Home Mimbar Ide Merawat Jarak di Bumi

Merawat Jarak di Bumi

0
Fitri De Coresa

Oleh: Fitri De Coresa

Ini cerita kemarin,
tentang senyum yang mudah terlukis di bumi kita.
Cukup dengan meneguk teh beramai-ramai untuk merasakan damai,
bahkan sekedar bertukar sapa, bersalaman, kemudian saling merangkul sesama karib, kita sudah bisa bahagia, bukan?

Berbeda dengan hari ini.
Kita begitu sulit merencanakan temu,
tak bisa menjadi tamu,
karena sedang sibuk membincang satu tema yang sesekali membuat jemu.

Melangkah hari ini seperti mengeja ketakutan dari berbagai penjuru.
Ada resah dan rusuh yang ikut mengendap di banyak pikir.
Untuk saling menyapa pun, kita takut, apalagi mendekat.
Yah, untuk sementara, kita harus tabah,
menikmati teh sendiri-sendiri,
membaca buku sendiri
di rumah sendiri.
Sembari bernostalgia,
di kala kita dengan bebas melancong ke berbagai tempat tanpa risau,
menikmati panorama di pinggir pulau,
dan melingkar bersama kawan mencicipi makanan beragam menu.
Indah bukan?
Tentu saja.

Yah, inilah cerita kita sekarang, di bumi pertiwi yang sedang berjuang meredam duka, mencari banyak solusi dari satu masalah, berjuang mengambalikan senyum yang sedang dikurung nestapa, dan merenggangkan jarak yang sedang dipersempit oleh ketakutan.

Kita memang sedang merawat jarak, tapi tenang saja, ada harapan dan doa yang bisa mendekatkan.
Mari ucapkan,
“Lekas sembuh bumiku”
“Lekas sembuh bumiku”
“Lekas sembuh bumiku”

Majene, 16 April 2020

*) Puisi ini dibacakan pada saat diskusi nasional dengan tema ” Bisakah Ekonomi Stabil ditengah Pandemi Covid-19?” yang diselenggarakan oleh Public Policy Network pada tanggal 16 April 2020

Facebook Comments
ADVERTISEMENT