
Oleh: Andi Hendra Dimansa*
“Strategi pertumbuhan berimbang (balanced growth) di satu pihak, dan strategi ‘dorongan besar’ (big push) maupun tak berimbang (unbalanced growth) di pihak lain, cenderung untuk masuk dalam kategori ini, sebagaimana juga berbagai strategi yang memusatkan perhatiannya pada apa yang disebut ‘sektor-sektor terdepan’ (leading sectors) dengan mengecualikan sektor lain.” Soedjatmoko
Pertanyaan yang perlu diajukan hari ini bukanlah apakah pengemudi penting dalam ekosistem ojek online. Jawabannya sudah jelas, mereka penting. Pertanyaan yang lebih mendasar justru adalah, apakah mungkin kesejahteraan pengemudi dapat dipertahankan jika aktor yang menghubungkan seluruh ekosistem, yakni aplikator, justru kehilangan ruang untuk tumbuh dan berinovasi?
Di sinilah peringatan Soedjatmoko menjadi relevan. Ia mengingatkan bahwa pembangunan sering terjebak pada kecenderungan memilih satu sektor atau satu kelompok tertentu sebagai pusat perhatian, sementara elemen lain dalam sistem dikesampingkan. Akibatnya, kebijakan kehilangan pandangan menyeluruh terhadap hubungan antarkomponen yang sebenarnya saling menopang.
Dalam konteks ojek online, gejala tersebut mulai tampak. Diskursus publik dan politik belakangan ini cenderung berpusat pada relasi antara pengemudi dan platform. Hampir seluruh energi regulasi diarahkan pada bagaimana meningkatkan pendapatan pengemudi, mengatur komisi, menentukan tarif, atau mendefinisikan hubungan kerja. Semua itu penting. Namun ketika perhatian hanya diarahkan kepada satu sisi, muncul risiko mengabaikan keberlanjutan pihak yang menjadi penggerak utama ekosistem digital tersebut, perusahaan aplikasi.
Padahal data menunjukkan bahwa persoalan paling mendesak saat ini bukan sekadar kesejahteraan pengemudi, melainkan keberlanjutan ekosistem usaha secara keseluruhan. Menjaga kesehatan aplikator adalah prasyarat untuk menjaga keberlangsungan jutaan pengemudi, UMKM, dan konsumen yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Studi menunjukkan sektor ojek online menopang jutaan pekerjaan dan menghasilkan efek pengganda ekonomi yang besar. Karena itu, kebijakan yang terlalu membatasi ruang inovasi, investasi, dan fleksibilitas bisnis aplikator berisiko merusak fondasi yang selama ini menopang ekosistem digital nasional.
Pandangan ini sejalan dengan peringatan Soedjatmoko tentang bahaya melihat pembangunan secara parsial. Ketika negara terlalu fokus melindungi satu kelompok tanpa memahami keterhubungannya dengan kelompok lain, kebijakan yang lahir justru berpotensi merusak fondasi sistem yang ingin diperbaiki.
Pada akhirnya, menjaga aplikator bukan berarti mengabaikan pengemudi. Sebaliknya, keberlanjutan aplikator merupakan syarat bagi keberlanjutan seluruh ekosistem. Menjaga aplikator berarti menjaga denyut ekonomi digital yang telah menjadi salah satu penyangga penting kehidupan jutaan rakyat Indonesia.
Salam dari warga
*) Penulis adalah Peneliti Profetik Institute dan bergiat di Masyarakat Pemerhati dan Pengguna Transportasi Online (MAPPS-Online)






































