Beranda Kampus PPK Ormawa KPI Unhas Perkuat P4S Lamellong untuk Siapkan Petani Masa Depan

PPK Ormawa KPI Unhas Perkuat P4S Lamellong untuk Siapkan Petani Masa Depan

0

MataKita.co, Bone — Upaya menyiapkan generasi petani yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dilakukan melalui penguatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Melalui program Sikola P4S Lamellong, petani didorong tidak hanya meningkatkan keterampilan budidaya, tetapi juga memperkuat kemampuan dalam mengelola kelembagaan, mengembangkan usaha tani, serta mengadopsi berbagai inovasi pertanian.

Program tersebut dikembangkan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai bagian dari program MANNENNUNGENG.

Burhanuddin, S.P., selaku narasumber kegiatan, mengatakan keberadaan P4S memiliki peran penting dalam mendukung regenerasi petani. Menurut dia, keberlanjutan sektor pertanian tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga membutuhkan petani yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

“Regenerasi petani bukan sekadar menghadirkan generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. Mereka juga perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, kemampuan mengelola usaha tani, serta pemahaman terhadap teknologi pertanian yang terus berkembang,” kata Burhanuddin.

Menurut dia, P4S dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan petani. Melalui pendekatan berbasis praktik, petani dapat bertukar pengalaman, mempelajari inovasi, sekaligus melihat secara langsung penerapan teknologi di lapangan.

Perkuat Kelembagaan Petani

Sikola P4S Lamellong dirancang dengan memadukan peningkatan keterampilan teknis dan penguatan kelembagaan. Program tersebut mencakup penyusunan modul pelatihan, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan kepada petani.

Melalui kegiatan tersebut, petani mendapatkan pembelajaran mengenai pengelolaan organisasi, perencanaan usaha tani, pembangunan jejaring kemitraan, serta pemanfaatan inovasi pertanian.

Burhanuddin menilai penguatan kelembagaan menjadi bagian penting agar inovasi yang diperkenalkan dapat terus dikembangkan setelah program pendampingan selesai.

“P4S diharapkan tidak berhenti sebagai tempat pelatihan. Lembaga ini perlu menjadi pusat belajar petani yang mampu berkembang secara mandiri, membangun jejaring, serta menjadi tempat penyebarluasan inovasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, kelembagaan petani yang kuat juga diperlukan untuk memperluas akses terhadap informasi, teknologi, pelatihan, dan kemitraan. Dengan demikian, peningkatan kapasitas tidak hanya berlangsung pada tingkat individu, tetapi juga pada organisasi yang menjadi wadah petani.

Kenalkan Teknologi Pertanian

Dalam program MANNENNUNGENG, penguatan P4S turut dipadukan dengan penerapan sejumlah inovasi pertanian.

Inovasi tersebut antara lain penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT), pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik serta pakan ternak, pola tanam Jajar Legowo, introduksi varietas unggul, hingga teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, P4S diarahkan menjadi ruang demonstrasi teknologi. Petani dapat melihat penerapan inovasi secara langsung sebelum menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi usaha tani masing-masing.

Burhanuddin mengatakan perkembangan teknologi membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun, penerapan teknologi perlu disertai peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Teknologi akan memberikan manfaat ketika petani memahami cara menggunakan dan menyesuaikannya dengan kondisi di lapangan. Karena itu, pendampingan dan proses belajar menjadi sangat penting,” kata dia.

Siapkan Kader Petani

Sikola P4S Lamellong juga diarahkan untuk mendorong lahirnya kader-kader petani yang dapat menjadi penggerak pembangunan pertanian di Desa Kajaolaliddong.

Petani diharapkan memiliki kemampuan mengelola inovasi, membangun kemitraan, serta membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada petani lainnya. Model tersebut diharapkan membuat proses pembelajaran dan penyebaran inovasi tetap berlangsung setelah program selesai.

Burhanuddin mengatakan regenerasi pertanian perlu dipahami lebih luas daripada sekadar pergantian generasi. Petani masa depan, menurut dia, perlu memiliki kemampuan mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, membangun jejaring, serta beradaptasi terhadap perubahan.

“Yang perlu dipersiapkan bukan hanya siapa yang akan menjadi petani berikutnya, tetapi bagaimana melahirkan petani yang inovatif, mandiri, dan mampu menjawab perubahan sektor pertanian,” ujarnya.

Melalui Sikola P4S Lamellong, kolaborasi mahasiswa, petani, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat P4S sebagai pusat pembelajaran dan difusi teknologi pertanian di tingkat desa.

Penguatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang mampu mendukung keberlanjutan produksi pangan dan regenerasi petani di masa mendatang.

Facebook Comments Box