Home Lensa Berkurban 584 Ekor Sapi, LDII Sulsel: Idul Adha Momentum Membina Persatuan dan...

Berkurban 584 Ekor Sapi, LDII Sulsel: Idul Adha Momentum Membina Persatuan dan Kesatuan Bangsa

0
Ribuan umat Islam yang terdiri dari Warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan masyarakat Kota Makassar melaksanakan Shalat Idul Adha di Lapangan Kompleks Sikamaseang, Jalan Berua Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (11/8/2019) pukul 07.00 Wita. Menurut data sementara, hingga Minggu (11/8/2019), warga LDII se-Sulawesi Selatan berkurban sapi sebanyak 584 ekor dan 120 ekor kambing.

MataKita.co, Makassar – Idul Adha adalah potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Betapa Nabi Ibrahim telah mengalami ujian yang sangat berat tatkala ia menerima perintah untuk menyembelih putranya. Hakikatnya, penyembelihan hewan kurban di Hari Raya Idul Adha memiliki 2 hikmah, dilihat dari dimensi vertikal dan dimensi sosial.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Dr Ir Abri MP mengutarakan, sebelum darah hewan kurban sampai ke bumi, pahalanya sudah sampai di sisi Allah SWT. Idul kurban, kata Abri, bisa menjadi tameng dari neraka Allah. “Kuku kakinya, bulu-bulu, tanduk, dan semua bagian tubuh hewan kurban akan mendatangkan pahala. Tidak ada yang bisa membandingi pahala berkurban, kecuali orang yang berangkat dalam sabilillah kemudian pulang tinggal nama,” ujar Abri usai Shalat Idul Adha di Lapangan Kompleks Sikamaseang, Jalan Berua Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (11/8/2019).

Di Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah tahun ini, LDII mengambil tema “Berkurban Tingkatkan Ketakwaan dan Kepedulian Terhadap Sesama”. Menurut data sementara, warga LDII se-Sulawesi Selatan berkurban sapi sebanyak 584 ekor dan 120 ekor kambing. “Ini masih data sementara. Insya Allah satu sampai dua hari kedepan akan terus bertambah,” kata Dr Abri.

Warga LDII tidak menyia-nyiakan momen yang bernilai pahala yang besar ini. “Daging kurban ini akan kita tebar kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Generasi muda LDII siap tebar kurban pintu ke pintu,” ungkap Dr Abri.

Dimensi kedua, ujar Abri, terkait dimensi sosial, mementum Idul Adha ini sebagai momentum peduli kepada sesama umat islam. “Kita berbagi. Sesuai sabda Nabi, daging kurban 1/3 dikonsumsi dan 2/3 dibagikan kepada fakir miskin yang membutuhkan,” katanya.

Dari kacamata kenegaraan, Idul Adha sangat penting untuk membina persatuan dan persatuan bangsa. Momen idul adha ini kita membangun ukhuwah, kerukunan, dan kekompakan. “Sehingga tujuan dan cita-cita negara dengan mudah akan kita raih. Dengan persatuan dan kesatuan, maka apapun yang kita cita-citakan bisa tercapai,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua LDII Sulawesi Selatan Dr Sanusi Fattah MSi menyampaikan, perintah agar Ibrahim menyembelih putranya telah menimbulkan perang batin yang hebat, yakni perjuangan antara iman dan hawa nafsu. “Imannya menuntut ketaatan atas perintah Allah, sedang nafsunya mendesaknya untuk menyelamatkan Ismail, anak kandung semata wayangnya,” tuturnya di hadapan ribuan umat islam yang mengikuti Shalat Idul Adha.

Iblis dengan segala cara berupaya agar Nabi Ibrahim tidak melaksanakan perintah itu. Karena itu, Ibrahim lantas mengambil 7 buah batu dan melemparkannya kepada iblis. Inilah yang pada akhirnya menjadi Jumrah Ula. Tidak berhasil menggoda Ibrahim, Iblis lantas membujuk Hajar agar segera mencegah suaminya yang bermaksud menyembelih putranya tersayang. “Namun Hajar juga menolak dan melempari Iblis dengan batu. Lokasi ini sekarang merupakan tempat melontar Jumrah Wustha,” ujarnya.

Penyembelihan hewan kurban itu harus benar-benar didasarkan atas keikhlasan hati dan niat semata-mata mencari ridha Allah. “Kalau niat ikhlas dan semata karena Allah belum ada di hati kita, maka kiranya perlu ditata kembali niatan berkurban. Tujuannya agar tidak sia-sia kurban kita di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Lebih lanjut, keluarga Nabi Ibrahim adalah wujud dari sebuah keluarga yang dalam istilah kita sekarang adalah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. “Keluarga yang diliputi kasih sayang di antara sesama anggota keluarga. Keluarga yang mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keimananan, ketakwaan, dan akhlakul-karimah,” sebut Dr Sanusi Fattah MSi.

Keteladanan Nabi Ibrahim terlihat ketika ia berhasil menanamkan keimanan kepada putranya, Ismail, dan istrinya, Hajar. Hajar rela dan bersedia ditinggalkan di suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan yang sekarang menjadi Kota Mekkah dan sekitarnya. Kemudian Ismail dengan sangat sadar, sama sekali tidak menolak untuk menyerahkan dirinya disembelih sebagai bukti ketaatan Ibrahim terhadap Allah SWT. “Hal itu semua tidak akan terjadi manakala pondasi keimanan tidak kokoh,” katanya.

Facebook Comments