Home Literasi Benarkah ini Wajah Kebudayaan Gorontalo?

Benarkah ini Wajah Kebudayaan Gorontalo?

0

Oleh : Arief Abbas

Saya tercenung. Salah satu akun instagram tiba-tiba mengunggah gambar menohok: seorang wanita menggunakan “bili’u”, sebuah pakaian adat Gorontalo yang megah nun dipenuhi pusparagam warna lagi makna, namun muncul dengan tampilan yang berbeda.

Wanita itu terlihat penuh percaya diri. Diperlihatkanlah gaya tangan kanannya menyangga selempang bertuliskan “GORONTALO”. Sedang tangan satunya lagi tandas di bagian pinggang kiri dengan siku yang membentuk sudut segitiga 60 derajat. Mata wanita ini berpendar, tapi sayang, tatapannya kosong.

Di bagian bawah tempat gaun itu hampir menjuntai ke tanah, pandangan saya dengan bebas terarah ke satu tempat terbuka, sebuah bagian tubuh perempuan yang seringkali disebut sensitif. Dibalik pintal-pintal benang yang memantulkan cahaya merah yang menyala, wanita itu hanya mengenakan celana pendek – mungkin jeans atau semacamnya – dengan panjang tak sampai menutupi lutut.

Pakaian adat Gorontalo, yang begitu anggun tatkala digunakan saat prosesi pernikahan dan adat, tak sedikitpun terlihat menutupi sisa tubuh wanita itu. Sisi kanan kiri keduanya justru melebar meninggalkan jahitannya satu sama lain.

Apa yang terjadi setelah itu? Gambar itu secepat kilat memenuhi timeline media-media sosial. Komentar sana-sini bermunculan. Sebagian sinis, sebagian lagi menyayangkan.

Wanita yang mengenakan pakaian adat Gorontalo itu ternyata sedang berkontes dalam sebuah pagelaran kebudayaan nasional, lebih tepat Pemilihan Putra-Putri Kebudayaan Nasional. Acara itu diadakan kemarin, Jumat 23 Agustus 2019 di Jakarta. Dan, wanita itu terpilih sebagai salah satu finalis asal Gorontalo.

Media lokal, tentu saja meliput hal tersebut. Mereka dengan cekatan mempertanyakan hal tersebut kepada Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. Tapi respon yang diterima, jika boleh saya sederhanakan, adalah “kami tidak tahu menahu dengan hal itu”. Lalu, apa yang sungguh-sungguh sedang terjadi?

***

CP. Snow, seorang novelis sekaligus saintis terkemuka di abad ke 19 pernah menulis sebuah buku yang menggetarkan. Judulnya The Two Culture (Dua Budaya), dipublikasikan pertama pada tahun 1959. Di dalam karya tersebut, Snow menyitir gagasan tentang sebuah malapetaka yang bakal dialami oleh ilmu-ilmu sosial humaniora – kebudayaan termasuk di dalamnya – dalam waktu yang tak begitu lama lagi.

Snow memberi alasan yang cukup tajam, bahwa mereka, para budayawan, memiliki semacam resistensi terhadap perkembangan-perkembangan dunia yang serba cepat. “Mereka, para budayawan, yang mengetahui seluk-beluk tentang kebudayaan,” ujar Snow “tidak pernah diberi akses yang sepadan di dalam bidang pemerintahan atau di antara para ilmuan yang bergelut dengan angka-angka – natural scientist.”

Komunikasi antar kedua ilmuan ini juga tidak terjalin dengan baik. Sederhana saja menurut Snow: terjadi ketegangan di antara social scientist dan natural scientist karena pandangan-pandangan mereka bersilang sengkarut. Budayawan bergelut dengan hal-hal klasik, sedang para saintis selalu memaparkan temuan-temuan faktual, futuristik, dan tentu saja menghentak-hentak. Dan, malangnya, pemerintah di masa itu lebih mementingkan natural scientist ketimbang social scientist.

Di abad 19, ketika revolusi industri sedang meletup, ilmuan-ilmuan sosial juga kerap kali membikin susah pemerintah. Mereka meluncurkan kritik tajam soal perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Snow menyebut orang-orang ini sebagai “ludite”, yakni para penentang inovasi teknologi dan industri, atau para pekerja yang memprotes penggunaan metode produksi baru di pabrik-pabrik Inggris di tahun 1810-an selama revolusi terjadi.

Bagi para budayawan, kelas-kelas masyarakat baru pada akhirnya hanya akan menghancurkan ingatan orang-orang tentang sejarah mereka sendiri. Ide tentang ketercerabutan identitas inilah yang barangkali membuat para ilmuan sosial terlempar dalam sebuah ruang kedap suara. Ceramah-ceramah mereka tidak pernah mendapat tempat, atau jika sekalipun diberi, tidak banyak yang meminati.

Di akhir The Two Culture, Snow coba memberikan sebuah pandangan. Bahwa ketiga komponen ini perlu membuka ruang dialog, yang pada akhirnya bakal menciptakan kondisi saling mendukung secara mutual dan spontan satu sama lain. Artinya, tidak ada tekanan atau paksaan dari pihak mana pun dalam hubungan yang saling mendukung itu. Setiap unsur punya arah dan tujuan wacananya masing-masing.

Jika sebuah pemerintahan diilustrasikan layaknya batang tubuh, maka untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan memanfaatkan setiap unsur (kelompok, komunitas, kelompok bidang ilmuan, kelompok pakar, atau kelompok profesi) untuk saling menopang. “Hanya dengan itu,” ujar Snow “setiap kelompok pengetahuan akan memenangkan pertarungan.”

***

Apa yang sedang terjadi di Gorontalo agaknya demikian. Terdapat sesuatu yang cukup serius di dalam tubuh pemerintahan kita. Kalimat “kami tidak mengetahui apa-apa” yang diujarkan pemerintah terhadap kasus seseorang yang dianggap mencederai kebudayaan Gorontalo lewat pakaiannya, dengan tegas memperlihatkan Ketidakharmonisan.

Mungkin juga karena di satu sisi, kritik tajam kerap kali dilepaskan para budayawan terhadap pemerintah. Tetapi ini perlu jadi renungan: kurang melibatkan para ilmuan sosial – sebutlah para budayawan yang bertitik fokus terhadap sejarah Gorontalo – dalam kerangka kerja, atau acara-acara yang digelar oleh pemerintah tentu saja memiliki implikasi yang serius. Dan kita telah melihat itu terjadi dalam kasus ini.

Konsekuensinya, masyarakat akan selalu lebih cepat mendikte. Bagi mereka, ini adalah sebuah keteledoran – apa pun pembelaan yang muncul.

Kedepan, pemerintah harus lebih getol lagi mendorong agar kebudayaan menjadi public lecture, ketimbang muncul dalam kegiatan-kegiatan ambisius yang menempatkan prestise di depan mata. Sehingga setiap orang merasa bahwa pengetahuan tentang kebudayaan itu menjadi milik bersama, dan bukan lagi perseorangan.

Semoga hal ini tak terjadi lagi.***

Wallahualam bisshawab…

 

 

*) Penulis Salah Satu Penggiat Literasi

Facebook Comments