Home Mimbar Ide Tentang Kehidupan Sejati

Tentang Kehidupan Sejati

0

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Kita dapat membayangkan, betapa gelinya jika seseorang larut dalam kehidupan. Mungkin juga kita menahan senyum tatkala menyaksikan seseorang melibatkan dirinya bersama bahaya dalam kehidupan. Kita menantang bahaya berbeda dengan menantang kehidupan. Seseorang menantang bahaya tidak lebih dari sebagian, menantang kehidupan berarti membicarakan keseluruhan. Dari arah yang lain, seseorang menantang bahaya secara berlipat ganda dan terus-menerus mengarah pada permainan beracak secara keseluruhan dalam kehidupan.

Sejauh ini, kita mengenal teori tentang kehidupan, satu diantaranya apa dan bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai siklus, menggambarkan ada suatu unsur memiliki relasi antara satu dengan lainnya. Kehidupan kembali pada esensinya, yaitu kedamaian. Setiap orang ingin hidup tenang dan menjalani kehidupan dengan kedamaian tanpa menghiraukan pernyataan utopia yang tersamar-samar didalamnya.

Kita menjalani saja rentetan hidup dan kehidupan, begitu ungkapan yang sering kita dengar. Bukankah kehidupan tidak lebih dari teater permainan? Kita tidak pernah membayangkan, setiap alur kisah dari satu episode ke episode kehidupan serba rumit atau susah. Kehidupan layaknya adalah kehidupan alami, ada siang dan malam, terang dan gelap silih berganti mengiringi dirinya. Semuanya terlepas di kemudian hari, bahwa ia dipertukarkan dengan wujud virtual atau tiruan.

Dari seluruh gagasan tentang kehidupan, orang-orang akan memilih secara lebih dekat pada proses pembentukan kehidupan bersifat alami. Pahit getir dan manisnya kehidupan adalah relasi silih berganti. Paling penting yang kita perbincangkan, bahwa manusia hidup untuk mengarungi kehidupan dengan relasi-relasi yang terjalin kelindang, berubah dan melintasi batas-batasnya dari eksistensinya menjadi pergerakan tanpa batas. Suatu perjalanan nan jauh. Seseorang dalam ruang ingin mengubah kemustahilan ke arah kemungkinan-kemungkinan wujud, yakni wujud berpikir, berhasrat dan bertindak atas dorongan secara automatis memengaruhi perjalanan kehidupannya. ‘Kehidupan adalah esensi’. Ia ditandai perjalanan jauh untuk diarungi, dibelah dan dibolak-balik kembali menuju perjalanan sebelumnya, titik dimana pahit getir dan manisnya kehidupan akan menyertai dengannya. Disitulah, esensi kehidupan ditemukan secara keseluruhan sekaligus celah sebagian perjalanan kehidupan. Sehingga ada seorang yang mengatakan secara lugas, ‘kehidupan itu memang begitu adanya, silih berganti, ada kesenangan dan penderitaan’. Apabila orang-orang tidak ingin berada dalam penderitaan atau bersusah payah, enyahlah dari kehidupan! Biarkanlah kehidupan keluar dari diri mereka! Sebagaimana diketahui bersama, bahwa kehidupan manusia seperti sebuah grafik melalui garis, kadangkala bergerak naik dan kadangkala saat lain bergerak turun. Demikian seterusnya, suatu perjalanan kehidupan membentuk dirinya melalui relasi-relasi.

Kadangkala kehidupan terbebas dari beban representasi pikiran, perasaan dan pengalaman. Kata lain, karena kehidupan berselubung misteri, darinya dan didalamnya penuh teka-teki yang menyertainya, dari seluruh arah sebagai sesuatu yang tidak dapat ditebak secara gegabah melalui pikiran, pengalaman dan perasaan (ketidakhadiran atau ketidakmampuan representasi penalaran, pemahaman dan imajinasi untuk menelusuri kehidupan secara keseluruhan). Apabila kehidupan kita berada di tengah kekacau-balauan tetap masih membawa ke kehidupan, tetapi dalam kondisi kehidupan yang berbeda. Pembentukan alur dan arus kehidupan di saat kita berada di dalamnya sebagai eksistensi yang dibentuk melalui pemikiran. Pembentukan diri sebagai perjalanan jauh melebihi jiwa, dimana kehidupan dan mode wujud untuk menghidupkan diri, yang berhubungan dengan diskontinuitas pengetahuan tentang perbedaan antara jiwa dan diri. ‘Jiwa’ dihubungkan dengan kehidupan, ‘diri’ sebagai eksistensi tidak diketahui secara mendasar, karena ia keluar dari tantangan kehidupan melalui ‘keserbaragaman perjalanan’. Realitas kehidupan merupakan alur dan arus yang tidak perlu ditantang, karena kehidupan itu sendiri adalah alur dan arus. Kita akan menantang kehidupan akibat tantangan kehidupan dianggap remeh-temeh atau bahkan yang tidak terpikirkan. Kehidupan seakan-akan membuat kita menyerah sebelum waktunya, padahal dalam kehidupan itu ditaklukkan, bukan untuk dipaksakan secara sewenang-wenang.

Relung-relung kehidupan sesuai alur dan arus yang memerosotkan kontinuitas ditelusuri dan diungkap melalui relasi antara kehidupa keluarga dan individu, berawal dari hidup mereka begitu memprihatinkan, membuat segalanya tidak terbayangkan, karena kebahagiaan menghilang dalam penderitaan. Wajarlah, kehidupan disiasati oleh orang-orang yang berhasrat untuk membebaskan dari beban penderitaan akibat berlarut-larutnya pertentangan antara kehidupan dan pengetahuan, yang meletakkan teater kehidupan dan merampungkan perjalanan kurang dari setengah babakan pemikiran yang terbebas dari penghukum kehidupan. Pemikiran menggambarkan tanpa prediksi apa-apa mengenai diskontinuitas; ia keluar dari penghukum kehidupan melalui tanda yang lain.

Kini, pengetahuan dihadapkan pada pengetahuan itu sendiri setelah ia menginteraksikan diri dengan kehidupan, saling menopang dan saling mengisi antara satu dengan lainnya. Bagaimana kita berada dalam arus gelombang kehidupan tanpa pemikiran reflektif, tetapi memilih bermain bersama senyap dalam kehingar-bingaran dunia. Seseorang yang berada dalam ‘eksistensi yang meragukan’ telah mengombang-ambingkan dirinya sendiri, tanpa subordinasi dari pihak lain atas dirinya. Kehidupan bukanlah eksistensi yang meragukan dan fantasi kosong. Pengetahuan tidak lagi menyediakan hukum-hukum kehidupan, yang melepaskan dari apa-apa yang dialami, dirasa dan dipikir untuk menyingkap misteri kehidupan. Mode wujud makhluk rasional dideterminasi dalam mode kehidupan sesuai tanda-tanda atau benda-benda melingkupinya sebelum dan setelah eksistensi yang meragukan. Hal yang tidak terlupakan, bahwa proposisi tentang kehidupan masih melibatkan pikiran dan hasrat. Keduanya berhadapan dengan ambiguitas di tengah sesuatu yang bergerak dan berkembang-biak, seperti pertukaran dari suatu tanda ke tanda lain, dari hiburan ke kesenangan. Bukankah tanda hasrat berhubungan dengan tanda kehidupan (jika kehidupan tidak dipisahkan dari tanda)? Tanda kehidupan yang hancur akan dihidupkan dengan tanda kehidupan baru. Memang betul, kehidupan bukanlah tujuan, melainkan perjalanan atau sejenis pergerakan tanda. Pengetahuan dan kehidupan bukan pula sebagai mediator bagi anti-kehidupan. Perjalanan kehidupan menunaikan tujuan, pelayan dan mediasi melalui perjalanan atau pergerakan lainnya. Dari sini nampak, bahwa antara kehidupan dan pemikiran tidak saling melayani. Sebagai akibat dari perjalanan dan pergiliran internal, pemikiran tidak berfungsi lagi sebagai pelayan kehidupan. Sebaliknya juga demikian, kehidupan bukanlah pelayan bagi atau mediator bagi pemikiran.

Relasi-relasi silih berganti untuk saling menguatkan. Dalam pembicaraan lain, muncul relasi dahan, ranting dan batang pohon dari air, semuanya dikuatkan, ditumbuhkan dan dikembangkan. Kehidupan alami menandai kehidupan yang menarik, tatkala relasi antara dahan dan ranting akan saling menguatkan batang hingga akar pohon, akhirnya menghilang dalam eksistensinya sendiri. Lemah, kerdil dan tidak terawat membuat ia tidak mampu berkembang dan menyebar secara alot dalam kehidupan. Jika satu alasan adanya kehidupan dan kematian tidak hanya dilihat dari unsur fisiknya, melainkan juga kemandirian untuk melepaskan diri dari koherensi anatomis dan hal-hal dimana mereka tertanam di luar tubuhnya. Pelepasan akar-akar kenyataan akan kehidupan dari lingkaran dirinya bukan untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan wujud, melainkan alur perjalanan jauh diuji dalam ‘kehidupan sejati’ akan membekas seumur hidup menjadi jejak-jejak tertentu, setidak-tidaknya dalam ingatannya.

Dalam jejak-jejak, kita diingatkan tentang ‘catatan tentang diri sendiri’, yang diarahkan pada perjalanan kehidupan menuju ‘titik akhir eksistensi yang meragukan’, dimana ia diuji dan diluapi melalui ‘kehidupan sejati’. Catatan tentang diri atau kita bersama memiliki akar-akar kehidupan.

Pengungkapan pemikiran Plato merupakan bagian dari filsafat klasik, dia menemukan tema kehidupan sejati’ (alēthēs bios, alēthinos bios) sebagai bahasa Yunani. Kehidupan sejati menjadi suatu gagasan tentang kebenaran. Dalam pemikiran Yunani Klasik, secara umum pengungkapan kebenaran berasal dari kata alētheia berarti ‘kebenaran’, alēthēs berarti ‘benar’. Kehidupan sejati (alēthēs bios) mengarah pada proses pembentukan makna yang dihubungkan dengan wilayah pembicaraan yang benar. Foucault menempatkan tema kehidupan sejati (alēthēs bios) atas hasil penyelidikan gagasan tentang cinta sejati dalam teks Socrates dan Platonis (2011 : 221). Gagasan kehidupan sejati disangsikan dalam makna kesehariaan, ia ditemukan dalam teks tertulis Platonis yang tidak dapat dipisahkan dari pemikiran diskursif. Tetapi, kehidupan dan pemikiran terdapat kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi sebuah tatanan yang berbeda. Tentu saja, harapan secara kolektif dan individual atas ‘kehidupan sejati’ untuk ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’, tanpa bayangan dan kepura-puraan; ia sebagai perjalanan menuju kebenaran yang tidak menyembunyikan niat dan tujuannya dalam kehidupan.

Kehidupan terpisah dari pandangan yang mengatakan tentang kebenaran serta-merta ia juga kehidupan sejati saat ia berada dalam kehampaan, kepura-puraan dan eksistensi yang meragukan, yang ditandai kenampakan tipu muslihat dan anti perubahan apa-apa dalam perjalanan kehidupan yang jauh. Kehidupan akan dibentuk dalam perbedaan antara tanda-tanda dan bayangan.

Suatu hal yang musykil bagi anti-kehidupan, jika kehidupan sejati (alēthēs bios) adalah juga tidak bercampur-aduk antara kebaikan dan kejahatan, kesenangan dan penderitaan, pengetahuan dan hawa nafsu, cahaya dan kegelapan. Sehingga, kehidupan sejati menerima keadaan eksistensi silih berganti dan menolak pencampur-adukan antara satu dengan lainnya. Hal lainnya, sesuai ide yang tumbuh dari masa kehidupan, dimana kita tidak dapat dipisahkan dari pencampur-adukan, ada kemungkinan terjadi kerawanan dibentuk oleh nafsu gelap atau kezaliman yang bersembunyi di balik pengungkapan kebenaran. Tidak keliru, kehidupan sejati (alēthēs bios) adalah kehidupan yang menghindarkan dirinya dari kekacau-balauan, keruntuhan, korupsi atau ketidakadilan. Alur perubahan identitas kehidupan bukanlah seorang yang terbuai oleh kebahagiaan dan kenikmatan diri yang mengakibatkannya terpisah dari kehidupan sejati (alēthēs bios). Karena itu, kehidupan sejati adalah kehidupan yang diberkahi, kehidupan yang tidak melakukan tindakan nista, tercela dan zalim lainnya.

Masih rangkaian pernyataan sebelumnya, kehidupan sejati adalah kehidupan yang menguji pemikiran dan pengetahuan dan membolak-balikkan kebenaran ke arah kebenaran lainnya. Ia menandai penyebab akhir dari nalar atau retakan Cogito Cartesian, memeriksa ulang pelanggaran batas-batas pengetahuan dari dalam dirinya.

Lain lagi, pembentukan wilayah pengetahuan membatasi dirinya untuk dialami dan diamati sejauh kehidupan menengahi dirinya dari batas-batasnya. Kehidupan ini akan berlangsung terus-menerus karena melebihi batas-batasnya sendiri, sebagaimana kelahiran nalar sebagai akibat dari retakan pengetahuan tentang kehidupan di ujung tanda-tanda tanpa batas. Pemikiran diletakkan sebagai energi terbuka dan bebas untuk melangsungkan relasi-relasi dari mana mereka dilahirkan dan dikembalikan ke tempat semula dalam kehidupan secara keseluruhan sekaligus sebagian dari ‘pencatatan diri sendiri’ ke ‘proses perentetan’ kehidupan terus-menerus di sekitar kita. Beberapa perbedaan tidak terelakkan antara pemikiran dan pengetahuan (nalar, pengalaman, kemungkinan sintesis obyektif) menjadi sesuatu yang tidak penting dipertentangkan secara tajam di tengah arus kehidupan berlangsung terus-menerus. Bagaimana kita mencoba untuk mengkreatifitisasi arus kehidupan, dimana kita sebagai kreator ulung, yang dihubungkan dengan pemikiran agar terlipat-gandakan kekuatannya selama perjalanan jauh dipertajam oleh arus demi arus dalam kehidupan. ‘Kehidupan adalah nyata’, bukan ilusi. Dua ilusi yang membayangi kehidupan, yaitu kebebasan dan kesadaran sebagai sebagian. Kehidupan adalah ‘menghidupkan’ sebagai keseluruhan, bukan untuk ‘menghancurkan’.

Disitulah, kita melihat perkembangan yang berbeda, tatkala alur pemikiran dan pengetahuan (nalar, hasrat, fantasi, dan indera) tidak lain dari kehidupan. Misalnya, keikhlasan dan kejujuran betul-betul ada sebagai kehidupan sekaligus ada dalam pemikiran kita. Ia bukan sesuatu dialami dan dirasakan, melainkan secara imanen ada dalam pemikiran, kekuatan yang bergerak melebihi fase produksi atau genealogi pengetahuan. Namun demikian, hasrat dan fantasi dalam kehidupan, yang tidak mengambang bebas seperti buih atau uang menjadi pengetahuan adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan ini bergerak dan berkembang sesuai dengan hasrat dan fantasi yang berfungsi untuk ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’ dalam proses penghidupan yang lebih solid dari wujudnya sendiri. Hidup dan penghidupan melalui kehidupan pemikiran dan vitalitas yang tidak terpikirkan, yang ‘menghidupkan’ keseluruhan obyek pengetahuan sebelumnya. Kehidupan tidak menunggu dirinya diekspresikan melalui nalar dan indera, karena kehidupan di dalam garis perjalanan jauh yang tidak linear menjadi daya tarik berpikir logis. ‘Akhir dari nalar’ merupakan suatu perjalanan jauh, suatu pemikiran yang keluar dari representasi, sehingga ditinggalkan oleh kehidupan. Dibandingkan kehidupan bertahan untuk ‘menghidupkan’ bagi sisi yang lain bersama dalam keseluruhan. Tubuh murni terpenjara di balik jeruji besi, jiwa, hasrat dan pikirannya hidup dan ‘menghidupkan’ bagi yang lain sebagai keseluruhan. Kehidupan terus-menerus berarti juga keterlibatan hasrat dan fantasi yang bergerak kemana-mana. Berkat hasrat dan fantasi di antara benda-benda atau tubuh, sehingga kehidupan memiliki daya tarik, membuat kita terpikat padanya karena terdapat energi yang menghidupkannya, menciptakan ‘lebih hidup’ dibandingkan tahapan sebelum dan setelahnya terbentang dihadapan kita. Jadi, kehidupan bersama dalam keseluruhan. Mereka hidup diantara pikiran, indera, selera, dan gambar tidak saling menundukkan antara satu dengan lainnya. ‘Akar-akar kehidupan’ tanpa dasar menandai wujud sejati, memberi suara-suara alam yang berbicara pada kita sebagai mode pemikiran dengan bahasanya sendiri.

Menanti pergerakan hasrat dan fantasi yang terbuka, menyerap dan membukakan perbedaan melalui pemikiran keduanya. Mereka tidak saling menghancurkan, malahan mengendalikan diri masing-masing di tengah gempuran bujuk rayu yang mengakhiri nalar. Kehidupan bersama yang melibatkan hasrat dan fantasi dengan pernyataan, bahwa hasrat menderivasisasi kesenangan dan libido, yang menyalurkan dirinya dalam wilayah heterogenitas. Energi dari hasrat dan fantasi ada kemungkinan sebagai pengetahuan yang lebih hidup dari warna, suara, jarak, dan volume. Suatu kehidupan melibatkan hasrat dan fantasi tanpa tiruan untuk menghidupkan dan mengembang-biakkan sesuatu masih tetap seiring dengan kehidupan. Ia ditandai oleh limpahan kreatifitas yang tidak terelakkan. Kehidupan merupakan kelimpahan anugerah tidak terkira, patut untuk disyukuri bersama benda-benda atau tubuh membuat pemikiran semakin tajam gambarnya. Atas kehidupan merupakan pemikiran itu sendiri, begitu pula sebaliknya. Setiap rintangan dan beban hidup selalu ada saja keterlibatan pemikiran, tempat dimana kehidupan ditemukan di tempat lain yang lebih kokoh dan merangsang. Warna kerlap-kerlip kehidupan itulah menandai kreatifitas didalamnya. Pemikiran yang merangsang dan kreatifitas yang menggila bersentuhan dengan kehidupan antara kemungkinan besar untuk diingat dan kemungkinan kecil untuk dipikir melebihi dirinya.

Orang-orang berkalang tanah dengan pekerjaannya yang berbeban berat di daerah agraris tidak lebih kuat dari orang-orang yang berpikir di belakang meja di daerah metropolis. Karena itu, apapun yang kita bicarakan tentang kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi justeru sangat kecil kemungkinannya ditemukan perbedaan internal melalui hasrat dan pikiran antara satu sama lain. Selama kehidupan dibentangkan, kata-kata dikonsolidasikan dengan rangkaian kegembiraan dan kesenangan dalam kehidupan. Mereka dalam kegembiraan, Anda dalam kesenangan melalui prasyarat tanpa percampur-adukan dengan lainnya.

Kadangkala eksistensi, katakanlah seseorang dalam kegembiraan akan silih berganti dengan kesedihan, tetapi kehidupan yang tidak bercampur-aduk antara satu dengan lainnya. Kita tidak pernah meraba-raba kehidupan dalam kegelapan, kecuali pikiran yang lengah dan eksistensi yang meragukan yang mendeterminasi subyek sebatas selera rendahan. Hasrat dan fantasi yang terarah untuk mendampingi insting kehidupan tidak dibatasi oleh pengetahuan. Hasrat dan fantasi yang terarah dan kreatif mendekatkan pada bentuk pemikiran; keduanya adalah kemungkinan menjadi rangkaian pemikiran diskursif yang khas. Kehidupan yang dimaksudkan adalah kehidupan tanpa ‘permainan topeng’. Suatu kehidupan tanpa kehampaan membuat orang membatasi dirinya pada sesuatu yang bukan kehidupan melalui rangsangan obat-obatan dan hal-hal yang merusak dirinya sendiri. Kehidupan yang pada akhirnya bukanlah permasalahan tentang pernafasan, penglihatan dan pendengaran dengan segala fungsi penggunaannya, melainkan ‘kehidupan sejati’.

Pembentukan relasi kehidupan mengarah pada perjalanan pengetahuan sebagai alur dan arus membuat seseorang menantang kehidupan. Relasi kehidupan antara eksistensi dalam kebenaran dan diskursus sejati, antara kehidupan dalam perkataan kebenaran terhadap permainan topeng, dan kehampaan diri atau kelenyapan makna dalam kehidupan. Sebagai akibat anti klimaks dari ‘kehidupan sejati’, pencarian eksistensi sejati seiring bentuk kebenaran sejati dan pembicaraan sejati sejalan dengan praktik pengungkapan kebenaran. Dari sini, ‘kehidupan sejati’ menetralisasi kepura-puraan, permainan topeng dan kehampaan diri yang dapat ditelesuri melalui pengetahuan. Rentetan pemenuhan hidup yang dilapisi dengan pembentukan wujud diantara benda-benda yang tidak menantang hanyalah hidup yang sesungguhnya tidak hidup. Mode kehidupan dihubungkan dengan mode pemikiran dalam kehidupan yang sangat berbeda diatasi oleh pembentukan wujud sejati dan pengungkapan kebenaran tanpa takut atau rasa malu. Titik tolak pembentukan wujud dan pengungkapan kebenaran dimulai dari diri individu. Lebih dari prinsip, keberanian sebagai syarat yang berguna dalam pengungkapan kebenaran. Dalam hal ini, ‘kehidupan sejati’ berarti lebih menantang bahaya yang melibatkan pengungkapan kebenaran disertai dengan penghujatan dan makian karena sebagai bentuk penolakan padanya. Suatu pembentukan wujud sejati ditandai dengan keserasian alam bersama ‘kehidupan sejati’. Dari bentuk pernyataan gambar, kehidupan dikarikaturisasi dalam berbagai sindirin yang kadangkala menghibur. Demi masa depan anak-anak, orang tua pun rela mengorbankan hidupnya dikarikaturisasi dalam relasi simbolik dengan “jantung” (Ibu) dan “otak” (Ayah). Keserupaan mengenali penandaan “jantung” sebagai belahan jiwa atau ‘hidup’, “otak” sebagai pemikiran auto-simbolis. Meskipun anak-anak beranjak dewasa hingga telah berumah tangga, orang tuanya masih mengalirkan kasih sayang padanya. Bukankah “air” dan “pohon kehidupan” dibentuk sebagai bagian dari perjalanan jauh, kehidupan bersama yang saling ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’? Pergerakan “air”, mengalirkan dirinya untuk kehidupan alam dan non-kehidupan lainnya, ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’ tumbuh-tumbuhan dan binatang, terlestari dan hidup melalui pergerakan terus-menerus dalam kehidupan yang memberi. Terdapat zaman, dimana wujud kehidupan digiring menuju perjalanan jauh menurut irasional dongeng, legenda atau hal-hal mitis lainnya tentang “pohon”. ‘Kehidupan sejati’ lebih dari teater kehidupan dan ritual kematian melebihi wujud bersifat organis dan non-organis dengan urutan taksonomi yang dibentuknya.

Pembentukan karikaturisasi kehidupan menegaskan tentang pentingnya pengetahuan untuk mengungkapkan kebenaran; membentuk paradoks kehidupan ditandai dengan kepentingan hidup dari seseorang untuk mengalirkan hidupnya seperti “air yang tercurah dari atas”. Dari satu arah, seperti siraman air menuju tumbuh-tumbuhan melalui buku dan ke arah lainnya menuju wujud organik melalui materi atau sesuatu yang kasat mata. Yang satu ditandai oleh teori pengetahuan dan lainnya ditandai oleh modal-uang. Tetapi, kehidupan yang mampu bertahan adalah sesuatu yang ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’ melalui pengetahuan. Untuk mengetahui cara kehidupan berbeda dengan apa yang dimaksud berpikir, karena mengetahui apa-apa berarti tidak diketahui dari mana kita melatih berpikir sesuai gambar ilustrasi kartun kehidupan. Seni berpikir dipadatkan melalui seni gambar kartun terpisah-pisah dalam bagian paling kecil dari kehidupan.

Dalam ‘kehidupan sejati’ memisahkan proses pembentukan karikaturisasi kehidupan lainnya yang menampilkan gambar kartun, tatkala “kita memilih jalan yang berbeda menjadi olok-olokan dari pihak lain”, ”merasa lebih saat bersama-sama”, “Anda tidak akan mendapatkan apa-apa, jika hanya melamun atau berpangku tangan”. Sebagai sesuatu yang terbagi dalam bagian paling kecil, sekalipun dianggap bagian dari irasionalitas, seni gambar kartun memutar arah pergerakannya untuk mengkarikaturisasi kehidupan sebagai pikiran paling kuat melalui tubuh. Arus citra tulisan dalam seni karikatur menghubungkan dirinya dengan ‘bujukan setan pikiran’ yang menyelinap di tengah perjalanan kehidupan. Diskontinuitas kehidupan meletakkan pengungkapan kebenaran atas teka-teki eksistensi yang meragukan. Mode kehidupan nampaknya menumpang-tindihi seni kehidupan; ia menandai yang lain dengan tidak dimaksud berpikir tentang perjalanan jauh.

Mengikuti pertanyaan. Apakah perlunya kita memikirkan tentang kehidupan yang berfungsi untuk ‘menghidupkan’ dan ‘mengembangkan-biakkan’? Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menahan arus hasrat dan fantasi. ‘Kehidupan sejati’ memberi kita kekuatan untuk berpikir menjauhi pikiran tertidur lelap dalam perjalanan jauh. Masihkah masuk akal perjalanan jauh, jika tidak ada lagi pikiran tertidur lelap? Sistem tanda kembali pada air, dahan, ranting, batang hingga akar pohon, mengulur waktu untuk menggunakan imajinasi. Kecuali rangkaian perbedaan antara ‘menghidupkan’ (enlivens) dan ‘mengembang-biakkan (reproduces) lebih ditandakan pada mode pemikiran dan mode non-kehidupan. Dari arah berbeda, kata kerja ‘menghidupkan’ (to live) dan ‘mengembang-biakkan (breeding) lebih memungkinkan pada pembagian tumbuh-tumbuhan dan binatang, benda-benda dalam kehidupan semenjak binatang bersel satu yang berbiak melalui cara ‘membelah diri’ di ujung sebuah sistem pengetahuan atau nilai ilmiah. Tetapi, mungkin kita akan menuju mode berpikir yang aneh dan rumit dalam kehidupan, jika hidup kita dikendalikan oleh gadget atau anak dilahirkan oleh ibunya, diasuh oleh media sosial. Kita hidup betul-betul menuju sesuatu yang menguatkan kemungkinan-kemungkinan pemikiran tertentu, untuk memberi alasan mengapa ada wujud di sekitar kita yang tidak hidup. ‘Gaya hidup’, bukan ‘kehidupan sejati’ akan menyamarkan proses kerja ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’ dalam pengertian lain. Gaya hidup yang melebihinya, ia ‘lebih menantang’ dan ‘mengalamiahkan’ melalui tiruan, tetapi tidak untuk ‘menghidupkan’ dan ‘mengembang-biakkan’ suatu kehidupan, karena batas-batasnya telah ia bentuk sebelum akhir dari eksistensi yang meragukan dan permainan topeng memberi kita alur berpikir mengenai dunia yang dipalsukan sedemikian rupa.

Di sini kita perlu berhasrat untuk melatih berpikir. Apa itu ‘kehidupan sejati? Pembentukan kerangka pengetahuan yang bertugas untuk melenyapkan kehampaan diri dan permainan topeng, dari arah lain untuk memikirkan bagaimana menutupi esensi pernyataan benar atau salah. Tetapi, tidak lengkap pernyataan tanpa mewaspadai kebenaran atau menertawakan makna kehidupan. Ia bukanlah susunan pernyataan tentang nilai, yaitu nilai kehidupan yang mengalami kemerosotan dibandingkan pemikiran diskursif yang menandai akhir dari nalar, melengkapi pernyataan baru tentang pencarian kebenaran dan pembicaraan sejati. Karena bukan mode kehidupan yang diuji, melainkan pembentukan kebenaran atau pengetahuan. Apabila kita terlibat secara langsung atau tidak dalam pembicaraan tentang kehidupan yang mendasar, kita berupaya untuk tidak menunda pembicaraan tentang ‘kehidupan sejati’ dengan segala kemungkinan diuji melalui permasalahan bertubi-tubi datang silih berganti. Bagaimana ‘kehidupan sejati’ dianggap benar? Mengapa kita mempermasalahkan dan menganggap penting ‘kehidupan sejati’ dalam pemikiran? Pembicaraan yang meragukan kebenaran tentang kehidupan sejati sejauh perjalanan hidup mengingatkan kita tentang kehidupan tidak sekedar permasalahan makan dan pernafasan.

Dalam kehidupan sejati, kita makan dengan menggunakan organ pencernaan, memadatkan wujud pemuasan hasrat atau pemenuhan libido. Mungkin ada sesuatu yang lebih dicari seseorang dalam kehidupan, dimana hasrat dan fantasi sebagai motif adalah hasrat dan fantasi yang terarah atau terkendali dari dirinya sendiri demi pemenuhan kehidupan sejati. Terdapat ungkapan lama. “Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan sebagai kehidupan”. Kehidupan sejati tanpa kalender yang besar dari aktivitas keseharian dari kehidupan.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments