Home Mimbar Ide Tiga Alasan Mengapa Orang Selalu Curiga Terhadap Aksi Massa?

Tiga Alasan Mengapa Orang Selalu Curiga Terhadap Aksi Massa?

0

Oleh : Wahyudi Akmaliah*

Pertanyaan ini penting saya ajukan mengingat tidak sedikit orang selalu mencurigai aksi massa. Menjelaskan secara sosiologis dibalik kecurigaan tersebut sangat penting, untuk memahami latarbelakang apa kemudian yang membuat seseorang kemudian menjadi curiga. Setidaknya, ada tiga alasan yang bisa saya kemukakan. Tentu saja, pengkategorian ini bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan sekedar amatan saya saja, bisa salah dan benar.

Pertama, minus pengalaman pergerakan dan aksi demonstrasi. Mereka yang tidak terlibat dalam dua hal ini biasanya memiliki sikap antipati terhadap orang yang turun ke jalan. Baginya, orang yang turun ke jalan dan meneriakan keberpihakan terhadap satu ide atau isu adalah bentuk kesia-siaan di tengah menikmati wakt luang. Lebih jauh, hal itu diangggap mengganggu ketertiban umum. Jika orang seperti ini tidak aktif terhadap organisasi kemahasiswaan dimaklumi alasannya. Meskipun harus diakui, tidak sedikit orang yang aktif dalam pergerakan tetapi sekedar menjadi intelektual tanpa pernah turun ke jalan memiliki kecenderungan terhadap antipati kategori pertama, mengingat demonstrasi itu tidak menguntungkan dirinya secara posisi politik.

Kedua, pendukung Jokowi mentok. Kategori ini lebih pada pengkultusan Jokowi sebagai figur yang selalu benar dan karena itu harus dibela. Dengan cara seperti ini, seolah-olah Jokowi adalah figur yang tetap dan tidak berubah di tengah gejolak dan tekanan politik yang memaksa dirinya harus bernegosiasi. Kondisi ini memungkinkan Jokowi tidak boleh dikritik sedikit pun dan dengan alasan apapun. Akibatnya, ketika ada aksi demonstrasi yang menantang kebijakan yang dibuat, tipikal semacam ini akan nyinyir dan kemudian menunggu momentum efek destruktif ketika demonstrasi dilakukan. Biasanya kata-kata yang muncul adalah, “Tuh, kan ada yang menunggangi, gue bilang juga apa, dari awal aku selalu curiga, begini nih kalau apa-apa selalu protes, itu yang protes apakah sudah membaca semua RUU-nya?”. Ironisnya, tidak sedikit orang-orang semacam ini sebelumnya juga turun ke jalan dalam membela Jokowi, khususnya saat kampanye, bahkan terlibat dalam kepanitiaan.

Ketiga, kelas menengah apolitis. Mereka biasanya tumbuh dari kelas menengah ke atas yang sejak bayi sudah bercukupan. Dalam hidupnya, tidak ada sesuatu yang perlu diperjuangkan, kecuali mendapatkan seorang pacar. Ketika ada aksi demonstrasi dan kemudian informasinya, baik foto maupun video lewat di linimasa akun sosial media mereka, kemungkinan responnya bisa tiga hal; cuek saja sambil mendelik ingin tahu, sumpah serapah karena mengganggu mobil yang digunakan saat melintar sehingga terjadi kemacetan, dan menunjukkan video itu sesama kelompoknya dengan bilang, “lihat nih, mau aja itu mahasiswa panas-panasan demonstrasi membela yang enggak jelas gini”. Oh iya, kategori ketiga ini bisa juga masuk kepada aktivis 1998 tetapi sekarang menikmati hasil dari jerih payah. Komentar mereka biasanya sangat patronizing, “demonstrasi mahasiswa sekarang enggak seperti saya dulu, sambil menjelaskan bla-bla-bla kehebatannya”.

Dari ketiga kategori tersebut, ketika aksi demonstrasi dikabulkan oleh pembuat kebijakan dan elit politik dan kemudian membuahkan hasil, orang yang masuk dalam ketiga kategori ini tetap menikmati juga jerih payah yang dilakukan oleh orang-orang yang dinyinyirin sekaligus dilihat sebelah mata. Demonstrasi yang dilakukan oleh para buruh untuk menaikkan upah kerja dan tambahan hari libur, misalnya. Aksi-aksi mereka selalu dianggap remeh, tapi saat libur 5 hari kerja, semua orang menikmatinya sambil tentu saja lupa siapa yang memperjuangkan itu.

*) Penulis adalah peneliti LIPI

Facebook Comments