Home HISTORIA 62 Tahun Karapan Sapi, Wujud Tradisi dan Kebahagiaan Masyarakat Molamahu

62 Tahun Karapan Sapi, Wujud Tradisi dan Kebahagiaan Masyarakat Molamahu

0

Matakita.co (Gorontalo) – Jika Madura punya tradisi Barapan Kerbau yang sering kita dengar dan saksikan, Gorontalo tak kalah aksinya dengan Karapan Sapi Lokal yang begitu menarik.

Atraksi budaya masyarakat Gorontalo tak kalah menariknya dengan yang dimiliki daerah lain. Karapan Sapi Lokal adalah salah satu contohnya.

Setelah selama sebulan mengonsumsi daging sapi, di lebaran idul adha, tradisi Karapan Sapi kembali digelar pada Minggu (1/9/2019). Lokasinya pun masi terbilang tradisional, jalanan yang biasanya di lalui masyarakat untuk beraktivitas, kini, di gunakan buat sirkuit karapan, tepat berada di Desa Molamahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Sapi yang tampil pada lomba pun jumlahnya tak sedikit, ada sekitar 38 pasang sapi dari berbagai desa, di Kab. Gorontalo. Penonton dari berbagai kecamatan, bahkan dari luar kabupaten ramai berdatangan menyaksikan karapan sapi di akhir masa perayaan lebaran Idul Adha dan 17 Agustus.

Karapan Sapi merupakan suatu tradisi khas yang dimiliki masyarakat Desa Molamahu yang hingga kini masih tetap dirawat.

“setiap satu tahun sekali, karapan diadakan oleh generasi muda dalam hal ini karang taruna, guna memperingati hari raya idul adha dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Ini budaya Gorontalo yang terus dipelihara, lumayan hadiahnya kita berikan satu ekor sapi, uang, dan tropi, hal ini tentunya untuk membangkitkan semangat peternak sapi dalam membudidayakan sapi lokal dan menjaga tradisi ini” tutur Sofyan Labi Ketua Panitia.

Sofyan mengatakan, Arena balapan setiap momentum diadakan hanya di jalanan masyarakat saja, kami mengharapkan bisa ada lintasan sendiri sehingga tidak membahayakan masyarakat sekitar.

Lanjutnya, Seperti biasa, sapi – sapi tangguh, telah disiapkan oleh si pemilik yang akan ikut sebagai peserta dalam perlombaan itu. Sepasang sapi disatukan dengan kayu yang menempel di pundaknya.

Kayu yang dipasang di pundak sapi, sehingga dua sapi jadi satu, lengkap dengan tali kekang di lehernya, serta Gerobak yang terbuat dari kayu berbentuk mungil atau kecil, tentu berbeda dengan gerobak pada umumnya, menyerupai tempat di mana seorang joki berdiri dan memegang tali kendali.

Seorang joki juga dilengkapi dengan cambuk yang terbuat dari kayu kecil untuk memukul sapi agar bisa berlari kencang. Siapa yang tercepat, maka dialah yang akan jadi pemenangnya.

Bukan hanya itu, seorang joki juga harus mampu mengarahkan sapi aduannya agar bisa melewati tali rapia. Yakni sepotong tali yang dibentangkan di tengah bagian atas lintasan sebagai penanda garis finish.

“Satu kali lari, mencapai tiga pasang sapi saja secara bergantian. Sapi harus bisa melewati rapia itu. Kalau peserta bisa menyentuhnya dan lari dengan cepat, maka dia adalah sang juara,” jelasnya.

“Hadiahnya lumayan untuk memelihara semangat pemuda untuk terus beternak dan menjaga budya ini, untuk tahun ini kami memprioritaskan hadiahnya seekor sapi, sebagai tanda pemenang juara umum,” terang Sofyan.

Bupati Kabupaten Gorontalo Nelson Pomalingo mengatakan, inisiatif Pemkab melihat lokasi yang masi di kawasan areal aktivitas masyarakat, tentunya kedepan akan di perbaiki lebih bagus lagi, menggunakan aspal jalan, namun tergantung kesepakatan masyarakat, apakah lokasinya akan dipindahkan atau bagaimana.

“Event karapan sapi di desa molamahu sudah berusia, kisaran 62 tahun di selenggarakan. Sudah dua kali saya datang ke lokasi ini, untuk tahun ini akan kita anggarkan dengan nominal 25 juta, dan dibuat secara berkelanjutan, karena event ini sebagai simbol kebahagiaan masyarakat, termasuk pengembangan sapi dan pertumbuhan ekonomi” Tutur Bupati Nelson.

“Pak Rusli juga saya sudah beritahu sebagai wakil rakyat dilokasi ini, untuk merancang baik kedepan, sehingga, lokasinya betul – betul representatif dan tidak mengganggu masyarakat serta akan dianggarkam tiap tahunnya sehingga panitianya tidak susah untuk menyiapkan hadiahnya” Tutup Bupati Nelson

Facebook Comments