Home Berita Warisan Leluhur Gorontalo Jadi Destinasi Wisata

Warisan Leluhur Gorontalo Jadi Destinasi Wisata

0

Matakita.co (Gorontalo) – sebagai Daerah yang terus mempertahankan serta melestarikan tradisi warisan leluhur, Gorontalo memiliki potensi besar dalam mengembangkan destinasi wisata ala tradisional

Dalam beberapa tahun terakhir termasuk pada bulan suci Ramadhan popularitas wisata di Gorontalo memang tengah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dan kini berhasil menarik perhatian sejumlah wisatawan yang terus mendatangi, mulai dari variasi makanan halal (Takjil), lomba makan kacang dan pisang saat malam Qunut (malam ke lima belas hari puasa), Festival pukul beduk, tumbilotohe (malam pasang lampu) dan malam kuliner (pasar senggol).

Bagaimana tidak, sebagian besar wisatawan yang mengincar wisata ini pada dasarnya berasal dari negara-negara Timur Tengah, Hal ini tentu menjadi sebuah peluang emas bagi gorontalo untuk menggaet para wisatawan tersebut agar tertarik menyambangi Tanah yang memiliki filosofis adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah itu.

Menurut kepala bidang promosi Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Ivonela R. Larekeng saat di temui diruang kerjanya mengatakan, semarak ramadhan sudah dimulai sejak tahun kemarin oleh Sekretatis Daerah Provinsi Gorontalo terkait dengan pencanagan kampung ramadhan yang bertempat di Hotel Damhil.

Lanjutnya, untuk tahun ini semarak tersebut diprioritaskan lebih ke festival beduk yang nantinya akan dilangsungkan di lapangan taruna remaja dan dibuka langsung oleh Gubernur Gorontalo.

Sumber Photo : trafelingyuk.com

“Festival beduk yang dilangsungkan itu, kami bekerja sama dengan Kabupaten Kota Gorontalo, dan kita membuka 3 kategori antara lain, Umum, pelajar dan SKPD Kabupaten Kota dan Provins. Yang akan menjadi juri nantinya berasal dari Akademisi UNG, Kememterian Agama dan Pemprov”. Tuturnya.

Ditambahkannya, Hampir 99% masyarakat di Gorontalo masi sangat menjaga tradisi warisan leluhur seperti halnya tradisi malam tumbilotohe (malam pasang lampu) dan lomba pukul Beduk.

Ivonela menjelaskan, menjelang bulan Ramadhan ini masyarakat Gorontalo telah mempersiapkan diri untuk menggelar Festival Tumbilotohe yang diselenggarakan empat hari sebelum lebaran. Tumbilotohe sendiri merupakan tradisi memasang lampu minyak yang kemudian diletakkan di halaman rumah sesuai dengan jumlah keluarga dalam rumah tersebut, jalan raya, bahkan hingga di sawah-sawah milik penduduk.

Sumber Photo ; Tampoeroeng / Gemamutra.
Tumbilotohe (Malam Pasang Lampu)

“Penilaian untuk festival tumbilotohe sendiri, lampu ala tradisional 70% dan untuk lampu listrik penilaiannya 30%, untuk mendapatkan nilai yang lumayan, peserta harus menampilkan aktraksi bunggo (meriam bambu), serta yang memunculkan nilai tradisional. Untuk peserta yang hanya menggunakan lampu hias listrik kita tidak ikutkan kedalam festival” tegasnya.

Ivonela Larekeng menambahkan, lampu yang di prioritaskan dalam penilaian festival tumbilotohe antata lain, Tohe tutu, tonggulo opo, arkus dan padamala.

“Yang mewakili Festival untuk wilayah kota gorontalo di fokuskan pada lapangan padebuolo, kecamatan kota timur, wilayah kabupaten gorontalo difokuskan pada talumelito dan untuk alokasi minyak tanah melalui provinsi, dan untuk pendistribusian akan ditempatkan pada titik-titik yang telah di tetapkan serta untuk jumlah peringkat sebanyak enam peringkat” Tutup Kabid Promosi .

Facebook Comments