Beranda Kampus Program Mannennungeng Masuki Fase Keberlanjutan, Rekomendasi Kebijakan Diserahkan ke Pemkab Bone

Program Mannennungeng Masuki Fase Keberlanjutan, Rekomendasi Kebijakan Diserahkan ke Pemkab Bone

0

MataKita.co, Bone — Program Mannennungeng yang dijalankan melalui PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin (Unhas) memasuki fase keberlanjutan. Tim menyerahkan policy brief berisi rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah Kabupaten Bone dalam Lokakarya Hasil di Baruga La Tea Ri Duni, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (28/9/2026).

Dokumen tersebut disusun berdasarkan proses pendampingan dan hasil pelaksanaan Program Mannennungeng di Desa Kajaolaliddong. Penyerahan policy brief sekaligus menjadi upaya mendorong hasil program agar dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kebijakan pertanian di Kabupaten Bone.

Lokakarya dirangkaikan dengan salah satu agenda Gau’ Maraja 2026, yakni Passompe Mattana Bone. Bupati Bone Andi Asman Sulaiman hadir bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Kegiatan juga dihadiri perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS), Perum Bulog, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan passompe atau perantau asal Bone.

Selain menyerahkan rekomendasi kepada pemerintah daerah, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas menyerahkan hasil program kepada masyarakat melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) bersama Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong.

Penandatanganan tersebut menandai peralihan pengelolaan sejumlah hasil program kepada kelompok sasaran agar dapat dilanjutkan secara mandiri.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengatakan, pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat Bone yang berada di perantauan.

“Para passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” kata Asman.

Menurut dia, kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan perantau menjadi salah satu unsur penting dalam mempercepat pembangunan Kabupaten Bone.

Semangat tersebut sejalan dengan filosofi Bugis, “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng”, yang bermakna pergi mencari kebaikan dan pulang untuk berbuat kebaikan. Nilai itu pula yang menjadi salah satu semangat mahasiswa Unhas membawa pengetahuan dari kampus untuk dikembangkan bersama masyarakat Desa Kajaolaliddong.

Pendampingan Berlanjut

Dosen Pendamping Program Mannennungeng, Muh. Adnan Kasogi, mengatakan keberhasilan program merupakan hasil kolaborasi mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal, serta berbagai pemangku kepentingan.

Menurut Adnan, pendampingan tidak hanya menghasilkan penerapan teknologi, tetapi juga diarahkan pada penguatan kelembagaan dan kapasitas petani.

“Lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai, yaitu memastikan apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Unhas, lanjut Adnan, tetap melakukan pendampingan dengan porsi yang secara bertahap dikurangi seiring meningkatnya kemampuan masyarakat mengelola program secara mandiri.

Ketua Umum UKM KPI Unhas Aydil Fitra Mulya mengatakan, policy brief yang diserahkan kepada Pemkab Bone merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan sektor pertanian daerah.

“Policy brief yang kami serahkan merupakan hasil kerja bersama antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kami berharap rekomendasi ini dapat menjadi salah satu acuan bagi kebijakan pertanian di Kabupaten Bone,” kata Aydil.

Sementara itu, Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026 Fadel Muhammad S. menjelaskan, penandatanganan BAST mencakup penyerahan perangkat teknologi, modul pelatihan, serta kurikulum P4S kepada Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong.

“BAST ini bukan sekadar dokumen, tetapi simbol kepercayaan bahwa masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan program ini secara mandiri,” ujarnya.

Produktivitas Padi Naik

Dalam lokakarya tersebut, Tim Mannennungeng juga memaparkan sejumlah capaian selama pelaksanaan program.

Berdasarkan data tim, produktivitas padi pada lokasi program meningkat dari sekitar 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare. Efisiensi penggunaan air dilaporkan mencapai 25 persen, sedangkan penggunaan pupuk kimia berkurang hingga 50 persen.

Capaian tersebut diperoleh melalui integrasi sejumlah komponen dalam Program Mannennungeng, yakni Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’.

Tokoh adat Bone Andi Irwansyah menilai pendekatan Mannennungeng tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian, tetapi juga membawa gagasan keberlanjutan yang dekat dengan nilai masyarakat Bone.

“Filosofi Mannennungeng yang berarti berkelanjutan sejalan dengan nilai-nilai adat dan budaya kami yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” kata Irwansyah.

Setelah serah terima, pengelolaan teknologi dan hasil Program Mannennungeng berada pada kelompok sasaran. Pendampingan tetap dilakukan secara bertahap, dengan sasaran akhir membangun kemandirian masyarakat dalam melanjutkan dan mengembangkan program.

Facebook Comments Box