Beranda Lensa Pusat Krisis Psikologi Unhas, Growmates, dan Empathic.id Gelar Pelatihan Psychological First Aid

Pusat Krisis Psikologi Unhas, Growmates, dan Empathic.id Gelar Pelatihan Psychological First Aid

0

MataKita.co, Makassar — Pusat Krisis Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Growmates dan Empathic.id menggelar Beyond Stigma: Pelatihan Psychological First Aid (PFA) di Ruang Courage Lantai 1, Psikologi Fakultas Kedokteran Unhas, Minggu (16/8/2026).

Kolaborasi ketiga lembaga tersebut menjadi upaya memperluas pemahaman dan keterampilan dalam memberikan dukungan psikologis awal, terutama bagi relawan dan individu yang berhadapan langsung dengan masyarakat dalam situasi krisis.

Ketua Pusat Krisis Psikologi Unhas sekaligus Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran Unhas, Dwiana Fajriati Dewi, S.Psi., M.Sc., mengatakan pelatihan dirancang secara fleksibel dengan mempertimbangkan kebutuhan relawan dalam menjalankan peran pendampingan.

“Pembekalan ini menjadi langkah awal agar pekerja sosial mampu mendampingi sekaligus memberdayakan penerima bantuan,” ujar Dwiana.

Pelatihan menghadirkan Dosen Psikologi Unhas sekaligus Sekretaris Pusat Krisis Psikologi Unhas, Raudyatuh Zahra, S.Psi., M.A., serta Psikolog Klinis Bermakna Psychological Center, Andi Novianti R., M.Psi., Psikolog, sebagai pemateri.

Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan pada Psychological First Aid sebagai respons awal yang manusiawi dan suportif bagi individu yang menghadapi situasi krisis. PFA menekankan kemampuan untuk hadir, mendengarkan kebutuhan, memberikan rasa aman, serta menghubungkan individu dengan dukungan yang diperlukan.

Raudyatuh menjelaskan, PFA bukan konseling atau terapi psikologis profesional. Pendekatan tersebut merupakan dukungan awal yang dapat diberikan secara aman dan tepat oleh orang yang memiliki pemahaman dan keterampilan dasar.

“PFA bukan tentang menyelesaikan seluruh masalah seseorang, tetapi tentang hadir, mendengarkan, dan memberikan dukungan awal sesuai dengan kapasitas kita,” ujarnya.

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai batas peran sebagai pendamping sebaya, termasuk mengenali kondisi yang membutuhkan rujukan kepada psikolog atau tenaga profesional. Kerahasiaan, penghormatan terhadap keputusan penerima bantuan, serta prinsip untuk tidak memaksa seseorang menceritakan pengalaman yang belum siap disampaikan turut ditekankan.

Salah satu materi utama adalah professional boundaries atau batas profesional. Pemberi PFA diarahkan untuk memberikan dukungan tanpa merasa harus mengambil alih dan menyelesaikan seluruh persoalan orang yang didampingi. Batas tersebut diperlukan untuk menjaga ketenangan dan objektivitas pendamping sekaligus mengenali kapan dukungan pihak lain dibutuhkan.

“Mengetahui kapan harus membantu dan kapan harus merujuk merupakan bagian penting dari memberikan pertolongan yang tepat,” kata Andi Novianti.

Peserta menyambut positif pelatihan yang diinisiasi Pusat Krisis Psikologi Unhas bersama Growmates dan Empathic.id tersebut. Salah seorang peserta berharap kolaborasi serupa dapat berlanjut sehingga keterampilan PFA dapat menjangkau lebih banyak orang.

“Kerja sama ini diharapkan dapat terus berlanjut, termasuk melalui pemberian keterampilan PFA kepada rekan-rekan yang belum mendapatkannya, sehingga mereka dapat lebih mampu mengidentifikasi permasalahan, khususnya permasalahan psikologis,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Pusat Krisis Psikologi Unhas, Growmates, dan Empathic.id mendorong peserta tidak hanya mampu memberikan dukungan psikologis awal, tetapi juga memahami keterbatasan peran serta mengetahui kapan seseorang perlu memperoleh bantuan lebih lanjut dari tenaga profesional.

Facebook Comments Box