Home Fajlurrahman Jurdi Jalan “Sunyi” Immawan Dan Immawati

Jalan “Sunyi” Immawan Dan Immawati

2107
0
SHARE
Fajlurrahman Jurdi

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

Dua kata yang kedengaran aneh bagi mereka yang diluar ikatan mahasiswa muhammadiyah, yakni “Immawan” dan Immawati”. Immawan merujuk pada laki-laki. Laki-laki yang memiliki kemampuan olah “fikir” dan “dzikir”. Laki-laki yang dikader di bawah tiga panji, “Panji Agama, Panji Pikiran dan Panji Kemanusiaan”. Ia dituntut untuk memimpin dua arena, yakni “arena keluarga” dan “diluar keluarga”. Yang kedua inilah yang masuk dalam kategori arena politik, bisnis, kebudayaan dan sebagainya.

Oleh karena ia laki-laki, maka Immawan menunjuk subyek, yang di dalam Alquran disebut “mudzakkar”. Sebagai subyek, tentu memiliki peran, tugas dan fungsi yang sejalan dengan visi-misi ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus secara bersamaan. Ia sebagai hamba Tuhan yang wajib membangun “komunikasi vertikal” dan sebagai manusia yang wajib melakukan komunikasi dan konsolidasi secara horizontal.

Atas dasar itu, maka “Immawan” adalah merupakan anak-anak zaman yang “berlari menuju Tuhannya dengan segenap kekuatan” dan “memikul beban kemanusiaan yang begitu berat”. Ia adalah merupakan bagian yang imanen dari “khalifatan fil’ardhi”, atau dengan kata lain, subyek yang diberikan oleh Tuhan “amanah” di “dunia sini”.

Tugas Immawan ada dua, yakni “refleksi” dan “aksi”. Ia melakukan perenungan-perenungan, membaca, dan menduskusikan dua soal besar dalam kehidupan umat manusia, yakni soal “apa yang harus dikerjakan di dunia sini” untuk “menembus jalan berliku di dunia sana”. Maka untuk itu, spiritualitas “dunia sini” menentukan jalan lurus menuju “dunia sana”. Kegiatan aksi dan refleksi berjalan secara seimbang dan saling menguatkan.

Masjid dan kampus adalah dua arena refleksi untuk mengasah dua hal, yakni “iman” dan “kecerdasan”. “Iman” adalah merupakan kata yang lekat dengan “spiritualitas”. Semakin dalam, kuat dan konsisten serta tinggi khasanah keimanan si subyek, maka ia semakin “arif, bijaksana dan memiliki sensitivitas kemanusiaan yang besar”. Karena bila seseorang mencintai Tuhannya begitu besar, maka rumus otomatisnya ia akan mencintai kemanusiaan yang tak terbilang besarnya. Karena Tuhan mencintai hamba-Nya melebih hamba mencintai-Nya.

Baca Juga  Tak Bisa Dibendung, Kelompok Relawan Antusias Antar IYL-Cakka

Begitu juga dengan “irisan” kata “kecerdasan”, ia menunjuk pada si subyek. Kata ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peran subyek sebagai “mahluk” yang di utus untuk menjadi “khalifah” di dunia sini. Untuk itu, “membaca”, “merenung” dan “memutuskan” tindakan apa yang harus diambil oleh Immawan terhadap kenyataan-kenyataan sosial yang terjadi adalah merupakan perpaduan yang koheren dan konsisten antara tugas dunia sini dan perintah dunia sana.

Salah satu “aksi” yang penting dari Immawan adalah terhamparnya kata “gerakan” yang memiliki “lautan makna” yang sangat luas sebelum kalimat “ikatan mahasiswa muhammadiyah”. Dalam konsep dasarnya, organisasi ini memiliki “trilogy gerakan”. Kata “gerakan” setelah kata trilogy menunjuk pada aksi. Trilogy gerakan yang dimaksud adalah “gerakan intelektualitas”, “gerakan humanitas”, dan “gerakan spiritualitas”. Trilogy gerakan ini merujuk pada konsep umat manusia secara habitual yang hadir sebagai “wakil Tuhan” di Bumi.

Karena peran yang besar ini, Immawan harus memiliki kesadaran, terutama “kesadaran kritis”. Saya meminjam Paulo Freire untuk menyebut kesadaran ini. Dengan kesadaran kritis, Immawan tidak menjadi “tuna-manusia”.

Lalu siapa Immawati?. Sama halnya dengan Immawan, ia adalah “subyek” yang memiliki peran yang sama dengan Immawati. Tugas dan alasan “kehadiran”nya juga sama dengan Immawan, sehingga kedua subyek ini diberi “peringatan” untuk “bersinergi”. Dalam aksi, Immawan dan Immawati disebut secara bersamaan, sebagaimana disebutkan juga dalam Mars “…Immawan dan Immawati//Siswa teladan, putra harapan//Penyambung hidup generasi…”.

Oleh karena beratnya tugas ini, maka Immawan dan Immawati sebagai dua subyek banyak mengambil “jalan sunyi” dalam tugas dan peran yang dibebankan. Mereka adalah “Pewaris tampuk pimpinan umat”, yang digerakkan dan ditegaskan dalam berbagai forum refleksi. Semoga Immawan dan Immawati Sehat Selalu.

*) Penulis adalah Dosen fakultas Hukum Unhas dan Mantan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Facebook Comments