Home Edukasi Hasrat Tradisi vs Rasa Takut Terinfeksi

Hasrat Tradisi vs Rasa Takut Terinfeksi

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Farisandy R. Baeda

Tumbilotohe atau pasang lampu, atau malam pasang lampu adalah salah satu kekayaan unik budaya gorontalo. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengubah lampu di halaman-halaman rumah penduduk dan di jalan-jalan pada tiga malam terakhir Ramadhan. Tumbilotohe merupakan tradisi yang sudah ada sejak abad ke-15. Menurut sejarah, tradisi ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat setempat ketika ingin memberikan zakat fitrah pada malam hari, baik ke masjid atau tetangga sekitar seusai shalat tarawih. Selain itu, masyarakat gorontalo juga percaya bahwa pelaksanaan tradisi ini adalah untuk mendapatkan berkah Lailatul Qadar.

Berawal dari sebuah tradisi, hamparan cahaya kuning di bibir-bibir jalan, lapangan, hingga halaman rumah dengan formasi yang beragam menjadikan Tumbilotohe sebagai sebuah pemandangan yang paling dinantikan setiap bulan Ramadhan. Tak heran, tradisi ini kemudian mulai dilombakan dan dikenal dengan Festival Tumbilotohe.

Karena fenomena dan keberadaan covid-19, tahun ini menjadi tahun kedua tidak dilaksanakannya festival Tumbilotohe. Kurang lebih sejak pekan terkahir bulan april kemarin, pemerintah Provinsi Gorontalo telah mengambil kebijakan untuk tidak melaksanakan festival Tumbilotohe. Kebijakan itu diambil untuk mewujudkan kerumunan kerumunan mewaspadai peningkatan kasus positif covid-19 di provinsi Gorontalo. Selain pencegahan pelaksanaan festival Tumbilotohe, beberapa kebijakan lain yang diambil oleh pemerintah provinsi terkait dengan pencegahan dan penanganan covid-19 adalah penutupan akses keluar masuk daerah provinsi, dan larangan pelaksanaan pasar senggol.

Tetapi Tumbilotohe bukan sekedar festival. Tumbilotohe bukan kegiatan yang terkenal karena kompetisi. Tumbilotohe adalah tradisi, malam dimana cerita sejarah terakumulasi.

Rasa takut masyarakat terhadap COVID-19 luntur oleh hasrat ingin menyaksikan tradisi. Sebab Tumbilotohe bagi masyarakat gorontalo saat ini, telah tumbuh dan mengakar sejak usia sebelum usia. Antusias masyarakat baik yang tua maupun muda untuk menyaksikan dan memantau Tumbilotohe tidak bisa dibendung. Para tetua ingin menyaksikan apakah Tumbilotohe masih kental dengan ciri khasnya (bambu, janur, dan lampu botol), dan menciptakan muda ingin melihat megah dan meriah Tumbiloto kali ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kerumunan, kerumunan tidak bisa menghindari.

Advertisemen

Kebijakan yang diambil untuk mencegah mencegah kerumunan seolah sia-sia dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat lokal. Sebagai buntut dari kebijakan pemerintah pusat, pemerintah provinsi juga ikut-ikut-ikutan malu-malu dan tidak jelas dalam penerapan kebijakan yang telah diambil.

Kebijakan larangan mudik dari pemerintah pusat misalnya, disusul oleh kabar rombongan anggota DPRD yang lolos pencekatan tanpa surat bebas covid, pos penyekatan yang jebol mengakibatkan ratusan pemudik lolos. Tak hanya itu, pemerintah sendiri yang membangun citra yang biadab karena mencegah mudik tapi mengizinkan Warga Negara Asing masuk ke Negeri sendiri, bahkan ada yang positif covid-19. Di Gorontalo sendiri, penutupan akses keluar masuk dimulai tanggal 6 Mei bisa saja hanya sekedar wacana, karena masih ada beberapa yang lolos dan bisa pulang ke kampung halaman sejak tanggal 6 Mei tersebut. Kemudian larangan festival Tumbilotohe dan pasar senggol untuk menghindari kerumunan, seolah-olah hanya sekedar kemasan bahwa pemerintah provinsi telah mengeluarkan kebijakan yang berhubungan dengan pencegahan covid-19. Karena optimalisasi kebijakan ini tidak dilaksanakan. Kerumunan di pusat-pusat terbilang cukup padat hingga menyebabkan kemacetan.

Ingin menyalahkan masyarakat, pemerintah yang terlalu sering tidak tegas. Mau menyalahkan pemerintah, masyarakat juga terlanjur abai. Meski memang abai dan ‘kabal’ nya masyarakat disebabkan oleh cara pemerintah yang setengah-setengah dalam menerapkan kebijakan.

Pada akhirnya, kebijakan hanya sekedar kebijakan. Pemerintah dari tataran pusat hingga daerah perlu mengokohkan koordinasi guna mendukung kebijakan yang selaras.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT