Home Literasi Bresman Pandapotan Marpaung

Bresman Pandapotan Marpaung

0

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Hampir 30 tahun, sejak saya merantau ke Ujung Pandang 1990 dalam usia 15 tahun, sudah tak pernah bertemu dengan kahang BPM ini. Di SMP dulu kami satu kelas, selama tiga tahun. Kelas I.5 kelas 2.2 dan kelas 3.3. Pernah juga duduk satu meja dan kerja tugas kelompok. Main layang dan main luncur di atas tanah liat merah belakang sekolah.

Bersama teman-teman lain, kami gantian dapat rangking kelas. Tapi saya tak pernah dapat rangking 1. Paling tinggi rangking 2. Walaubagaimanapun saat tamat SMP, saya dapat nilai atau NEM tertinggi dari sekitar 360 orang yang tamat SMP Negeri 1 Sipirok.

Walaupun kami berbeda agama, saya tak pernah ingat ada konflik di antara kami. Semua berjalan dengan rukun dan damai. Sebagaimana karakteristik orang Sipirok yang sangat majemuk. Suatu ketika kami mau main bola, hari Minggu, katanya dia tak sempat karena mau ke Gereja, jadi kami ganti harinya. Saya memang tahu mereka sekeluarga adalah penganut agamanya yang taat.

Bapaknya Pak Marpaung, adalah guru kami, Bahasa Inggris. Sama juga dengan ayahku, Pak Siagian, guru fisika. Kedua ayah kami adalah guru di sekolah kami, SMP Negeri 1 Sipirok Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Kedua orang tua kami adalah guru senior di sekolah kami, hampir tak ada yang tidak mengenalnya waktu itu. Selain keduanya tegas dan tak mau kompromi, keduanya juga adalah sahabat yang baik.

Ayahku biasa traktir minum kopi di kantin sekolah dan sebaliknya. Suatu ketika setelah ujian kelas, masih kelas 2, saya duluan keluar lalu pergi ke kantin. Kudapati keduanya sedang ngopi dan merokok. Saya tak jadi masuk kantin nanti dikira saya membolos.

Rumahnya selalu saya lewati ke sekolah saat kelas 1 dan setiap kali mau pergi bertani di Saba Lancat. Kadang saya takut lewat depan rumahnya kalau seorang diri, karena ada beberapa ekor hewan peliharaan mereka dalam pagar, menggonggong keras. Sebenarnya aman karena dalam pagar, tetap saja saya takut karena masih kecil.

Tamat SMP saya merantau ke Ujung Pandang. Sedangkan dia tamat SMEA baru merantau ke Jakarta. Itu setelah bapaknya, Pak Marpaung, terlebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.

Beberapa saat merantau di Jakarta, beliau menikah dengan Boru Harahap dari Padang Sidempuan. Sekarang mereka sekeluarga menetap di Bandar Lampung.

Setelah menerima adik saya dan keluarganya tadi malam, kahang BPM juga sengaja datang ke hotel tempat saya mengingat, hampir tengah malam. Senang rasanya bertemu dengan teman lama. Kupeluk dia dengan hangat dan penuh kemesraan.

Dulu kuingat dia masih kecil dan kurus. Lebih tinggi saya dan lebih gemuk sedikit. Sekarang justru sebaliknya. Dia gemuk dan lebih tinggi. Dan mungkin pula lebih-lebih dari yang lainnya.

Terimakasih atas kunjungannya kawan. Maafkan saya. Walaupun waktunya terbatas, akan tetapi sudah dapat menunaikan kerinduan yang mendalam.

Wassalam
Haidir Fitra Siagian
Lampung, 28.04.19
Ba’da Subuh

Facebook Comments