Home Berita KNPI Maros Gelar Bincang Kemerdekaan di Kampoeng Bambu Toddopulia

KNPI Maros Gelar Bincang Kemerdekaan di Kampoeng Bambu Toddopulia

0
Ketua DPRD Maros, Chaidir Syam memaparkan materinya pada bincang kemerdekaan yang diadakan di kampoeng Bambu Toddopulia

MataKita.co, Maros – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Maros menggelar bincang kemerdekaan di Kampoeng Bambu Toddopulia, Kecamatan Tanralili. Kegiatan yang mengangkat tema “74 Tahun Merdeka : Sudahkah Pemuda Berdikari (Berdiri diatas kaki sendiri)?” merupakan rangkaian dari Festival Republik Bambu yang berlangsung pada tanggal 16 – 17 Agustus 2019.

Adapun narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini yakni AS Chaidir Syam (ketua DPRD Maros), Herwan (ketua KNPI Maros) dan Wahyuddin Yunus (selaku penggagas kampung Toddopulia).

Rizal Pauzi, sekretaris KNPI Maros kepada matakita.co mengatakan bahwa kegiatan bincang kemerdekaan ini merupakan bagian dari refleksi hari kemerdekaan. Selain itu, sebagai bentuk apresiasi dan keterlibatan KNPI dalam mensupport terselenggaranya Festival Republik Bambu yang diadakan oleh pengelola kampoeng bambu toddopulia.

Adapun dalam pemaparannya, Chaidir Syam mengatakan sangat mengapresiasi keberadaan kampung bambu ini. Ini merupakan bagian dari kreatifitas yang perlu untuk di support. Apa lagi Tanralili ini memang penghasil bambu yang luar biasa. semoga keberadaan kampung bambu ini bisa memberdayakan masyarakat sekitar khususnya pemuda.

“Bambu itu selain banyak manfaatnya, juga sebagai simbol kemerdekaan. kita merdeka dengan bambu runcing, tentu spirit itu harus kita pegang. Pada intinya, pemuda harus semangat untuk bekerja secara kreatif dan inovatif, nantinya kita kan menjadi mandiri” Jelas Alumni Unhas ini.

Sementara itu, Herwan dalam pemaparannya mengatakan bahwa pemuda harus mampu mengisi kemerdekaan ini dengan kreatifitas dan inovasi. Jika pemuda bisa melakukan hal itu, maka kedepan bisa berdiri diatas kaki sendiri seperti pesan bung Karno.

“Adapun KNPI ini sebagai wadah berhimpun pemuda untuk menempa diri. Sehingga perlu berbagai terobosan. Kampung bambu ini bisa menjadi laboratorium pemuda untuk terus berproses dan mengasah kreatifitasnya” Jelas Lurah Hasanuddin ini.

Sementara itu, Wahyuddin Yunus mengulas terkait bagaimana pengalaman selama merintis kampung bambu ini. menurutnya Kampoeng bambu ini merupakan miniatur kebudayaan. Tentunya pemuda harus berperan penting dalam mengisi kemerdekaan, salah satunya dengan bagaimana agar bambu yang ada di Tanralili ini bukan hanya dijual secara gelondongan, tetapi diolah dengan kreatifitas.

” Kampoeng Bambu ini didesain seperti perkampungan. sehingga orang kota yang ingin menikmati suasana ini bisa berkunjung kekampung bambu. Selain suasana, tentu juga ada kesenian tradisional, makanan tradisional dan olahan dari bambu. karena merdeka tak selamanya semuanya harus modern” Jelas penggagas Festival Republik bambu ini.

Facebook Comments