidur dapat ditunda. Begitulah kita, makhluk yang kadang mampu berdebat panjang dengan dirinya sendiri hanya untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya sudah diketahui kurang baik.
Dalam persoalan yang lebih serius, jarak antara pengetahuan dan perilaku bisa menjadi jauh lebih besar. Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu zat berbahaya, tetapi ketika dirinya sedang berada dalam tekanan, pengetahuan itu dapat kalah oleh kebutuhan untuk mendapatkan kelegaan sesaat. Pada titik tertentu, manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan apa yang paling benar, tetapi berdasarkan apa yang paling mampu meredakan perasaan yang sedang dialaminya.
Jika keterangan mengenai Jule yang mengaitkan penggunaan tersebut dengan stres memang dipahami sebagai usaha mencari kelegaan, maka kita dapat melihatnya melalui konsep coping dan emotion regulation. Ini bukan diagnosis terhadap Jule, melainkan salah satu cara psikologi menjelaskan kemungkinan mekanisme perilaku manusia. Kita sedang melihat sebuah pola yang lebih umum: bagaimana seseorang mencari cara untuk mengelola tekanan ketika kemampuan menghadapi tekanan itu sedang tidak cukup.
Ketika mengalami tekanan, manusia akan mencari cara untuk menguranginya. Ada yang berbicara dengan teman, beribadah, berolahraga, menulis, tidur sepanjang hari, atau mencari hiburan. Tetapi ada pula yang menggunakan zat tertentu, dan cara terakhir dapat menjadi bentuk maladaptive coping, yaitu strategi menghadapi masalah yang mungkin memberikan kelegaan sementara tetapi justru menimbulkan persoalan baru.
Di sini kita menemukan sebuah paradoks. Manusia kadang tidak mencari sesuatu yang membuatnya bahagia, ia hanya mencari sesuatu yang membuatnya tidak terlalu sakit. Karena itu, perilaku tertentu yang dari luar terlihat tidak masuk akal bisa saja memiliki fungsi psikologis tertentu bagi orang yang melakukannya, meskipun cara tersebut pada akhirnya justru merugikan dirinya.
Masyarakat sering melihat perilaku bermasalah hanya dari hasil akhirnya. Kita melihat seseorang menggunakan zat terlarang, lalu segera berkata, “Dia tahu itu dilarang.” Pertanyaannya kemudian dianggap selesai, padahal secara psikologis justru di situlah pertanyaan baru dimulai.
Apa yang terjadi ketika pengetahuan moral berhadapan dengan tekanan emosional? Mengapa nilai yang selama bertahun-tahun dipelajari bisa kehilangan daya ketika seseorang berada dalam kondisi tertentu? Dan apakah pendidikan agama selama ini memang cukup mengajarkan manusia bagaimana menghadapi situasi tersebut?
Pertanyaan terakhir mungkin sedikit mengganggu. Sebab pendidikan agama sering kali sangat kuat dalam menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh, halal dan haram, pahala dan dosa, perintah dan larangan. Semua itu penting, tetapi kehidupan manusia tidak selalu datang dalam bentuk soal pilihan ganda.
Dalam kenyataan, godaan tidak selalu muncul sambil membawa tulisan, “Saya adalah dosa, silakan pilih saya.” Kadang ia datang sebagai teman, rasa penasaran, gaya hidup, atau pelarian dari tekanan. Kadang ia datang sebagai sesuatu yang pada awalnya tampak kecil dan tidak berbahaya, lalu perlahan menjadi kebiasaan.
Lebih rumit lagi, godaan kadang datang ketika seseorang sedang berada pada titik paling lemah dalam hidupnya. Pada saat seperti itu, kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri dapat berhadapan dengan kebutuhan yang terasa jauh lebih mendesak. Karena itu, pendidikan moral tidak cukup hanya membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan tentang benar dan salah.
Pendidikan moral seharusnya juga melatih manusia menghadapi keadaan ketika ia mengetahui yang benar, tetapi secara emosional menginginkan yang lain. Inilah perbedaan antara knowing dan being. Mengetahui kebaikan berbeda dengan menjadi pribadi yang terbiasa melakukan kebaikan.
Mengetahui kesabaran berbeda dengan mampu mengendalikan kemarahan. Mengetahui tawakal berbeda dengan mampu menghadapi kecemasan. Mengetahui larangan narkoba berbeda dengan memiliki kemampuan menghadapi tekanan tanpa membutuhkan pelarian yang merusak diri.
Mungkin di sinilah kita perlu memikirkan kembali tujuan pendidikan agama. Apakah pendidikan agama hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mengetahui banyak tentang agama? Ataukah ia seharusnya menghasilkan manusia yang mampu membawa nilai agama ke dalam situasi kehidupan yang tidak selalu ideal?
Sebab ada perbedaan besar antara orang yang patuh karena diawasi dan orang yang memiliki kesadaran meskipun tidak ada yang mengawasi. Di lingkungan yang sangat teratur, seseorang bisa terbiasa hidup dengan aturan, jadwal, guru, pengasuh, teman, norma, dan konsekuensi. Tetapi setelah keluar dari lingkungan itu, kehidupan menjadi jauh lebih liar.
Tidak ada bel sekolah yang mengingatkan kapan harus berhenti. Tidak ada guru yang selalu mengawasi, dan tidak ada teman yang setiap saat mengingatkan. Di sanalah nilai diuji, bukan ketika semua keadaan mendukung seseorang untuk menjadi baik, tetapi ketika tidak ada yang memaksanya untuk tetap baik.
Pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan manusia yang patuh ketika ada pengawas. Ia menghasilkan manusia yang membawa pengawas itu ke dalam dirinya sendiri, bukan dalam bentuk rasa takut, tetapi dalam bentuk kesadaran. Dengan kata lain, nilai yang diajarkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang bekerja dari dalam diri.
Maka, persoalan terbesar pendidikan agama mungkin bukan kurangnya pengetahuan agama. Bisa jadi justru bagaimana pengetahuan itu diubah menjadi karakter. Dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi karakter, dan dari karakter menjadi perilaku yang tetap bertahan ketika keadaan berubah.
Karena itu, kasus Jule sebaiknya tidak digunakan untuk mengatakan bahwa pendidikan pesantren gagal. Kita tidak memiliki data untuk membuat kesimpulan sebesar itu, dan satu kasus tidak cukup untuk menghakimi sebuah sistem pendidikan. Tetapi kasus tersebut dapat menjadi cermin untuk melihat sesuatu yang lebih luas tentang hubungan antara pengetahuan, pendidikan, tekanan hidup, dan perilaku manusia.
Kita hidup dalam masyarakat yang sering mengukur keberagamaan dari apa yang seseorang ketahui, dari apa yang ia tampilkan, dari gelar yang ia miliki, dari tempat ia pernah belajar, atau dari seberapa sering ia berbicara tentang agama. Padahal mungkin ukuran yang lebih sulit justru berada di tempat yang tidak terlihat. Apa yang dilakukan seseorang ketika tidak ada yang melihat?
Apa yang ia lakukan ketika sedang marah, kecewa, atau kesepian? Apa yang ia lakukan ketika punya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang ia tahu salah? Apa yang ia lakukan ketika tekanan hidup membuatnya ingin melarikan diri?
Di situlah agama bertemu dengan psikologi. Di situlah pengetahuan bertemu dengan karakter, dan di situlah pendidikan diuji. Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat ketika seseorang sedang berada di bawah pengawasan, tetapi ketika ia harus membuat keputusan seorang diri.
Maka judul ini akhirnya bukan sekadar pertanyaan tentang ayat. Setelah ayat, apa yang tersisa? Apakah hanya hafalan, pengetahuan, atau sekadar identitas sebagai orang beragama?
Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk tetap memilih yang baik ketika tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera, tidak ada guru, dan tidak ada manusia lain yang sedang memperhatikan? Sebab mungkin justru dalam keadaan seperti itulah seseorang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, mungkin ukuran paling jujur dari pendidikan agama bukanlah seberapa banyak ayat yang tinggal di kepala seseorang. Melainkan seberapa jauh ayat itu telah menemukan jalannya menuju perilaku. Sebab ayat yang hanya tinggal di kepala mungkin membuat seseorang lebih berpengetahuan, tetapi ayat yang sampai kepada perilaku berpotensi mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Dan jika setelah bertahun-tahun belajar agama yang tersisa hanya pengetahuan, barangkali kita perlu bertanya kembali: di mana sebenarnya pendidikan itu berlangsung, dan di mana ia berhenti?








































