Home Literasi Untuk Saudara Yang Mengaku Sebagai Panutan, Selamat Hari Patriotik

Untuk Saudara Yang Mengaku Sebagai Panutan, Selamat Hari Patriotik

0
ADVERTISEMENT

Penulis Ti Kama

Saya kira, tak mengapa jika harus menepi sejenak dari aktifitas yang ruwet di kota besar ini. Khusus hari ini saya mengajukan cuti kerja. Ya, hanya untuk hari ini.

Alasan saya bukan karena penyakit ‘malas’ itu kambuh lagi gegara cuaca hari ini terkesan mendung. Juga bukan karena semalam saya banyak meneguk bir di bar, akibatnya kepala terasa pusing dan badan melemas. Bukan, bukan karena itu ! Tapi karena hari ini tanah di mana saya dilahirkan sedang merayakan Hari kemerdekaannya, Gorontalo.

ADVERTISEMENT

Sebagai putra daerah yang sedang jauh-jauhnya dari tanah kelahirannya, saya kira tak ada salahnya jika saya merayakan kemerdekaan Gorontalo dengan cara tersendiri. Tanpa upacara bendera, tanpa kirab sang saka merah mutih, tanpa baris berbaris, tanpa mendengar pidato dan orasi politik para pejabat, dan tentunya tanpa diskusi para pemuda yang ‘sok patriotis’ nan kapitalis itu.

Sampai disini mungkin saudara-saudara yang terlanjur membaca tulisan saya ini sedikit menegericitkan dahi ? Atau mungkin bibir saudara sedikit moncong ke depan ? Sambil mengumpat kepada saya yang sedang membayangkan reaksi saudara mengatakan; “Sapa so ngana ?” (Siapa sih anda ?) “So apa yang ngana bekeng di Gorontalo ini ?” (Sudah apa yang kau perbuat untuk Gorontalo ini ?)

Jika benar reaksi saudara seperti itu, dengan berat saya harus mengatakan;

“So Itu Ngoni pe mental skarang (Inilah mental kalian sekarang), mental-mental yang tidak menghargai gagasan orang lain.”

Silakan seruput kopi hasil koprolisasimu saudara, bakarlah rokok hasil sabotase terlicinmu. Karena bagaimanapun juga selama anda membaca tulisan ini, selama itu pula emosi saudra tak akan stabil. Percayalah.

Saya lanjutkan..

Sejujurnya, sebelum saya menulis soal ini, soal euforia  kemerdekaan Gorontalo. Saya sedang dilanda kebingungan. Mulailah saya mencari-cari bahan referensi di dunia maya – Google satu-satunya alternatif yang akan menjawab kebingungan saya, dalam pikiran sya begitu.

Di dalam google, saya membaca beberapa artikel tentang kemerdekaan Gorontalo, pada tanggal 23 Januari 1942. Hampir semua judul tulisan sama, hampir semua isi tulisannya sama, menceritakan sejarah perlawanan rakyat Gorontalo yang dipimpin oleh panglima tempur Pak Nani Wartabone yang kelak dikenang sebagai Pahlawan Gorontalo.

Terus terang saya bangga akan perjuangan yang dilalui oleh Pak Nani. Rasa-rasanya ingin saya berada dalam satu barisan yang di komandoi oleh beliau, sekalipun saya hanya berperan sebagai prajurit yang siap saat tak ada letusan senjata dan istirahat saat letusan senjata terdengar.

Baiklah, sebenarnya saya tidak ingin mengulas lebih jauh soal sejarah kemerdekaan Gorontalo. Karena bagaimana pun kita semua generasi “mencret” ini  termasuk saudara yang sedang membaca tulisan saya ini, tentu sudah paham betul soal sejarah kemerdekaan Gorontalo kita.

Ya, setidaknya saudara tahu di mana lokasi pengibaran bendera merah putih pertama kali di Gorontalo, atau jalur dan hutan mana saja yang disasar masuk oleh Pak Nani dan para pejuang untuk menghindari kejaran penjajah, dan atau saudara tahu dimana pertempuran terlama yang pernah terjadi di Gorontalo. Jika saudara mengetahuinya, berarti kita sama. Sama-sama tahu hal-hal yang sederhana soal perjuangan pak Nani dan pasukannya kala itu.

Namun sebaliknya, jika saudara belum tahu tentang hal yang saya maksudkan di atas tadi, berarrti kita juga sama. Sama-sama lebih tahu tetang kejadian yang luar biasa namun lupa akan  kejadian-kejadian sederhana yang ada di kampung halaman.

“mungkin, torang so talalu mangaku milenial stow, broo”

Terus terang, saya hanya ingin mengajak saudara, itu pun jika saudara mau. Toh, kalaupun enggan, saya pun tak mau memaksa.

Dalam satu kesempataan, saat perut saya sedang lapar-laparnya, menangis meminta makan (terkadang manusia seperti itu, pada saat menderita, saat itu juga ia berusaha mengenang) saat yang bersamaan itu pula saya mengenang Gorontalo nan jauh di sana. Betapa luas wilayahnya, betapa kaya alamnya, betapa Indah panoramnya. Semua tentang Gorontalo luar biasa, termasuk beberap mantan kekasih saya yang saya tinggalkan tanpa ada kepastian. Semuanya… semua tentang Gorontalo sangat luar biasa.

Namun tiba-tiba dalam usaha mengenang Gorontalo yang begitu luar biasanya, wajah saudara tiba-tiba menyela dalam khyalan saya. Saudara datang dengan begitu gagahnya, berpeci, berpakaian dinas lapangan, ada papan namanya beserta gelar strata, magister lengkap dengan doktor.

Selanjutnya, saudara menenteng sebuah tas berwarna hitam. Dalam perjalanan saudara menuju ke arah saya, kini mulai banyak pengikut saudara tepat berada di belakang sudara. Satu persatu mulai bermunculan, hampir berseragam yang sama seperti saudara. Tapi, yang membedakan tulisan di dada kiri mereka yang tertulis “ kami para pengikut” sementara punya saudara bertuliskan “ saya adalah panutan.”

Betapa gagahnya saudara kala itu. Saya hanya mampu menganga menyaksikan gaya berjalan saudara yang mpo nyenge-nyenge itu. Sementara dalam waktu yang bersamaan, mulai lagi bermunculan orang-orang dari samping kiri dan kanan juga dari arah belakang saya. Namun kali ini tulisan yang berada di pakaian dinas lapangan mereka bertuliskan “kami yang ikut-ikutan”. Selain mampu membuat saya menganga, kali ini mereka para pengikut yang dibarengi oleh mereka yang ikut-ikutan membuat saya kaget minta ampun.

Semakin ke sini saduara sebagai panutan, mereka para pengikut, dan mereka yang ikut-ikutan itu semakin mendekat kepada saya yang mulai memucat, mendingin dan berkeringat.

“ada apa ini ? kenpa tiba-tiba dalam khayalan saya tentang Gorontalo yang indah dan luar biasa tiba-tiba muncul orang-orang yang tak jelas ini ?

Iya, saudara memang tak jelas, selain mengatasnamakan panutan. Lagipula panutan seperti apa saudara ini? pertanyaan saya segera menuai jawaban saat saudara tepat berdiri di depan saya dan memberi kultum.

“Bung, kami ini pelopor generasi milenial di era 4.0 yang ada di Gorontalo. kami telah menguasai sebagian besar ilmu pengetahuan yang sedang berkembang saat ini, Al-quran, Hadist, Filsafat, Matematika, Biologi, Kimia, Fisika, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan, Sastra, Seni, dan apapun tentang ilmu pengetahuan kami telah menguasai.

Semakin baraba (Angkuh) saudara menjelaskan kepada saya yang kini kembali disergap rasa lapar.

“Dan saya adalah panutan!”

Hampir saudara membuat saya mengumpat kala itu, saat saudara memperkenalkan diri sebagai panutan dari mereka para pengikut dan mereka yang ikut-ikutan itu.

Tapi sebaik-baik manusia adalah manusia yang menghargai pengakuan orang lain, pikiran saya seperti itu.

Segera saya tersadar, bersyukur itu hanya sebuah imajinasi saya tentang saudara. Meskipun pada kenyataannya banyak yang saya temukan manusia seperti saudara yang masih bertebaran di Gorontalo.

Mengaku sebagai panutan, mengaku punya pengikut. Justru sebaliknya, keadaan mereka tidak mencerminkan bahwa mereka sebagai panutan. Harus saya akui, sebagian besar dari mereka memang jago berdiplomasi, tapi mereka  tak paham bagaimana cara mengasihi. mereka memang hebat bersosialisasi, tapi mereka lupa bagaimana cara mencintai. Mereka memang punya jabatan, tapi mereka lupa bagaimana cara menjaga kekerabatan. Mereka  memang berilmu, tapi mereka terkesan angkuh. Mereka punya gagasan, tapi lupa bagaimana cara menghargai karya orang lain. Dan mereka adalah orang-orang yang brmental ‘sok patriotis” itu, yang hadir hanya setahun sekali dalam upacara peringatan hari Patriotik di Gorontalo.

Bagian akhir dari tulisan saya ini, mungkin saudara masih tetap membacanya kan ? Terus terang tidak ada yang spesial dari tulisan ini. seharusnya saudara sudah paham sejak awal, kalau ini bukan jurnal, esai, ata apalah jenis tulisan yang ilmiah itu. Bukan !

Tulisan ini hanya bagian dari cara saya mengenang perjuangan Pak Nani Wartabone dan para pejuang yang telah berdarah-darah merebut kemerdekaan Gorontalo dari penjajah. Tidak lebih ! Namun. Saya tetap bersyukur karena saudara telah meluangkan waktu untuk membacanya.

Saya senang jika sampai pada ketikan ini saudara emosi, marah, tertawa dan masih merasa lebih hebat dari orang lain. Dengan begitu, secara tidak langsung saya telah mampu membuktikan bahwa saudara salah satu dari sekian banyak orang yang sya maksudkan di atas.

Barabalo wau nengealo (Angkuh dan Sombong)

Merdeka!

*Penulis sedang mendengarkan lagu “Hulondalo lipuu” dalam versi Queen.

 

Facebook Comments
ADVERTISEMENT