Beranda Uncategorized UMGO Bekali Calon Bidan Hadapi Tantangan Angka Kematian Ibu

UMGO Bekali Calon Bidan Hadapi Tantangan Angka Kematian Ibu

0
Herlina Maksum, S.Tr.Keb., Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Gorontalo (kanan)

Matakita.co, Gorontalo — Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) melalui Fakultas Kesehatan menggelar kuliah pakar bertajuk “Kesiapan Bidan Masa Depan Melawan Lonjakan Angka Kematian Ibu (AKI): Integrasi Gizi Klinis KIA dan Praktik Berbasis Hak yang Legal-Etis”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung Kedokteran UMGO ini menghadirkan dua narasumber yang membahas tantangan kebidanan dari perspektif kepemimpinan, keselamatan ibu, praktik berbasis hak, serta intervensi gizi klinis dalam kesehatan ibu dan anak (KIA).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Dekan Fakultas Kesehatan UMGO, Ns. Nur Uyuun I. Biahimo, S.Kep., M.Kep. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa perkembangan dunia kesehatan menuntut mahasiswa kebidanan tidak hanya memiliki kemampuan teknis dan klinis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta memiliki integritas dan tanggung jawab profesional.

Menurutnya, kuliah pakar menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari praktisi dan tenaga ahli sehingga mampu menghubungkan teori yang diperoleh di ruang perkuliahan dengan persoalan nyata di lapangan.

Narasumber pertama, Herlina Maksum, S.Tr.Keb., Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Gorontalo, menyampaikan materi bertajuk “Kepemimpinan Bidan di Tengah Krisis Angka Kematian Ibu (AKI): Menavigasi Praktik Berbasis Hak, Keselamatan, dan Akuntabilitas Kode Etik Kebidanan”.

Dalam materinya, Herlina menekankan transformasi peran bidan, bukan hanya sebagai pemberi asuhan (care provider), tetapi juga sebagai pemimpin di garis depan yang mampu mengambil keputusan kritis, menggerakkan tim, membangun komunikasi efektif, dan mendorong perbaikan mutu pelayanan.

Herlina juga mengangkat pentingnya praktik kebidanan berbasis hak, termasuk penghormatan terhadap privasi, martabat, dan pilihan pasien, serta pemberian informasi yang jujur dan lengkap melalui penerapan informed choice dan informed consent.

Ia turut menekankan keselamatan pasien melalui deteksi dini komplikasi, triase cepat, kolaborasi interprofesional, penguatan sistem rujukan, serta penggunaan metode komunikasi efektif seperti SBAR.

Selain itu, mahasiswa diajak memahami perbedaan antara etika, disiplin profesi, hukum, standar, dan prosedur operasional standar (SOP) dalam menjalankan praktik kebidanan secara aman dan bertanggung jawab.

Sementara itu, narasumber kedua, dr. Dina Noerlaila Hadju, Sp.GK., dokter spesialis gizi klinik, membawakan materi bertajuk “Intervensi Gizi Klinis KIA: Memutus Mata Rantai Malnutrisi Maternal dan Menahan Laju Lonjakan Angka Kematian Ibu”.

Ia menjelaskan bahwa intervensi gizi memiliki peran penting sejak fase remaja, prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, hingga interkonsepsi.

Materi yang disampaikan mencakup skrining status gizi, anemia dan kekurangan energi kronis (KEK), pemantauan kenaikan berat badan, pemenuhan kebutuhan zat gizi, pemberian makanan tambahan, suplementasi, hingga tata laksana gizi pada kondisi khusus seperti hiperemesis, diabetes gestasional, obesitas, dan penyakit penyerta.

Kuliah pakar ini menjadi ruang penguatan kompetensi mahasiswa kebidanan agar mampu memahami persoalan kesehatan ibu secara lebih komprehensif dan kolaboratif.

Melalui integrasi kepemimpinan bidan, praktik berbasis hak dan etika, keselamatan pasien, serta intervensi gizi klinis, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan menghadapi tantangan pelayanan KIA pada masa depan.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa kepemimpinan dalam kebidanan perlu dibangun sejak masa pendidikan melalui penguatan disiplin, integritas, empati, komunikasi, keberanian meminta bantuan, serta komitmen terhadap keselamatan ibu dan bayi.

Facebook Comments Box