Home Berdikari Paru-Paru Pelajar Berbintik Hitam Setelah Setahun Vaping

Paru-Paru Pelajar Berbintik Hitam Setelah Setahun Vaping

0

MataKita.co — Seorang pelajar di negara bagian Florida, Amerika Serikat (AS) membagikan kondisi paru-parunya setelah setahun mengonsumsi rokok elektronik atau vaping. Dia mendapat penanganan medis karena pingsan.

Dilansir dari News.com.au, Chance Ammirata mengisahkan bisa mengisap satu pod setiap beberapa hari, setara dengan 10 nikotin sehari. Namun pada pekan lalu, remaja berusia 18 tahun itu membutuhkan pembedahan darurat untuk memperbaiki kerusakan di paru-parunya. Ahli medis menyebut kerusakan itu disebabkan bahan kimia beracun dari perangkat vape.

Ammirata mulai menggunakan vape sekitar 18 bulan lalu, setelah meyakini rokok elektronik itu sebagai alternatif aman untuk merokok. Pada Senin pekan lalu, dia merasa kesulitan tidur akibat nyeri di dada sisi kiri. Dia menduga rasa sakit itu disebabkan tarikan otot.

Keesokan harinya, dia pergi bermain bowling dengan seorang teman. Ammirata merasakan kesakitan seperti serangan jantung. Kemudian, temannya membawa Ammirata ke rumah sakit. Sekitar lima jam kemudian, Ammirata mendapati sejumlah ahli bedah mengelilinginya.

Ammirata mengatakan para ahli bedah menjelaskan paru-paru kirinya rusak. Karena itu, Ammirata membutuhkan penanganan dengan memasukkan selang ke paru-parunya, agar tetap berfungsi. Ammirata tidak merasakan gejala, seperti batuk atau mengi sebelum mengetahui kondisi paru-parunya.

“Ketika mereka melakukan operasi besar untuk memulihkan paru-paru saya, dokter bedah berkata, apa pun yang Anda rokok, itu meninggalkan titik-titik hitam di paru-paru,” pungkas Ammirata.

Ahli bedah menjelaskan menghilangkan titik-titik hitam di paru-paru membutuhkan waktu bertahun-tahun atau mungkin tidak bisa hilang sama sekali. Dokter memberitahu bahwa Ammirata tidak bisa lari lintas alam atau menyelam dengan tabung oksigen dalam waktu lama.

Ammirata belum pernah merokok sebelumnya. Sekarang, dia memperingatkan orang lain yang masih menggunakan rokok elektronik. Dia berbagi gambar paru-parunya di media sosial dengan membubuhkan tulisan, “Anda mengira Juuls (merek rokok elektrik) aman. Begitu juga saya. Titik-titik hitam di paru-paru saya mengingatkan kita pada Juuling. Saya sudah melakukannya selama satu setengah tahun dan tidak pernah bisa melakukannya lagi. Anda juga seharusnya tidak melakukannya. Saya tahu betapa sulitnya mengubah pikiran siapa pun yang kecanduan, karena saya juga. Kurasa tidak ada yang bisa membuatku bertenti menggunakan vape, tetapi paru-paru Anda kemungkinan besar terlihat seperti ini juga jika Anda sudah merokok. Jangan biarkan kondisnya menjadi lebih buruk, tolong berhenti. Itu sangat menakutkan.”

Peristiwa yang menimpa Ammirata terjadi beberapa pekan setelah delapan remaja dirawat di rumah sakit dengan kerusakan paru-paru parah di AS, setelah menghirup THC melalui rokok elektronik. Remaja-remaja itu mengalami batuk ekstrem, kesulitan bernapas, nyeri dada, kelelahan, dan penurunan berat badan.

Para ahli sebelumnya telah memperingatkan bahwa sebagian besar rokok elektronik terkontaminasi dengan racun jahat. Para ilmuwan di Harvard dari TH Chan School of Public Health menguji 75 produk rokok elektronik populer, termasuk cartridge sekali pakai dan e-liquid isi ulang.

Mereka menemukan hampir satu dari tiga produk rokok elektronik mengandung endotoksin, yakni agen mikroba yang ditemukan pada bakteri negatif. Sekitar 80 persen berisi jejak glukan, yang ditemukan di dinding berjamur.

Para ahli memperingatkan paparan racun itu dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk asma, penurunan fungsi paru-paru, dan peradangan. Rokok elektronik secara luas dianggap lebih aman daripada merokok. Pejabat kesehatan, termasuk Kesehatan Masyarakat Inggris, merekomendasikan vaping kepada perokok yang mencoba berhenti. Namun, lebih banyak ahli menganjurkan mereka berhati-hati, karena belum ada penelitian penggunaan vape dalam jangka panjang.

rpl

Facebook Comments