Home Literasi Kegelapan Cinta dan Percaya

Kegelapan Cinta dan Percaya

151
0
Andi Tenri Wulang

Oleh : Andi Tenri Wulang*

Rasa pahit kopi yang baru saja aku teguk, sekaligus sebagai tegukan terakhir dari cangkir beningku tadi masih terasa pekat di lidahku, akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah, lelah dengan semua pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor, yah kantor sudah hampir tutup buku mengingat tahun sudah memasuki bulan desember, hal ini yang membuatku harus bekerja ekstra, ditambah lagi dengan hiruk-pikuknya suasana macet yang setiap hari menyambutku di pagi dan di sore hari, dan membuat hampir semua pengguna jalan terlihat semakin bringas di jalanan.

Untung hari ini adalah hari sabtu, sehingga weekend kali ini, aku akan banyak memilih bersantai dan menikmati hari di rumah saja. Tiba-tiba handphoneku bergetar, seketika mengejutkanku dan membuyarkan semua lamunanku. Nama Rangga menari-nari di atas layar handphone, tanpa berpikir panjang aku segera mengangkatnya.
“Iya Hallo…”
“Hallo, Seza sayang kamu lagi di mana?.”
“Aku lagi di rumah sayang?, kamu di mana? ada apa menelponku?.”
“Aku juga di rumah, tadi pagi ayah dan ibuku berangkat ke luar negeri, mereka akan pulang dua minggu lagi, sebentar malam aku mau ngajak kamu jalan, mau yah, aku tahu akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk sayang, ya kita sekedar refreshinglah. gimana?”
“Hmmm … okey sayang, sampai ketemu yah.”

Tawaran Rangga untuk mengajakku jalan malam ini tentu sangat sulit untuk aku tolak, secara kami memang akhir-akhir ini sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing di kantor.

Aku dan Rangga sudah menjalin hubungan pacaran ini selama 3 tahun semenjak kami masih duduk di bangku kuliah dua tahun yang lalu, dan saat ini kamipun sudah sama-sama bekerja, hanya berbeda perusahaan saja. Namun hubungan ini masih dapat kami sembunyikan dari kedua orang tuaku, karena ibu dan ayahku sejak dulu sudah melarang keras aku berhubungan dengan Rangga, namun aku tidak peduli sama sekali, aku sudah sangat mencintai dan mempercayai Rangga, dan Ranggapun demikian, sehingga hal inilah yang membuat aku nekat melanjutkan hubungan yang tak direstui ini dengan sembunyi-sembunyi.
***

Jam di arlojiku sudah menunjukkan pukul 21.28 WIB, telah bergeser hampir satu setengah jam dari waktu yang telah kami sepakati, namun Rangga enggan datang untuk menjemputku di rumah. Sebelum keluar, aku sempatkan untuk pamit kepada ayah dan ibu dengan alasan yang sangat rapi aku susun seindah mungkin agar dapat meyakinkan mereka, aku mengatakan bahwa, aku akan makan malam bersama teman-teman kantor.

Tidak lama kemudian, suara mobil yang sejak dari tadi aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga, aku bergegas keluar pintu rumah. Kulihat mobil Jazz merah telah terparkir di pinggir jalan berjarak sekitar lima meter dari pagar rumahku.

Di atas mobil, aku tidak pernah berbicara satu katapun, pandanganku lurus kedepan, tak mau sedikitpun menoleh kearahnya, yah aku marah karena Rangga telah membuatku menunggu lama, sesekali ia mengajakku berbicara dan memegang tanganku, menarik hidungku dengan tawa khasnya mencoba memadamkan kemarahanku atas kesalahan yang barusan ia lakukan, namun aku tetap saja bungkam tidak meresponnya. Tiba-tiba ia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.

“Sayang, kamu marah yah?, ya udah aku minta maaf deh, udah bikin kamu nunggu lama, aku gak sengaja kok, emang tadi jalannya macet, lah kan kamu tahu ini malam minggu, biasanya jugakan macet.” Jelasnya secara lukas.

“Bohong, aku gak percaya.” Jawabku ketus.

“Apa untungnya sih aku mau bohong sama kamu sayang, kamu gak percaya lagi sama aku?, iya aku salah. aku minta maaf ya…” Matanya berbinar, menandakan bahwa apa yang barusan ia katakan memang adalah benar.

“Ya udah, dimaafin tapi lain kali kalau mau jemput on time dong, kan aku juga jadinya gelisah nunggu kamu.” Jawabku datar.

“Gitu dong, iya sayang lain kali, aku gak bakalan bikin kamu nunggu lagi. Aku janji.” balasnya dengan senyuman yang melengkung di kedua sudut bibirnya.

Rangga mengajakku pergi ke sebuah club malam, awalnya aku sangat menolak ajakannya, namun ia kembali meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa, dan menjamin keselamatanku. Tanpa berpikir panjang lebar aku menurut saja padanya, mungkin karena aku memang sudah terlanjut mencintai dan mempercayainya.
***
Suara musik yang dimainkan oleh di DJ, sepertinya ingin merobek gendang telingaku, baru kali ini aku masuk di tempat seperti ini, tangan Rangga aku genggam sekuat-kuatnya, aku tak mau lepas darinya. Rangga sesekali disapa oleh wanita yang yang melewati kami, namun Rangga hanya membalasnya dengan senyuman ringan seperti biasa, sepertinya Rangga sudah tidak asing lagi ke tempat ini. Ah, tapi mana mungkin Rangga seperti itu, semua pikiran negatifku segera kutepis, sudah 3 tahun aku mengenal Rangga dan setahuku ia tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya.

Kami duduk berdua di sebuah meja sudut club ini, Rangga menawariku minuman beralkohol, awalnya aku menolaknya namun lagi-lagi Rangga membujukku dengan kata-kata manisnya, dengan bermodalkan rasa cinta dan kepercayaan kepadanya aku menerima saja tawaran itu, dan untuk pertama kalinya aku meminum minuman haram ini.

Selang beberapa menit kemudian kepalaku terasa sangat berat, tubuhku rasanya sangat lemah untuk kugerakkan, bahkan berjalan keluar club Rangga harus memapahku sampai di atas mobil.

“Rangga kita mau kemana?, kok jalannya bukan jalan ke rumah aku?.” Tanyaku pada Rangga yang masih fokus menyetir mobil.

“Sudah Seza kamu jangan banyak tanya, kamu mabuk berat.” Jawabnya singkat.

Aku sudah tidak mendengar lagi apa yang ia katakan, kepalaku terasa semakin berat, aku hanya tertidur sepanjang perjalanan. Dalam keadaan yang mabuk parah kamipun melakukan hal yang seharusnya kami tidak lakukan di luar pernikahan, hal yang masih haram ini kami lakukan dengan alasan cinta dan percaya.
***

Tiga bulan semenjak kejadian malam itu, aku merasakan ada yang berubah dari diriku, setiap hari aku merasa pusing dan mual-mual, awalnya aku pikir aku sedang kecapean dan masuk angin karena terlalu disibukkan oleh urusan kantor, hingga pada akhirnya ayah dan ibu memaksaku untuk memeriksakan diriku ke dokter.

Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa aku positif hamil. Deg! mengetahui hal itu, sepertinya duniaku telah kiamat, masa depan yang aku cita-citakan selama ini akan hanya menjadi sebuah angan yang tidak akan mungkin aku raih, keluargaku juga harus menanggung malu yang luar biasa karena hal ini, ayah dan ibuku pun merasa sangat tertampar dengan kelakuanku yang sangat menjijikan ini. Karena malunya ayah dan ibu mengusirku dari rumah, mereka sangat kecewa kepadaku, aku baru menyadari mengapa dulu ayah dan ibu sangat menentangku berhubungan dengan Rangga, ternyata dari awal mereka sudah tahu bahwa Rangga adalah pria yang tidak baik, brengsek dan tidak bertanggungjawab, aku juga baru tahu bahwa, sebelum aku, dulu sudah ada wanita lain yang dihamilinya.

Aku hanya bisa menangis meratapi nasibku kini, aku harus bisa menerima kenyataan bahwa aku telah hamil anak Rangga, yang lebih menyakitkan lagi ketika aku menuntut Rangga untuk menikahiku, namun ia menolak bahkan menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Namun aku tidak mau melakukannya, aku sudah melakukan dosa dan aku tidak mau melakukan dosa lagi dengan membunuh janin yang ada di dalam kandunganku.

Pada akhirnya aku memilih untuk meninggalkan kota ini, meninggalkan ayah dan ibu, meninggalkan semua pekerjaanku dan aku memilih tinggal di tempat kelahiranku di solo, dan tinggal bersama nenek.

Selang beberapa tahun berlalu, anakku Mioci, tumbuh seperti anak-anak lainnya, meskipun tanpa ayah, namun aku sebagai ibunya akan terus menjaga dan melindunginya. Meskipun aku sangat menyesali apa yang dulu pernah aku perbuat, yah dulu aku terlalu dilenakan oleh cinta yang buta, setidaknya ini adalah pembelajaran yang sangat berharga buatku.

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada

Facebook Comments